“Apaan (itu) Es Teh?”

Minggu, 1 Oktober 2006

Oleh: Achmad Uzair (Koordinator Tim Kerja Lafadl)

Pertanyaan itu bukan dilontarkan oleh bocah yang belum akil balig, melainkan oleh seorang ibu penjual bakso. Di warungnya yang bertuliskan “pengusaha muslim”, aku memang berniat mampir menyantap bakso plus es teh. Eh, bukannya segera melayani ”rajanya” (kalo kita percaya pembeli adalah raja), dia justru memandang penuh tanya ke arahku. Apaan (itu) es teh?”. Sontak saja aku tersadar kalo aku bukan di Jawa atau Jakarta. Segera saja kuganti ”teh manis dingin”, istilah yang lazim kubaca di warung-warung Medan.

Hal-hal baru yang kecil semacam ini menjadi bagian dari perjumpaanku dengan Medan beberapa hari ini. Aku mulai mencoba membiasakan diri mengganti kata ”kiri” dengan ”pinggir” ketika hendak turun dari angkot. Aku harus menahan kantuk supaya aku bisa menghafal nama jalan dan arah trayek angkot yang kutumpangi. Peta sekarang menjadi isi utama tas punggungku. Aku pun mulai mengenali kebiasaan minum teh cara Medan yang cenderung berpasangan dengan susu, satu habitus minum yang katanya lebih sering ditemukan di India.

Aku menikmati perjumpaan hal-hal baru itu. Aku merasa Medan lebih plural ketimbang Jakarta atau kota-kota lain di Jawa. Di sini, kita bisa melihat seliweran orang-orang berkulit legam berhidung mancung keturunan Tamil. Mereka ada di berbagai strata, mulai dari pekerja kantoran, sopir angkot, penjual nasi pinggir jalan hingga pengemis. Kita juga bisa melihat peranakan Tionghoa ada di semua lini, mulai dari pemilik hotel termewah hingga komunitas miskin pinggir Sungai Deli. Orang-orang keturunan Arab juga tak kalah banyaknya. Belum lagi Jawa, Madura, dan tentu saja Batak. Masing-masing kelompok etnis itu tampaknya juga masih memegang erat tradisinya sendiri-sendiri. Komunitas Tionghoa tetap berbicara dengan koleganya dalam bahasa Mandarin; keturunan India masih terlihat melestarikan budaya leluhurnya (paling tidak dari tampilan luarnya); keturunan Jawa di atas 50-an tahun yang sudah dilahirkan di Sumatra masih fasih berkomunikasi dalam bahasa orang tuanya (tak sedikit yang masih lengkap dengan intonasi dan dialeknya); apalagi si tuan rumah, Batak.

Beragamnya komunitas itu juga terlihat dari kekayaan kuliner di kota ini. Dengan mudah kita bisa menemukan warung-warung Tionghoa yang dengan lugas mengiklankan babi, menjumpai warung dengan roti cane atau chapati sebagai menunya, atau bahkan warung makan vegetarian di pinggir jalan. Semua itu seolah mengentalkan batasan-batasan etnis di kota terbesar Sumatra itu. Di kota ini, orang tetap hidup dengan latar belakangnya sendiri-sendiri, tapi seolah juga tidak lupa dengan kosmopolitan sebagai latar depannya. Dan tampaknya everything is fine, setidaknya untuk tempo ini. Mengherankan. Menurut Usman Pelly (guru besar antropologi Unimed) dalam seminar di Hotel Polonia Senin lalu, keragaman Medan tidak pernah meletup menjadi kerusuhan sosial karena perbedaan horizontal tidak pernah berhimpit dengan perbedaan vertikal di kota ini. Masyarakat Medan juga punya modal sosial yang kuat (termasuk di antaranya adalah dalihan na tolu) yang bisa mencegah konflik sosial. Beberapa orang juga mengungkapkan hal senada. Wallahu a’lam.

Yang pasti, aku mencoba menginternalisir perbedaan-perbedaan itu untuk menjadi lebih terbuka. Termasuk kepada diri dan tubuhku sendiri. Termasuk ketika aku ”menyerah” di tangan SPG yang bersikeras membuktikan keampuhan daya pemutih produk kosmetiknya pada tangan dan wajahku. Sepertinya hidup memang tidak perlu dimusuhi.

Wisma Sudirman, 20 September 2006

Jam 23.07

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: