Nyadran di sudut Banyumas

Minggu, 1 Oktober 2006

Oleh: Mokh Sobirin (Pegiat Lafadl)

Siang itu cukup panas, saat kami berkendara menyusuri sungai Serayu yang menunjukkan kilap airnya yang tertimpa sinar matahari. Setelah satu jam berkendara akhirnya Saya sampai di Paruk- kami sengaja menyamarkan nama asli desa. Menurut Kang Tohari, disinilah ia mendapatkan inspirasi untuk menulis trilogi novelnya – sebuah desa yang terletak di kaki bukit yang memisahkan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap. Hamparan sawah yang mengering dengan diselingi pohon-pohon jati yang meranggas menjadi tanda musim kering yang masih betah menunggu hujan.

Jalan tak berlapis aspal membelah perkampungan yang terlihat sepi. Saya dan beberapa teman masuk sampai ke ujung desa. Deretan rumah bentuk limasan yang sebagian atapnya terbuat dari seng telah terlewati. Dua buah mushola yang menyelingi deretan perumahan yang rata-rata tidak berdiniding kayu. Kami tiba di sebuah pertigaan, tepatnya didepan sebuah kompleks pemakaman. Tampak puluhan bahkan ratusan orang dengan pakaian sikep (jas hitam yang tertutup), ikat wulung (ikat kepala berwarna hitam bermotif sidoarum) dan kain jarik yang dililitkan seperti sarung sedang duduk santai di depan pintu gerbang makam. Tak jarang terselip sebilah keris kecil di saku depan melengkapi pakaian adat Banyumasan yang mereka kenakan.

Hari itu tanggal 18 bulan Nyadran, bulan sebelum puasa, akan diadakan prosesi nyadran ke makam Bonokeling. Acara ini diadakan tiap tahun sebagai bentuk penghormatan anak cucu Bonokeling terhadap leluhur mereka. Belum didapat keterangan jelas tentang siapa sebenarnya Bonokeling. Beberapa peziarah yang datang mengaku merupakan keturunan Bonokeling, tetapi mereka mengatakan tidak paham riwayat Bonokeling. Kepatuhan terhadap tuturan orang tua menjadi alasan mereka untuk nyadran tiap tahun. Untuk tahun ini jumlah peziarah yang datang sebanyak seribu seratus lima puluh tujuh orang. Kebanyakan peziarah berasal dari wilayah Kabupaten Cilacap yang rata-rata menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama kurang lebih delapan jam.

Sambil menunggu dimulainya prosesi nyadaran kami ngobrol di warung yang terletak di tengah perkampungan sambil mencari segelas air untuk membasahi kerongkongan yang semakin kering karena panasnya cuaca siang itu. Beberapa peziarah di yang kami temui di warung itu mengatakan bahwa jumlah wong nyadran tahun ini bertambah karena adanya berbagai bencana. “Mereka sekarang sudah eling pesan orang tua.” Kata salah satu daari mereka mengomentari peziarah yang menjadi new comers. Berbagai bencana yang melanda wilayah Cilacap mulai dikaitkan dengan kelalaian orang Jawa untuk menghormati leluhurnya. Seseorang yang kelihatannya paling berpengalaman bercerita tentang sebuah desa di Aceh yang lolos dari tsunami padahal desa di sekitarnya menjadi korban tsunami. Ia menambahkan bahwa itu karena di desa itu terdapat makam tua yang selalu dirawat oleh penduduk desa. Obrolan yang semakin ramai membuat beberapa orang tertarik untuk mampir dan ikut urun rembug membahas segala macam bencana yang terjadi akhir-akhir ini. Berbagai bencana yang terjadi dikait-kaitkan dengan kepercayaan tentang jagad Jawa yang mulai marah dengan kelSayaan penghuninya yang berperilSaya buruk.

Tepat siang hari saat matahari memayungi bumi dengan sinar yang sangat terik. Rombongan wong nyadran yang dipimpin oleh juru kunci mulai memasuki kompleks pemakaman Bonokeling. Ratusan lelaki berpakaian Banyumasan dan perempuan berpakaian jarit sampai sebatas dada dengan pundak terbuka mulai memasuki gerbang makam dengan iringan asap menyan yang terus mengepul. Mereka terus saja naik menuju makam Bonokeling yang berada di atas bukit kecil di dalam kompleks pemakaman. Tiga buah pendopo tanpa dinding menjadi tempat mereka berteduh sebelum mendapat giliran untuk sungkem di makam Bonokeling. Semua anak cucu Bonokeling harus sungkem untuk ngalap berkah, maka tak jarang prosesi nyadran baru selesai saat tengah malam. Setelah beristirahat di rumah penduduk sekitar makam, baru mereka akan pulang ke rumah masing-masing pada keesokan harinya. Juga dengan berjalan kaki.

Lagi-lagi intervensi negara menjadi nila di tengah kekhidmatan ritual nyadran ini. Pemerintah Kabupaten Banyumas telah menjadikan acara nyadran Bonokeling sebagai obyek wisata. Kooptasi ritual sacral yang dianggap eksotis dan mewakili tradisi seringkali menerbitkan keinginan pemerintah untuk menjualnya, tentunya dengan alasan untuk menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bahkan Pemkab Banyumas juga berniat untuk membukukan riwayat Bonokeling sebagai bagian dari promosi wisata, padahal hal ini selalu ditolak oleh para juru kunci sejak zaman dulu.

Dalam prosesi nyadran itu hadir pula Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas disertai aparat pemerintahan dari tingkat kecamatan sampai desa. Komunitas kejawen keturunan Ki Bonokeling ini menjadi proyek garapan pemerintah untuk dapat meraup keuntungan dari publikasi melalui media massa. Tetapi ternyata kesediaan komunitas ini untuk berdekatan dengan pemerintahan bukannya tanpa alasan.

Komunitas ini mendapat sorotan yang cukup tajam dari kelompok Islam yang ada di desa itu. Seorang takmir mushola yang kami temui mengatakan bahwa mereka terus berupaya untuk menyadarkan komunitas kejawen ini dengan cara damai. Ia mencontohkan kelompok Islam garis keras yang juga ada di daerah itu menggunakan cara-cara yang cenderung memaksa dalam melakukan syi’ar agama. Menurutnya cara-cara pemaksaan tidak akan pernah berhasil menyadarkan komunitas kejawen yang menjadi tetangganya.

Agresivitas kelompok-kelompok agama dalam “menginsyafkan” kelompok kejawen ini menjadikan mereka mencari perlindungan kepada pemerintah dengan regulasinya. Tetapi perlindungan ini jelas bukan tanpa syarat. Anak-keturunan Ki Bonokeling ini harus merelakan prosesi nyadran yang mereka lakukan untuk menghormati leluhur mereka dijadikan tontonan banyak orang. Demi mendapatkan perlindungan.

4 Responses to “Nyadran di sudut Banyumas”

  1. Cablaka Says:

    Sudah saatnya dan semestinya bahwa setiap warga negara mendapat perlindungan dari Negara, termasuk dalam menjalankan ritual keagamaan maupun ritual tradisi. Jangan pernah menganggap diri sendiri lebih benar atau lebih bersih pemahaman rohaninya dan menganggap orang lain yg berbeda lebih rendah derajat rohaninya.

    Open mind from diferent view
    sing jembar pikirane

  2. bambangwiratno Says:

    kejawen menurut saya,merupakan hakikat paling benar daripada islam itu sendiri dan kejawen menjadi pondasi paling tepat bagi budaya kita,karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai,mencitai budayanya.,saya rasa bangsa kita adl bangsa yg besar<<<

  3. Arif Rahman Says:

    Melihat fenomena nyadran harus dengan pendekatan budaya, jika menggunakan pendekatan aqidah, nasib mereka bisa seperti Ahmadiyah dan sebagainya. Anggap nyadran adalah kekayaan budaya nasional.

  4. hardidjan Says:

    Saya juga senang sekali melihat saat mereka mengadakan nyadran. Sudah 2 kali ke sana


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: