Memburu Fokus dari Kantor Etnomusikologi

Minggu, 1 Oktober 2006

Oleh: Achmad Uzair (Koordinator Tin Kerja Lafadl) 

Sudah seminggu lebih aku gak nulis jurnal. Sejak kepindahanku ke wisma Sudirman, praktis hanya satu jurnal yang kutulis. Apalagi sejak aku pindah ke tempat Selwa Kumar di belakang Taman Budaya hari Minggu lalu (24 September). Pada tingkat tertentu, aku merasa tempat berteduh erat terkait dengan produktivitas menulis. Di tempat menginapku yang baru itu, aku hanya punya waktu menulis di malam hari. Itu pun kalo tempatnya tidak terkunci, atau aku gak kelamaan diajak ngobrol sama penghuni lainnya, atau aku sendiri gak kecapekan. Siangnya, tempat itu dipake sebagai kantor pengacara. Bang Ruslan Purba SH (demikian dia memperkenalkan nama lengkapnya) bilang, ”kalo kau pergi sebelum jam 8 pagi, dan pulang setelah jam kantor, amanlah kau.” So, aku menuruti apa katanya. Pergi sebelum jam 8 dan pulang paling cepat jam 7 malam (itupun, sekali lagi, kalo kantor itu tidak terkunci). Yah, demi mengirit duit gak apalah.

Sebenarnya sejak tadi malam aku sudah bertekad harus merapel catatan perjumpaanku dengan beberapa orang seminggu terakhir. Tapi baru pagi ini aku bisa memencet tombol-tombol laptop membentuk rangkaian kalimat. Di lantai dua aula IAIN yang sedang direnovasi ini, aku menemukan tempat yang bisa memompa ingatan-ingatan keluar dari tempurung kepalaku. Kebetulan ruang sidang dilantai dua ini tidak terkunci,sehingga aku bisa menggeret satu kursi keluar melengkapi meja panjang yang sudah duluan ada di sana. Aku ambil sapu ijuk panjang untuk membersihkan daki yang ada di meja panjang ini. Dengan diiringi suara ketukan palu tukang-tukang Jawa di lantai bawah, aku coba tulis lagi beberapa info yang aku peroleh.

Senin lalu (25 September), aku bertemu dengan Irwansyah Harahap, seorang musisi sekaligus antropolog dari Jurusan Etnomusikologi, USU. Dia sudah lama berkawan dan meneliti Parmalim. Penelitiannya itu sudah dimulai sejak awal tahun 1990-an, jauh hari sebelum orang banyak menulis tentang Parmalim. Dia sedang mempersiapkan tulisan deskriptif tentang Parmalim (katanya akan diterbitkan oleh Desantara).

Dari dia aku ingin mendapatkan banyak masukan, terutama saran dia tentang wilayah manakah yang sebaiknya kuambil sebagai fokus tulisan Interseksi. Aku mencoba memulai pertanyaan itu dengan menceritakan masukan beberapa orang yang menyarankan aku untuk ambil daerah di luar Hutatinggi sebagai fokus penelitianku. Beberapa tempat yang disarankan adalah daerah Barus dan Asahan. Bang Iwan secara implisit mengiyakan bahwa kelemahan studi Parmalim (terutama yang dia lakukan) sejauh ini memang cenderung terfokus di Hutatinggi. Padahal, dia menyebut setidaknya 4 komunitas Parmalim yang berbeda-beda dan tersebar, meliputi komunitas Parmalim meranti, Asahan (Tanjung Kiran?), Silaen, dan Barus. Dia sendiri berkeinginan untuk melakukan penelitian yang lebih komprehensif tentang komunitas-komunitas parmalim yang lain (dia bilang dia pernah punya kontak person pengikut parmalim yang ada di Asahan). Untuk melakukan riset yang lebih komprehensif itu tentu diperlukan waktu ekstra,sesuatu yang diakuinya belum ada saat ini. Salah satu faktor yang membuatnya secara sadar memilih berkonsentrasi di Hutatinggi adalah ketertarikannya pada permainan musik pada acara-acara ritual desa itu yang relatif lebih ”asli”. ”Parmalim yang di Meranti, nyanyinya lebih seperti lagu-lagu gereja,” katanya.

Berbeda secara tajam dengan berita Kompas yang pernah bercerita tentang Hutatinggi sebagai pusat agama Parmalim, Bang Iwan menceritakan bahwa masing-masing komunitas parmalim itu berdiri sendiri-sendiri. ”Jika Hutatinggi disebut sebagai pusat agama parmalim, dia hanya menjadi pusat bagi pengikut yang berafiliasi ke sana, termasuk yang dari Jakarta dll. Masing-masing punya pemimpin sendiri,” jelasnya. Menurutnya, komunitas-komunitas Parmalim itu menyelenggarakan upacara Sipaha Sada secara terpisah. Bukan hanya dalam pengertian lokasi, tetapi juga timing-nya. Alih-alih menyelenggarakannya pada sekitar bulan Maret-April seperti yang dilakukan di Hutatinggi, salah satu komunitas tersebut (dia menyebut lokasinya, tetapi saya lupa) bahkan dikabarkan menyelenggarakannya menjelang bulan puasa seperti sekarang ini. Kebetulan, kalender Batak juga menggunakan perhitungan qomariah seperti islam. ”Sebagian orang menganggap ini sudah terpengaruh oleh budaya Islam,” tambahnya.

Menurut Bang Iwan, dari komunitas Parmalim (terutama yang ada di Hutatinggi) ini kita bisa mendapatkan gambaran masyarakat tradisional yang lain. ’Kalau kita ngomong masyarakat tradisional, yang selalu muncul di bayangan kita ’kan masyarakat yang masih terikat dengan simbol-simbol seperti kemenyan dll. Di parmalim nggak ada itu,” jelasnya. Baginya, masyarakat ini juga telah mempraktikkan prinsip-prinsip demokrasi alternatif seperti yang diimpikan oleh Alexis de Tocqueville. ”Pernah suatu kali ada program penyuluhan asuransi kesehatan ke desa ini. Pemerintah mungkin berpikiran bahwa masyarakat tradisional Parmalim ini gak tahu banyak keuntungan asuransi kesehatan ini. Setelah presentasi, pemimpin komunitas ini menyerahkan kepada warganya untuk menilai penting gak program ini. Mereka voting,” ungkapnya. Di sinilah Bang Iwan merasa bahwa perkembangan modernisasi berjalan paradoks, di satu sisi seolah ada pemberian kebebasan berpendapat, tetapi di sisi lain ternyata praktik-praktik penggiringan pendapat (seperti yang terjadi di birokrasi) masih selalu ditemui. Di masyarakat Parmalim ini, dia menemukan bahwa kemerdekaan individu untuk bersikap tetap dijunjung tinggi.

Menurut Irwansyah, faktor ekonomi-politik kelihatannya tidak terlalu berperan di masyarakat Parmalim. Di matanya, keterpinggiran ekonomi tampaknya tidak menjadi perhatian utama komunitas tersebut. ”Mereka gak pernah meminta-minta,” tambahnya. Menurutnya, segala kebutuhan ekonomi komunitas ini tampaknya sudah terpenuhi. ”Di saat sawah-sawah orang/masyarakat lainnya terkena wabah wereng atau hama lain, sawah komunitas ini bisa gak kena. Gak tahu kenapa itu,” jelasnya. (dugaanku, cara pengolahan [termasuk bibit] barangkali punya dampak besar dalam ketahanan pangan komunitas ini. Menurut sebuah skripsi di jurusan antropologi USU (dibuat tahun 1993), masyarakat desa Hutatinggi masih menggunakan bibit padi lokal yang membutuhkan waktu 6 bulan untuk panen. Pengolahan sawahnyapun masih menggunakan metode tradisional [tetapi tidak jelas apakah menggunakan pupuk anorganik]. Perlu dicek lagi pada kunjungan besok). Setiap rumah di komunitas ini juga punya lumbung padi yang menjaga ketahanan pangan masing-masing (Bang Iwan sendiri tertarik untuk mengamati lebih jauh tentang fenomena ini).

Tetapi yang menjadi catatan dari perbincangan dengan bang Iwan adalah bahwa komunitas ini tidak ”mengharuskan” pengikutnya untuk terus bekerja di sawah/ladang. ”Banyak di antara mereka yang sudah bukan petani, bahkan ada yang jadi ahli perkebunan,” katanya (mungkin merujuk Bang Maruli Sirait?). Tidak seperti komunitas sedulur sikep yang mayoritas (bahkanbisa dibilang semuanya) adalah petani, komunitas ini sudah beragam profesinya. Satu pertanyaan yang masih tertancap di kepalaku adalah, jika mereka sudah tidak terikat dengan tanah sebagai wilayah produksi yang paling utama, apakah yang melandasi kesatuan mereka? Pada tingkat tertentu, tampaknya Parmalim tak tampak berbeda dengan agama-agama samawi lain yang tidak ”mengharamkan” pekerjaan tertentu bagi umatnya. Tapi, ugamo Malim ini rasanya jelas berbeda dengan agama-agama samawi. Belum ketemu di mana perbedaan utama mereka (di luar soal teologis).

Mlihat tanggapan Bang Iwan yang menyiratkan perlunya waktu panjang untuk meneliti soal keragaman komunitas Parmalim ini, aku menjadi ”keder” ketika hendak mengambil fokus komunitas di Barus atau Asahan. Boro-boro membandingkan atau mencari lokasi yang belum pernah diteliti, mengerti Parmalim yang sudah jamak diteliti saja belum. Makanya ketika Bang Iwan bertanya persoalan apa yang hendak ditulis, aku masih menjawab antara kasus konflik pembangunan tempat ibadah Parmalim di Medan dan komunitas Barus (sesuai saran beberapa orang). Melihat keterbatasan waktu, tampaknya kasus konflik tempat ibadah itu lebih feasible. Bang Maruli sendiri tampaknya sudah mengumpulkan surat-surat seputar persoalan itu. Lagipula, tema ini sangat pas dengan tema utama penelitian ini, terutama jikamau dicari aspek-aspek hukumnya. Bang Iwan pun tampak mafhum dengan penjelasanku. Dia malah bilang kasus itu merupakan hal yang menarik. Baginya, sisi menarik kasus itu terletak pada kesederhanaan esensinya, tetapi pencarian solusinya terkesan dirumitkan. ”Ketika mau diubah jadi balai pertemuan pun gak bisa. Persoalannya sebenarnya jelas, tapi tidak jelas. Ini yang menarik,” katanya.

Aula IAIN Sumatera Utara, 27 September 2006

One Response to “Memburu Fokus dari Kantor Etnomusikologi”

  1. Roy Thaniago Says:

    Artikel menarik yg menyinggung etnomusikologi… Tulisan yg dunk.. hehe.. Salam kenal!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: