Titik Terang dari Jalan Pancing

Minggu, 1 Oktober 2006

Oleh: Achmad Uzair (Koordinator Tim Kerja Lafadl) 

Penat yang kurasa kemarin serasa tak berbekas. Laptop berbobot beberapa kilogram di dalam tasku terasa seperti lembaran kertas-kertas sahaja. Jalanku terasa ringan ketika aku melangkah keluar dari ruang dekan Fakultas Ilmu Kependidikan Universitas Negeri Medan (UNIMED), hari ini Rabu 27 September 2006. Diskusiku dengan Pak Ibrahim Gultom benar-benar berjalan seperti yang kuharapkan.

Siang ini aku habiskan waktu dua jam bersama Pak Ibrahim Gultom, dekan fakultas itu. Aku dapatkan namanya dari Bang Maruli. Pak Fadhil Lubis juga sempat menghubungkanku dengannya hari Minggu lalu. Tapi baru hari ini aku bertatap muka dengannya. Kontras dengan bayanganku sebelumnya (tiap kali aku coba hubungi ke nomer pribadinya, hanya Veronica yang menjawab. Smsku pun tak berbalas), Pak Ibrahim tampak seperti figur yang sangat ramah. Dia menanggapi pertanyaan-pertanyaanku secara antusias.

Pertanyaan pertama yang aku ajukan berkait dengan status agama Malim, apakah kepercayaan atau agama. Aku coba hidupkan diskusi dengan kontradiksi antara istilah ”Ugamo Malim” (yang biasa dirujuk dalam penelitian-penelitian tentang parmalim) dan keberadaannya dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai aliran kepercayaan. Dan jawabannya lumayan mengesankan. ”Kita tidak boleh menilai keyakinan Parmalim ini dengan standar agama wahyu,” demikian kalimat pertama diungkapkannya sebagai jawaban. Menurutnya, salah satu kekeliruan utama bangsa ini adalah pada penciutan agama hanya pada 5 agama besar. Padahal, sebelum kedatangan bangsa-bangsa asing yang membawa agama besar itu, bangsa kita sudah beragama. Lagipula, menurutnya ada kekeliruan besar dalam pengertian aliran kepercayaan itu. ”Mestinya aliran kepercayaan itu ya seperti cabang atau sekte dari suatu agama, seperti Ahmadiyah,” jelasnya. Untuk mengatasi kerancuan ini, Pak Ibrahim mengusulkan pembentukan semacam direktorat agama lokal (melengkapi direktorat agama-agama besar lain yangsudah ada) di departemen agama. (Artinya, mestinya harus ada pengakuan terlebih dulu terhadap ajaran Parmalim sebagai ”agama”? Kemudian,jika sudah diakui, keberadaan institusionalnya pun harus dipindah dari yang semula Depdiknas diserahkan kepada Depag). Pak Ibrahim menolak usulku bahwa persoalan agama perlu didesentralisasikan untuk mengatasi keberagaman agama dankeyakinan diseluruh negeri ini. Alasannya, birokrasi di daerah belum tentu siap dan cakap menyelesaikan persoalan keagamaan. Salah-salah malah terjadi kekacauan dalam persoalan ini. Seperti yang terjadi dalam kasus konflik pembangunan tempat ibadah Parmalim di kota Medan ini.

Menurut informasi yang ia peroleh, ijin tempat ibadah itu sekarang ngendon di Walikota Medan. ”kalau walikota berpikiran antropologis seperti kita, persoalannya mungkin sudah selesai,” guraunya. Menurut kabar, tentangan yang paling keras datang dari jemaat HKBP. Ada dugaan muncul kekhawatiran hilangnya pengikut jemaat ini setelah tempat ibadah itu didirikan. (Padahal istilah yang dipake pun bukan balai partonggoan, melainkan parsantian. Perlu dicek apakah kedua istilah ini memiliki perbedaan yang krusial? Apakah pemilihan istilah tersebut bernilai politis?). Menurut Pak Ibrahim, kekhawatiran semacam itu mestinya tidak perlu terjadi. Menyangkut tentang SKB Menteri Agama dan Mendagri yang baru dikeluarkan tahun ini, Pak Ibrahim secara jujur tidak banyak mengetahuinya. Tetapi dia memberikan bottom line berkaitan dengan syarat-syarat pendirian rumah ibadah itu: jika masih mensyaratkan jumlah minimal pengikut untuk pendirian tempat ibadah, peraturan itu berarti tidak menghormati prinsip multikulturalisme. Karena yang minoritas selamanya tidak akan bisa memiliki tempat ibadah. Apalagi di tempat-tempat dimana komunitas Parmalim menjadi minoritas. ”Kalau di Hutatinggi gak ada masalah karena orang-orang disana merasa agama Malim itu agama nenek moyang mereka. Tapi kalo di Medan seperti ini (bermasalah),” ungkapnya.

Kabar dari Bang Shohibul Ansor Siregar (lulusan S2 Sosiologi UGM yang juga meneliti Parmalim) yang belakangan baru ikut bergabung di ruang kantor Dekan, Pak Ibrahim termasuk ”the priest” di kalangan komunitas pengikut agama itu. Sama seperti Bang Iwan, Pak Ibrahim juga mengaku masih sering berkontak dengan warga komunitas ini. Pak Ibrahim sendiri menyatakan lebih banyak memperoleh informasi dari seorang pengikut Parmalim bermarga Sinaga yang pernah menjadi murid langsung dari Raja Mulia Naipospos (dia tinggal di desa Binangalom di pinggiran danau Toba). Katanya, Pak Sinaga ini sering melihat Raja Mulia seolah bercakap-cakap dengan seseorang yang diduga merupakan roh Na Siak Bagi (sebagian menyebut ini adalah nama lain Si Singamangaraja).

Diskusi sepanjang dua jam itu sebenarnya lebih banyak menyoal tentang hak-hak sipil masyarakat minoritas, tema yang hari ini kusodorkan secara optimis kepada Pak Ibrahim ketika ia bertanya tentang fokus penulisanku ini. ”(Pengakuan) hak-hak sipil itu memang yang selama ini mereka perjuangkan,” ujarnya. Tetapi, aku juga coba jelaskan pentingnya mendapatkan info sosial-antropologis tentang komunitas ini dari para peneliti sebelumnya, termasuk Pak Ibrahim. Di antara beberapa info menarik itu antara lain adalah soal genealogi komunitas parmalim di Hutatinggi. Menurutnya, komunitas parmalim di Hutatinggi itu bukanlah keturunan darah dari Si Singamangaraja yang mereka hormati. Keturunan langsung dari Si Singamangaraja yang bermarga Sinambela mayoritas sudah beralih ke agama Kristen. Di Hutatinggi mayoritas penganut parmalim adalah bermarga Naipospos, yang merupakan murid dari Na Siak Bagi. Bagi Pak Ibrahim, perbedaan di antara punguan-punguan (ranting) parmalim tidaklah signifikan.

Meski tak banyak informasi bisa diberikan oleh Pak Ibrahim tentang kontak-kontak person (terutama dari birokrasi) yang bisa kutemui, namun secara umum pertemuan berjalan menggembirakan. Shohibul Ansor Siregar juga memberikan info-info penting seputar hasil penelitian tentang parmalim (seperti penelitian IAIN yang pernah dimuat di jurnal Miqod; kontak person Arifinsah; penelitian di bwh supervisi Usman Pelly yang merupakan proyek penelitian dari Kanwil [Diknas?]). Hal yang paling menggembirakan adalah sambutannya yang hangat. Dia bahkan mengantarkanku hingga ke pintu keluar kantornya. Mungkin itu yang membuat langkahku terasa enteng siang itu.

Perpustakaan USU di saat hujan
27 September 2006
Jam 18.08

One Response to “Titik Terang dari Jalan Pancing”

  1. Maradop Manurung Says:

    Halo mas Achmad………!

    Perkenalkan saya adalah salah satu Penganut Ugamo Malim yg sekarang berdomisili di Batam, saya pegen share dengan mas,! tentunya yg berhubungan dgn ugamo malim.

    Thanks………….!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: