Jejak Islamisasi dalam Lengger

Selasa, 10 Oktober 2006

Oleh: Luthfi Makhasin
(Anggota Forum Lafadl, Faculty of Asian Studies [Southeast Asian Studies] The Australian National University, Canberra-ACT, Australia)

Senin malam, 28 Agustus 2006, Alun-alun Purwokerto gemerlap menyambut tamu-tamu yang datang dari penjuru Jawa Tengah. Panggung besar di tengah alun-alun didominasi warna hijau dengan dekorasi berbentuk kubah masjid lengkap dengan menara di kedua pinggirnya. Malam gemerlap itu menandai dibukanya MTQ Pelajar XXII tingkat Jateng. Suasana hingar-bingar itu makin lengkap ketika 125 pelajar putri SMA se-Purwokerto naik ke panggung pembukaan. Berpakaian kebaya warna-warni dengan kerudung rapat dari bunga melati yang melingkar di kepala, mereka tidak membaca Al Qur’an atau bersholawat sebagaimana lazimnya dalam pembukaan acara semacam itu, tapi menari. Mereka menari lengger gipyak, sebuah tari khas Banyumas tempo doeloe. Mereka memang cuma tampil 10 menit, tapi itu sudah cukup untuk membuat suasana alun-alun malam itu menjadi semarak oleh hadirnya ribuan penonton.

Kehadiran lengger gipyak dalam acara MTQ mungkin sebuah perpaduan unik tapi juga aneh, paling tidak untuk orang Banyumas. Bukan apa-apa. Sejauh yang saya tahu, lengger bagi orang Banyumas tidak pernah diberi embel-embel seni islami jika tidak mau disebut malahan sangat tidak Islami. Konon katanya, lengger sudah berkembang sejak sangat lama di Banyumas. Ada yang bilang kesenian ini dikenal sejak kekuasaan Sultan Agung, masa kerajaan Mataram di abad ke-17. Tapi ada juga yang menganggap sejarahnya lebih kuno, yaitu sejak masa kejayaan Pasirluhur, sebuah kadipaten kecil independen – terletak kurang lebih 3 kilometer barat kota Purwokerto sekarang – dibawah pengaruh kerajaan Hindu Pajajaran, lebih dari dua abad sebelumnya.

Menjamurnya seni Islam seperti hadroh, sejak awal 90-an mengikis popularitas lengger yang dianggap sebagai seni tradisional non-Islami ini. Menariknya, lengger memang bertahan hidup hanya di daerah yang biasanya tidak punya tradisi Islamisasi yang kuat, seperti Somagede, Kalibagor, dan Jatilawang. Itupun dengan intensitas yang semakin jarang terlihat. Seperti tayub dan ronggeng, lengger dalam pakem aslinya biasanya dimainkan para penari wanita berpakaian ketat sebatas dada dan badud – seorang penari laki-laki sebagai pengiring yang muncul di tengah pertunjukan – dengan iringan musik angklung. Kesan tidak Islami biasanya dikarenakan beredarnya minuman ciu beralkohol di tengah para penggemarnya dan daya tarik seksual yang ditampilkan para penarinya. Menguatnya pengaruh Islam tidak saja membuat lengger kehilangan citra yang kadung melekat ini. Di banyak daerah di Banyumas, lengger bahkan hanya tinggal cerita belaka alias sudah punah.

Bagi orang luar Banyumas, penari lengger berjilbab melati mungkin sekedar bunga-bunga perhelatan yang tidak bermakna. Tapi bagi orang Banyumas seperti saya, ini adalah tontotan yang tidak terlupakan. Tampilan lengger gipyak oleh para penari berjilbab bunga melati malam itu bagi saya mempertontonkan dua hal yang sudah dan sedang berubah dari identitas Banyumas. Identitas tradisional Banyumas sebagai orang Jawa melebur dalam identitas modernnya sebagai Muslim yang taat. Dengan tampilan yang tidak mengikuti pakem, malam itu lengger seperti “dipaksa” untuk membawa dua identitas ganda ini kepada penontonnya. Di satu sisi lengger membawa beban sebagai seni warisan leluhur dan karenanya non-Islami, sementara di sisi lain, jilbab melati yang dikenakan penarinya ingin membawa pesan tentang warna Islam dari kesenian ini.

“Reinvented Tradition” dan Reproduksi Simbolik

Dalam diskusinya tentang tayub, Widodo menjelaskan bagaimana negara Orba berperan penting dalam mengintervensi kehidupan kesenian di Indonesia. Menurutnya, negara Orba melakukan proses homogenisasi dan standardisasi sistemik untuk mempertontonkan kekuasaannya yang hegemonik kepada masyarakat. Di sisi lain, diskusi Hefner tentang tayub di Jawa Timur mengaitkan pasang surut popularitas tayuban dengan menguatnya pengaruh Islam sejak masa Orba. Dihadapkan pada kuatnya tradisi tayuban di tengah komunitas kejawen, kalangan Islam bersiasat untuk mengakomodasi seni tradisi ini dengan memberi nilai Islami pada pementasannya.

Dua pandangan di atas memang memberikan penjelasan mengapa kesenian tradisi mengalami pasang-surut pada masa Orba. Pandangan itu juga menjawab persoalan bahwa ranah seni dan budaya secara umum adalah pada dasarnya adalah medan negosiasi dan konflik. Dalam prosesnya ini melibatkan banyak aktor dengan preferensi nilanya masing-masing. Namun demikian, pandangan ini terlalu dipengaruhi oleh paradigma “who gets what” dan mengabaikan fakta sederhana bahwa ranah seni dan budaya juga sebenarnya menyimpan otonomi relatifnya sendiri yang berbeda – meski berkaitan erat – dengan ranah perjuangan kekuasaan (baca: politik).

Kasus lengger di Banyumas menunjukkan bahwa klaim kontinuitas dengan masa lalu bercampur dengan klaim lain yang lebih kontemporer sifatnya, yaitu warna Islami. Meminjam istilah Hobsbawm, lengger adalah tradisi yang ditemukan kembali (reinvented tradition) untuk membawa beban identitas baru yang bersifat lokal. Menariknya, pengukuhannya sebagai kesenian tradisi menemukan kesahihannya justru pada tampilan kebaruannya daripada klaim kekunoannya itu sendiri. Penggunaan panggung dan televisi – Banyumas memiliki stasiun TV lokal bernama Banyumas TV – sebagai media, gaya koreografi yang tidak terlalu menonjolkan seksualitas wanita, tiadanya badud, tampilannya massalnya (125 penari) dan penggunaan ronce bunga berjilbab, kesemuanya adalah baru dan tidak dikenal dalam pertunjukkan lengger sebagaimana yang dikenal orang Banyumas selama ini.

Dalam kasus lengger gipyak, persoalannya bukan pada apakah Islam mengapropriasi tradisi lokal ataupun sebaliknya, karena ke-Islaman dan ke-banyumasan sendiri tidak lagi dipahami sebagai dua entitas nilai yang terpisah, bukan untuk semua tentu saja, tapi hampir pasti untuk sebagian besar orang di wilayah Jawa tengah bagian selatan ini. Islam yang mbanyumas dan mbanyumas yang Islam adalah dua hal yang sama dan sebangun. Identifikasi seperti ini banyak dipengaruhi proses Islamisasi bertahap yang dipelopori kaum tarekat, sebuah tradisi keagamaan yang sangat mengakar di Banyumas. Dan di Banyumas, tidak ada tempat yang lebih tepat untuk mengamati hal ini selain di Sokaraja.

Tarekat dan Lengger: Islam dan Otonomi Kultural

Tersebutlah nama seorang pemuda bernama Affandi Ilyas yang sangat menggemari pertunjukkan lengger. Konon, pada masa mudanya dia tidak pernah melewatkan barang satu kalipun pertunjukkan lengger dari tledek kenamaan asal Sokaraja Kidul. Sang pemuda tadi adalah orang terpandang di kota kecilnya Sokaraja. Dia adalah putra sulung Syekh Muhammad Ilyas, pendiri dan guru tarekat Naqsabandi-Kholidiyah di Sokaraja Lor. Nasab keluarganya mengerucut pada Pangeran Diponegoro dari garis ayah dan keluarga bupati Banyumas dari garis ibu. Ayahnya, Syekh Muhammad Ilyas, adalah cicit pangeran pemberontak asal Jogja itu, sementara ibunya adalah putri Penghulu Landraat Abubakar. Ketika ayahnya meninggal pada tahun 1914, Affandi Ilyas menggantikan kedudukan ayahnya sebagai guru tarekat dan kemudian lebih dikenal sebagai Kyai Haji Raden (KHR) Affandi Ilyas. Kedudukan sebagai kyai itu tidak memutus kecintaannya pada kesenian lengger, karena kemudian dia menikahi dan memboyong si tledek kondang asal Sokaraja Kidul itu menjadi istrinya.

Peristiwa pernikahan KHR Affandi Ilyas dan sang tledek ini menandai gelombang pertama masuknya pengaruh Islam di wilayah Sokaraja Kidul, daerah yang dikenal sebagai bastion Jawanisme. Islamisasi ini dimulai dari lingkungan keluarga dekat sang tledek dan kemudian menyebar ke keluarga jauhnya yang lain. Sejak peristiwa sang tledek yang menjelma menjadi istri kyai pada 1900-an inilah, pengaruh tarekat sedikit demi sedikit menyebar di kalangan penduduknya. Gelombang kedua Islamisasi terjadi pada tahun 1979 ketika Kyai Abdul Kohar (Kyai Abdul Kohar adalah cucu Kyai Ahmad Syatibi, seorang tokoh ulama Banyumas yang paling disegani dekade 1930an sampai 1960an. Dia menikah dengan seorang putri Kyai Ahmad Shodiq, guru tarekat Syadziliyah dengan jaringan terluas di Banyumas) barhasil mendirikan langgar pertama – belakangan berkembang menjadi masjid pertama dan masih satu-satunya – di Sokaraja Kidul.

Sokaraja Kidul adalah sebuah kasus menarik, meski tidak tipikal, dalam proses Islamisasi di daerah Banyumas. Perkawinan KHR Muhammad Ilyas dan sang tledek di atas mencerminkan perkawinan antara seni tradisi (lengger) dengan tarekat, sebuah tradisi keagamaan yang juga sama tuanya dengan tradisi kesenian itu sendiri. Perkawinan antara seni tradisi dan tradisi keagamaan ini pada perkembangannya menciptakan proses Islamisasi yang sangat panjang, penuh negosiasi, dan adakalanya juga konflik simbolik.

Sampai dengan 1970-an, Sokaraja Kidul masih mampu mempertahankan otonomi relatif kulturalnya menghadapi gelombang Islamisasi massif yang dipelopori guru-guru tarekat pasca naiknya Orba. Sementara lengger tetap hidup sebagai ekpresi popular berkesenian, kalangan tarekat pun mampu membangun klaim tentang keislaman Sokaraja Kidul, meskipun dalam tataran yang paling nominal. Bagi kaum tarekat yang menekankan pemahaman Islam sebagai praktek pemurnian hati, praktek sinkretisme lahiriah populer seperti yang ditunjukkan dalam lengger tetaplah bisa ditoleransi. Ini tidak berarti bahwa tarekat tidak perduli dengan syariah sebagaimana sering dituduhkan kalangan modernis. Dalam ajaran tarekat, sebuah niat yang baik dan ikhlas bahkan bisa merubah tindakan yang keliatan sangat tidak berarti menjadi bernilai ibadah. Disamping itu, orientasi pada hakikat beragama membuat kalangan tarekat lebih berhati-hati untuk melakukan penilaian terhadap tindakan yang secara kasat mata seperti bertentangan dengan syariat.

Dalam konteks semacam itulah, lengger tidak kehilangan popularitas untuk waktu yang cukup lama di Sokaraja Kidul. Ketika lengger akhirnya benar-benar memudar pada akhir 70-an, ini lebih banyak disebabkan oleh kegagalannya sendiri untuk mereproduksi dirinya beradaptasi dengan perubahan selera estetik daripada kekerasan simbolik yang dipaksakan oleh kalangan tarekat. Kegagalan regenerasi di kalangan seniman lengger juga adalah sebab lain pudarnya popularitas kesenian ini. Menariknya, pudarnya lengger kemudian memicu popularitas kesenian tradisi yang lain seperti wayang kulit dan ebeg (nama lain jathilan di Banyumas).

Otonomi kultural relatif yang dinikmati komunitas kejawen Sokaraja Kidul juga tidak bisa dilepaskan dari konteks ekonomi-politik unik desa ini. Berbeda dengan desa lainnya dimana komunitas bisnis Muslim cukup dominan, Sokaraja Kidul adalah basis pengusaha non-Muslim etnik Tionghoa. Di samping itu, kalangan kejawen juga punya akar ekonomi yang kuat melalui melalui bisnis pembuatan gerabah dan keramik. Pekunden, sebuah grumbul di Sokaraja Kidul, dikenal sebagai basis abangan paling kuat sekaligus daerah utama penghasil keramik dan gerabah tanah liat di kota Sokaraja. Dominasi pengusaha non-Muslim ini menyediakan patronase ekonomi bagi penduduk lokal Sokaraja Kidul.

Secara politik, Sokaraja Kidul juga adalah daerah terkuat kaum kejawen. Sampai dengan awal 2000-an, Sokaraja Kidul bahkan masih dipimpin seorang tokoh kejawen yang bernama Sukidi. Menurut informasi yang saya dapat, pada masa sebelum dan selama masa jabatannya, Sukidi adalah seorang guru kejawen yang cukup dihormati di Sokaraja (tokoh yang lain bernama Mbah Danu di Kauman, Sokaraja Tengah). Konon katanya, rumahnya setiap malam Jumat Kliwon ramai dikunjungi murid-muridnya yang datang dari berbagai penjuru Banyumas.

Menguatnya Ortodoksi dan Surutnya Lengger

Sejak Orba berkuasa, Sokaraja mengalami perubahan mendasar dalam hidup keberagamaan dan pola aktivitas ekonomi. Berbagai perubahan ini membawa pengaruh juga terhadap ekspresi berkesenian masyarakatnya, terutama lengger. Secara keagamaan, dominasi Naqsabandi digantikan oleh Syadziliyah. Di sisi lain, liberalisasi industri tekstil sejak Orba telah memukul basis ekonomi para pengusaha batik lokal. Beberapa pengusaha batik yang paling terkemuka kebetulan juga adalah guru-guru tarekat.

Berbeda dengan Naqsabandi yang disebarkan dan dianut kalangan tua, Syadziliyah banyak menarik pengikut dan dipimpin kalangan muda. Pengikut Syadziliyah biasanya dari kalangan terdidik dengan tingkat melek agama yang lebih tinggi. Ini membuat mereka lebih berorientasi syariah dan lebih rendah toleransinya terhadap praktek sinkretisme agama.

Penganut tarekat selalu menganggap afiliasi pada tarekat apapun asal mu’tabar pada dasarnya baik. Tapi ada kecenderungan bahwa alasan utama orang mengikuti Syadziliyah karena menganggap tarekat ini memiliki praktek ibadah yang jauh lebih sederhana dibandingkan Naqsabandi. Misalnya, Naqsabandi mewajibkan pengikutnya melantunkan dzikir sampai belasan ribu dalam sehari. Sementara Syadziliyah hanya beberapa ratus saja.

Perubahan afiliasi tarekat pada tingkat tertentu karenanya mencerminkan upaya reproduksi kesalehan yang sudah kadung melekat sebagai identitas Sokaraja. Hal ini juga menunjukkan – meminjam istilah Durkheim – kebutuhan moralitas kolektif baru di tengah kondisi sosial-ekonomi yang berubah.

Menguatnya dominasi Syadziliyah sejak akhir 60-an memperkuat ortodoksi keagamaan yang semakin kurang toleran terhadap aktivitas kultural sinkretik seperti lengger. Tentu saja ini tidak mengatakan bahwa proses ini sudah selesai dan menemukan bentuknya yang definitif. Sebaliknya ini adalah proses yang panjang dan masih berlangsung sekarang ini. Meskipun lengger sudah hilang sejak akhir 70-an tapi aktivitas kesenian seperti ebeg (jathilan) masih populer sampai tahun 90-an. Di Sokaraja Kidul misalnya, ebeg sangat populer dan hampir selalu dipertontonkan pada perayaan besar desa. Aktivitas ini surut dan bahkan hilang sama sekali antara akhir 90-an dan awal 2000-an.

Ada beberapa hal yang menjelaskan mengapa aktivitas kultural ini surut, politik dan ekonomi. Pada awal 2000-an, penganut kejawen Sokaraja kehilangan dua tokoh panutannya, Mbah Danu (Kauman, Sokaraja Tengah) dan Sukidi (Sokaraja Kidul). Mbah Danu meninggal karena usia lanjut, sementara yang terakhir diberhentikan dengan tidak hormat dari kedudukannya sebagai kepala desa Sokaraja Kidul karena kasus penyelewengan jabatan. Saat ini lima kepala desa di kota Sokaraja bisa dikatakan berlatar belakang keluarga santri. Hilangnya dua orang berpengaruh ini membuat kalangan kejawen kehilangan bukan saja patron politik tapi juga ekonomi. Setelah mereka tidak ada lagi tokoh yang mampu dan mau mensponsori pentas jathilan, ebeg apalagi lengger.

Secara ekonomi, industri kerajinan gerabah dan keramik Pekunden di Sokaraja Kidul mengalami kebangkrutan permanen. Di samping itu, berkembangnya bisnis getuk goreng telah menggantikan batik – meski batik juga masih tetap hidup – sebagai bisnis paling menguntungkan bagi para pengusaha Muslim pribumi. Berkibarnya getuk goreng ASLI milik Haji Tohirin memicu usaha serupa dari yang lain. Dengan produksi sekitar 300 ton per bulan, bisnis ini beromzet milyaran rupiah perbulan dan menyedot ribuan tenaga kerja lokal. Getuk goreng memunculkan fenomena “shared-wealth” dalam ekonomi lokal Sokaraja. Tapi yang lebih penting lagi, getuk goreng memungkinkan pengusaha Muslim pribumi untuk bersaing dengan para pengusaha Tionghoa, salah satu patron ekonomi kelompok kejawen Sokaraja.

Bagi kalangan Islam, faktor ekonomi-politik itu meneguhkan klaim tentang keunggulan tata nilainya atas pengikut kejawen. Kalangan tarekat biasanya mengaitkan ini dengan konsep keberkahan, sebuah karunia yang ilahiyah sifat dan asalnya. Inilah yang disebut Bourdieu sebagai kekerasan simbolik. Tapi akan menyederhanakan persoalan jika kemudian kita mengatakan bahwa perjuangan bagi ortodoksi Islam berhenti.

Secara keagamaan penganut kejawen mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai “Islam sing neng ati”, tanpa terikat pada ritual wajib harian. Pengabaian ritual wajib ini menunjukkan resistensi mereka terhadap kekerasan simbolik yang coba dipaksakan oleh kalangan Islam. Bagi mereka identitas asli Banyumas justru melekat dalam berbagai ekpresi kultural yang coba dihilangkan oleh Islam seperti lengger, ebeg/jathilan dan lainnya. Sementara bagi kalangan Islam, mereka pun memaklumi bahwa tanpa mengakomodasi kalangan kejawen, proses Islamisasi tidak mungkin berlanjut. Bagi kalangan Islam, kemenangan politik dan ekonomi itu harus tercermin dalam kemenangan simbolisme Islam seperti shalat, mujahadah, manakib, tahlilan, dll. Lengger berjilbab adalah salah satu contoh saja dari bentuk akomodasi (kooptasi???) itu.

Untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi saat ini di Banyumas kiranya sangat tepat apa yang dikemukakan Lysloff berikut, bahwa “[banyumas culture] represent[s] a larger struggle to maintain ethnic identity against a history of persistent and continuous cultural negotiation with surrounding and impinging groups. It is an identity whose existence today…is as much a matter of reinvention and encounter as it is continuity and survival. (1990:310).”

13 Responses to “Jejak Islamisasi dalam Lengger”

  1. uzer Says:

    Menarik banget paparan Lufi soal lengger Banyumas, yang jalin-berkelindan dengan tarekat, bisnis dan politik lokal. ada satu hal yang mungkin perlu dijelaskan lebih gamblang soal peralihan dari naqsyabandi ke syadziliyah, bagaimana itu bisa terjadi. apakah pemicunya?
    thanks

    uzer

  2. Amin Says:

    Saya sering memahami “Islamisasi” dengan nada positif. Dalam banyak hal apa yang disebut “lokal” sering menyimpan ambiguitas pada dirinya, seperti juga pada “Islam”. Salah satunya praktik-praktik feodalistik dalam bentuk yang tentu saja sudah dikomodifikasi lebih lanjut. Dalam wacana multikulturalisme (sekarang saya sedang gandrung ini), Kymlicka telah menyebut apa yang disebutnya “pembatasan internal” yang dalam pandangan saya kelihatannya sering dipraktikkan dalam institusi atau komunitas yang sifatnya masih “lokal” (baca: belum “Islam). Dalam hal ini saya berpikir modernis, bahwa Islam adalah semacam tradisi pencerahan dalam sejarah Barat. Saya sedang coba gunakan cara pandang ini untuk memahami komunitas Ahmadiyah di Cianjur. Begitukah?

  3. Obi Says:

    Koreografer sekaligus penggagas lengger berjilbab itu adalah Pak Hardi, Kepala SMKI. Seminggu setelah pementasan tersebut ia meninggal dalam kecelakaan mobil. Dari seorang warga Gerduren yang sekarang tinggal di Purwokerto kudapat komentar yang menarik, “Pak Hardi tu kuwalat. Wong Lengger kok diembel-embeli agama”, katanya.(?)

  4. Cablaka Says:

    Kenapa sih budaya lokal harus diperkosa oleh sesuatu yang asing dan sangat bertentangan dengan identitas kelokalan kita. Apakah sesuatu yang bersumber dari budaya lokal mesti dipandang lebih rendah dan tidak sesuai dengan norma (agama).

    Kembalikan lengger pada bentuk aslinya, karena itulah identitas kita sebagai bangsa yang berbudaya. Tidakah mereka tahu bahwa kesenianlah yang menghaluskan budi dan perilaku kita. Kesenian membuat kita sebagai mahluk yang beradab.

    Kenapa mesti tunduk pada nilai-nilai luar yang begitu dipaksakan masuk kedalam tradisi kita. Ingat model pakaian orang dari iklim tropis jelas beda dari iklim sub tropis, apalagi dari iklim gurun.

  5. Lam Yaim Darussalam Says:

    apakah masih dianggap sebagai dzuriyah rosul bila turun dari pihak ibu

  6. ratna Says:

    saya tertarik banget dengan tulisan yang Anda buat. selain karena saya orang banyumas asli, saya juga sedang membuat tulisan tentang lengger dan budaya banyumasan, tapi dalam bentuk novel. saya butuh banyak referensi tentang lengger dan budaya banyumas. kalau boleh saya tahu, mas luthfi ngambil referensinya dari buku apa ya?
    atau mas luthfi bisa kasih saya tulisan lain yang berkaitan dengan hal ini. kalau ada bisa kirim ke email saya. (ratnamutumanikam77@yahoo.co.id). atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.


  7. saya murid naqsyabandi sokaraja,
    setau saya kesenian jawa memang di jadikan jalan untuk penyebaran agama islam termasuk lengger,saya senang banget ada artikel seperti ini cukup memberi gambaran untuk toleransi kita antara kesenian dan agama.terima kasih………
    oia sodara LAM YAIM,meskipun nasab itu dari ibu tetap termasuk dzuriyah rosul cuma dia tidak termasuk habib.

  8. Bowo Says:

    Salam kenal semuanya.

    saya Bowo dr Jogja namun leluhur saya dr banyumas.

    ikutan nimbrung ya.

    Budaya adalah cerminan karakter masyarakatnya yg timbul dr pemahaman mereka.
    Setiap masyarakat,etnis apapun punya ekspresi jiwa yg diungkapkan dgn bahasa tubuh seperti seni tari. seni ini kemudian mjadi bagian penting dlm suatu budaya yg mempunyai makna simbolis. lambat laun seni tari bisa mjadi sekedar hiburan utk tontonan turis dan terlupakan oleh masyarakatnya tanpa mengerti makna yg terkandung di dalamnya.
    Yg jadi masalah adalah ketika ada oknum yg menyalahgunakan seni tsb utk sekedar kepentingan komersial tanpa memikirkan akibat buruk yg bisa tjadi pd masyarakatnya atau sengaja mjadikan seni tsb sbg sesuatu yg dpt merusak moral atau keluhuran dr masyarakat tsb.

    mohon maaf klo ada ksalahan tulis atau pendapat saya yg tdk berkenan.maklum saya manusia biasa yg pemikirannya terbatas&mudah salah.

    ngomong”,dlm artikel di atas memang ada yg keturunan Rasulullah Muhammad?

  9. sipoer Says:

    aku seneng bgt busa maca artikel kie,aku wong banyumas asli ya wong jakidul mbah buyutku asli sokaraja,tp aku dewek ora pati ngerti sejarahe jakidul.memeng kuduu ana sing peduli karo sejarahe dewek ben bisa di critakaken karo anak putu kabeh engko2ne.suwun karo sing gawe artikel kie dadi aku bisa ngerti.ya wis salam baen karo kanca2 kaeh sing nang kono…………………………aku sipur sing wis dadi wong surabaya.tp aku tetep ora kelalen karo sing jenenge jakidul.******

  10. Hernandes S. Says:

    menarik. saat ini saya sedang mengumpulkan bahan untuk produksi film saya yang bertema lengger. mohon masukannya. ikana_cine@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: