Mengapa Lafadl Menerbitkan A Small Place?

Minggu, 5 November 2006

Oleh: Heru Prasetia (Anggota Tim Kerja Lafadl)

Saya mendapatkan buku A Small Place ini dari seorang teman bernama Kate Skillman. Ia seorang ekspatriat yang sekitar dua tahun silam tinggal di Jogja, mengajar bahasa Inggris di UGM. Saat saya berkunjung di kediamannya di perumahan Sekip sekitaran UGM, kami ngobrol tentang sastra Amerika Latin. Lentas ia menyodorkan buku karya Jamaica Kincaid ini. Bukunya tipis. Tak butuh banyak waktu untuk melahapnya. Ia menyebutnya sebagai buku yang memaparkan kondisi poskolonial dengan bahasa yang enteng dan renyah khas karya seorang sastrawan. Saya langsung tertarik untuk membaca buku itu. Sebab, sejauh yang saya tahu, berbagai tulisan tentang poskolonialisme selalu disajikan dengan paparan yang rumit. Entah kebetulan entah tidak, saya saat itu memang sedang memburu naskah populer tentang poskolonialisme. Banyak memang novel poskolonial, tapi biasanya tebal-tebal. Padahal, saya tahu, Lafadl tak mampu mengongkosi penerbitan buku-buku tebal semacam itu. Karena itu pulalah saya mencari naskah tipis namun berbobot. Akhirnya, saya putuskan untuk meminjam buku itu—belakangan buku itu tak pernah kembali pada Kate, sebab ia memutuskan untuk menghadiahkan buku itu pada saya.

Buku Kincaid ini bukan novel bukan pula cerpen. Ini adalah sebuah esei, sebuah narasi. Di buku ini Kincaid bercerita tentang Antigua, sebuah pulau seluas sembilan kali dua belas mil di British West Indies. Antigua adalah tempat lahir Jamaica Kincaid. Di tempat yang sangat indah inilah Kincaid dibesarkan. Antigua, kini adalah sebuah tempat pariwisata favorit di kepulauan Karibia. Ia punya keindahan alam luar biasa—langit cerah tanpa awan, lautan biru, dan sunset yang mengagumkan. Tapi apa yang tidak bisa dilihat orang—sebagai turis—adalah korupsi yang merajalela, berbagai sekolah dan rumah sakit yang bobrok, dan kemiskinan yang parah. Inilah yang disebut Kincaid sebagai warisan masa-masa kolonial yang memalukan. Kincaid memang menulis seolah sedang bicara dengan seorang turis—orang yang tidak sedang hendak berpikir terlalu serius dan rumit, orang yang sedang ingin menikmati indahnya dunia. Bagi Kincaid, apa yang mereka nikmati adalah semacam kutukan bagi penghuni tempat penuh kenikmatan tersebut. Seorang turis kulit putih yang membaca buku ini di perjalanan turistiknya pasti akan merasa masygul. Itulah barangkali mengapa Dictionary of Literary Biography menyebut buku ini sebagai an antitravel narrative. Saya sendiri membaca buku ini pada konteks-situasi yang bisa membangkitkan perasaan semacam itu, kendati saya bukan kulit putih (dan secara literal, kulit saya memang tidak putih hehehe…). Saya melahap tulisan Kincaid ini ketika sedang menemani istri saya mengikuti Ubud Literary Festival di Bali. Betapapun, Bali merupakan surga pariwisata di negeri ini. Nyaris seluruh denyut nadi kehidupan Bali didedikasikan untuk pariwisata. Membaca A Small Place di tempat seperti Bali membuat saya bisa merasakan atmosfir yang melingkupi Antigua sebagai sesama tempat tujuan wisata. Pada pariwisata atau turismelah kita bisa menyaksikan atau merasakan hubungan antara colonizer dan colonized di masa kini dengan sangat kentara. Dan bukankah dahulu Nusantara juga dicitrakan sebagai mooi indie yang menawan hati orang-orang kaya di Belanda?

Selesai membaca saya punya keyakinan bahwa buku ini harus diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Sebab, menurut saya, kisah Antigua ini sedikit banyak juga mencerminkan sejarah sosial negeri-negeri terjajah, termasuk Indonesia. Yakni pengalaman menjadi obyek yang selalu dipandang, dicatat, diteliti, dan bahkan diciptakan oleh pihak lain. Kolonisasi melahirkan jejak ketertindasan yang akut. Masyarakat yang pernah dijajah hampir selalu punya kesulitan untuk lepas dari bayang-bayang pengalaman kolonisasi. Masyarakat bekas jajahan seperti tak mengenal diri mereka sendiri, sebab narasi tentang diri mereka telah ditulis, dicatat, kemudian disajikan (direpresentasikan) nyaris seluruhnya oleh colonizer. Saya kira tak perlu lagi diberikan contoh mengenai hal ini. Anda pasti sudah terlalu sering mendengar betapa semua sendi dan sisi kehidupan masyarakat negeri ini pernah dicatat, diteliti, dan ditulis oleh ”orang lain”. Catatan dan tulisan ini kemudian secara ajaib dianggap sebagai pengetahuan, sebagai kebenaran, yang harus ditaati hidup dan mati. Frasa Jamaica Kincaid di buku ini yang selalu saya ingat adalah: Kalian mencintai pengetahuan sehingga ke mana pun kalian pergi, kalian pasti membangun sekolah dan perpustakaan (ya, dan di kedua tempat inilah kalian mengubah atau menghapus sejarah kami dan mengagungkan sejarah kalian)….” . Sebuah ungkapan satiris sekaligus lugas menggugat hubungan timpang yang dibangun kolonisasi dan fase sesudahnya. Buku ini memang penuh dengan ungkapan keras dan lugas. Kita bisa merasakan kemarahan yang dikandung hampir di setiap alinea. Coba simak kalimat yang juga tertuang di A Small Place berikut ini “Have you ever wondered to yourself why it is that all people like me seem to have learned from you is how to imprison and murder each other, how to govern badly, and how to take the wealth of our country and place it in Swiss bank accounts? Have you ever wondered why it is that all we seem to have learned from you is how to corrupt our societies and how to be tyrants? You will have to accept that this is mostly your fault” (p 34-35).

Ketegasan dan kelugasan bahasa Kincaid memang tidak membuat semua orang suka. Saya sempat membaca review pembaca di amazon.com (lihat di sini) yang mengutuki Kincaid karena bahasanya yang kasar dan cenderung menyalahkan orang kulit putih. Penulis review tersebut merasa dipersalahkan atas kesalahan yang tidak dilakukannya. Ia menilai Kincaid terlalu menyamaratakan semua orang kulit putih. Buku A Small Place ini memang bukan buku yang diurapi dengan puja-puji sebagaimana buku-buku Jamaica Kincaid lainnya seperti Annie John yang terpilih sebagai salah satu dari tiga finalis international Ritz Paris Hemingway Award pada tahun 1985, At the Bottom of the River yang dinominasikan pada PEN/Faulkner Award dan memenangkan Morton Darwen Zabel Award dari the American Academy of Arts and Letters, atau My Brother yang menjadi nominasi National Book Award pada tahun 1997. A Small Place justru banyak dikecam para kritikus karena berisi kata-kata lugas penuh kemarahan. Richard Gottleib, editor New Yorker di tahun 1980an, menyebut A Small Place “terlampau penuh amarah,” dan menolak memuatnya di majalah itu. Ketika dipublikasikan sebagai buku pada 1988, buku ini kembali memicu kontroversi. Kritikus Isabela Fonseca menyatakan bahwa “kekuatan argumen Kincaid malah terkurangi oleh semangat tempurnya…. nada ofensifnya juga dihancurkan oleh bentuk esainya yang kacau.” Kendati demikian, Kincaid tidak pernah menyesalinya. Pada sebuah wawancara, Kincaid malah mengatakan bahwa ia justru lebih senang ketika banyak review mengatakan A Small Place begitu penuh kemarahan, sebab menurutnya “langkah pertama untuk menyatakan diri terdapat dalam amarah….” Meskipun banyak dihujat atas nada “marahnya” tersebut, muatannya yang jujur dan bentuknya yang liris membuat buku ini tetap sangat memikat. Barangkali kekuatan utama Kincaid di buku ini adalah kejujuran, atau apa yang oleh Susan Sontag disebut sebagai “emotional truthfulness” (lihat di sini).

Kejujuran inilah yang menjadikan A Small Place tetap layak dibaca dan dinikmati. Memang kata-katanya yang lugas tidak akan memikat hati orang yang senang dengan metafora dan kata-kata indah, namun bukan berarti narasi yang ditulis Kincaid ini tidak bernilai sastra. Kekuatan metaforisnya justru terletak pada nada geram dan marah tersebut. Dengan suatu cara, buku ini bahkan mampu mendedahkan sebuah proses besar bernama kolonisasi dan akibat ikutannya tanpa terjebak pada kekenesan nasionalis yang rapuh. Dengan membuncahkan kemarahan, Kincaid memekikkan perasaan terpendam yang ada di hati masyarakat terjajah sehingga perasan pembaca akan terbangkitkan, terlebih pembaca yang punya kesadaran sosial serupa. Keberatan pembaca di amazon.com tadi menurut saya justru menunjukkan kekeliruan dalam memahami tulisan Kincaid ini. Ia menganggap tulisan Kincaid sekadar ditujukan secara personal kepada pembaca sehingga ia gagal memahami gugatan mendasar Kincaid atas peradaban yang pernah dan sedang dibangun bangsa kulit putih secara umum. Ia juga tidak menyadarai bahwa yang digugat Kincaid bukan cuma masa lalu kolonisasi yang kelam, namun juga kekinian poskolonial yang tak kalah mencekam. Dan, barangkali, ungkapan yang paling memungkinkan untuk menjelaskan situasi poskolonial masa kini hanyalah dengan kemarahan. Pada titik ini pulalah Kincaid hendak menegaskan diri sebagai pribadi yang bisa bersuara, pribadi yang bisa menyuarakan dirinya sendiri.

Saya dan kawan-kawan Lafadl merasa bahwa buku ini sangat layak untuk diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Visi Kincaid dalam buku ini patut untuk kami sokong. Saya, dan juga kawan-kawan Lafadl lainnya, saya kira, seperti disuntik semangat baru oleh buku ini. Dan itulah yang terpenting dari buku ini: menyuntikkan semangat. Sejak sebelum proyek ini berjalan kami sadar bahwa buku ini bukan buku populer yang akan diserbu pembeli, namun karena kami merasa buku ini perlu dibaca khalayak pembaca buku di Indonesia maka kami nekat dan penuh semangat tetap menerbitkannya. Sekitar awal tahun 2005 kami sepakat untuk memulai proyek penerbitan buku ini. Penerjemahan kami serahkan pada Ita Iftitah, sementara saya didapuk sebagai penyelaras bahasa. Dimas, seperti biasa, merancang desain cover dan lay-out buku. Bosman Batubara dipercaya untuk memperbaiki huruf-huruf yang keliru. Penuangan huruf kami serahkan ke percetakan Mas Gandung di Kasihan, Bantul, Jogjakarta. Sekarang buku tersebut telah beredar dan barangkali Anda telah pula membacanya.

Dan tidak ada yang lebih membahagiakan saya, dan juga kami, selain apresiasi pembaca atas buku yang kami terbitkan ini.

 

 

One Response to “Mengapa Lafadl Menerbitkan A Small Place?”

  1. luluk Says:

    saya adaah mahasiswi sastra inggris ugm yg dulu pernah diajar oleh miss kate skillman. dia memang dosen yg menyenangkan,cara mengajarnya tidak seperti kebanyakan dosen di jurusan saya. dan tentu saja dia baik dan cantik. bahkan di pertemuan terakhir kelas kami, dia mambawakan kami kue (brownies ata apa saya lupa)yg katanya dia buat sendiri.
    apakah mas heru masih berkabaran dgn nya?

    saya sudah membaca a small place karya jamaica kincaid. sebenarnya dulu, saya akan menjadikannya objek materi skripsi saya (saya ikut tim penelitian dgn dosen yg kajiannya mengenai poskolonialisme), tapi dosen saya ingin fokus pada karya sastra posko ber setting indonesia dan india. maka saya diberi jatah novel berjudul the islands karya albert alberts (penulis belanda)-sudah baca belum mas?sudah ada terjemahannya belum ya, kalo mas tahu?
    saya sendiri dulunya kurang tertarik dgn a small place, tp setelah baca tulisan mas ini, saya berpikir utk membaca ulang karya itu.memang kajian poskol sedang banyak dibicarakan. hal itu menarik apalagi kita sebagai negara yang pernah dijajah bangsa lain.dari obrolan2 dgn dosen,memang terasa betapa trauma ata jejak2 kolonial tidak begitu saja terhapus siring dgn merdekanya negara kita. saat ini, justru praktik2 kolonial dilakukan oleh bangsa kita sendiri dengan berbagai macam bentuknya.
    mau tanya, apa mas heru jg tertarik dgn kajian poskolonialisme?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: