Sepotong “Ruang” Di Tugu Kujang

Minggu, 10 September 2006

 

Oleh: Anggit Saranta:  Bengkel AO

“Saya tidak menyangka…ternyata kegelisahan kita ini sama”. Ini adalah sepenggal kalimat yang berhasil saya kutip dalam sebuah diskusi ringan di Saung Tegal Gundil. Sebuah tempat dimana saya biasa menghabiskan malam panjang akhir-akhir ini. Obrolan itu sebenarnya tidak terjadi begitui saja. Ternyata obrolan itu memang sudah menjadi agenda rutin beberapa teman untuk membicarakan seni dan kesenian di Bogor. Dan saya sendiri sebagai kapasitas pribadi baru bergabung di pertemuan keempat. Namun yang memicu perhatian saya dalam obrolan tersebut adalah obyek bahasan dan juga pribadi atau personel yang datang. Mereka cukup plural dan heterogen. Dalam pertemuan itu saya mengenal sosok emen seorang gitaris band indie yang cukup peka dengan masalah sosial, Kibaryesa seorang karyawan kantor pajak yang dekat dengan dunia minoritas. Kemudian ada Heru seorang pengamen bus jalur Bogor-UKI pp yang cukup idealis menyebut aksinya sebagai perang dan tugas negara. Ada juga sosok Bewok, seorang pengembara yang pernah aktif di sanggar-sanggar teater, penduduk TIM cikini jakarta, dan kini mendiami kawasan terminal Baranang siang untuk meneruskan prosesnya. Ada juga temen-temen teater kampus, dan kawan intelektual dari tegal gundil serta temen-temen kalam sendiri. Sebuah diskusi panjang yang sudah lama saya rindukan. Diskusi itu sebenarnya tak ubahnya dengan sharing masing-masing peserta, curhat seni ataupun curhat tentang situasi Bogor yang berkaitan dengan ekspresi seni tentunya. Sebagai orang baru saya lebih banyak mendengar curhatan-curhatan itu. Dari soal miskinnya karya yang tampil di Bogor hingga soal ruang publik yang belum termanfaatkan. Setelah melalui eksplore wacana masing peserta akhirnya kami yang berkumpul malam itu sepakat melakukan sesuatu. Masing-masing turut ambil peran dalam upaya perwujudan tersebut. Saat itu digagaslah sebuah aksi seni yang akan melibatkan beberapa komunitas seni & kreatif yang ada di bogor. “Bogor yeuh” , demikian kami menamakan judul acara tersebut. Targetnya kami akan melakukan performance 16 Agustus malam. Saat itu saya kebagian peran untuk merangkai acara itu. Yah akhirnya sebuah harapan timbul, akan ada kerja kreatif yang saya lakukan, kali ini saya tidak sendirian lagi.

Usai pertemuan malam itu, kami masing-masing komunitas pulang dengan membawa gagasan itu kerumah, coba kami komunikasikan dengan rekan-rekan yang lain. Demikian juga saya. Sejak pertemuan tersebut kegelisahan melanda alam pikiran saya. Terbayang kira-kira apa yang akan kami tampilkan nantinya. Pertemuan-pertemuan lanjutanpun terus kami intensifkan. Berbagai ide dan usaha mengajak teman komunitas lain untuk ambil bagian terus bergulir. Pada suatu kesempatan bentuk dan konsep acara coba dieksplorekan. Sederhana dan sebelumnya juga pernah saya lakukan di Jogja, tapi di Bogor kami coba melakukannya dan kali ini konkrit. Dengan isu semangat kebersamaan akhirnya konsep acara coba disusun. Konsep yang coba mengakomodir semua semua komunitas yang terlibat. Karena gagasan acara ini adalah acara bersama. Beberapa repertoar semisal pembacaan puisi, happening art, teatrikal, mime street, band indie, akustikan dan pemutaran film indie akhirnya menjadi kesepakatan kami saat itu untuk dipentaskan. Kerjapun di mulai. Dari penguatan masing-masing basis komunitas, kami yang telibat dengan peran masing-masing mulai bergerak. Mulai mengurusi hal yang berbau kesekretariatan, surat-menyurat, perijinan dan pengadaan peralatan untuk proses film. Hingga peran untuk komunikasi, publikasi dan artistiknya. Meski peran-peran tersebut diposisikan pada tiap individu komunitas, namun dalam pelaksanaannya kerja bareng dan semangat kebersamaanlah yang berlaku disini.

Hal baru dan pengalaman baru. Mungkin hal itulah yang saya rasakan saat itu. Akhirnya saya mampu juga menepis bayang-bayang memory tentang nikmatnya berkesenian di Jogja. Dan hal yang benar-benar baru bagi saya adalah ketika saya terlibat aktif penggarapan film independen tentang kemerdekaan. Saya akui saya banyak bekajar dari proses tersebut. Menggarap film yang sekedar ala kadarnya tidal menghalangi saya dan beberapa rekan yang lain untuk terlibat penuh. Kenikmatan syuting, mengarahkan gaya talent-talent dan menjadi bagian dari artistik , lighting cukup memberi pengalaman berharga. Kesenangan dan kemampuan seni peran dan performing cukup terlampiaskan dalam proses tersebut. Rencananya hasil dari film ini akan kami putar di acara malam 17-an juga nantinya (aksi art Tugu Kujang).

****

Sisa sisa kelelahan masih tergambar di wajah kami. Dua minggi menggarap film dan deadline 14 Agustus da dua hari menjelang 16 Agustus alias hari H benar-benar menguras tenaga dan pikiran kami. Begadang hingga pagi menjadi rutinitas kami sepanjang proses tersebut. Dana yang minim dari proposal yang kami sebarkan, dan keterbatasan masing-masing komunitas untuk menggalang dana tidak menyurutkan langkah kami.

Pagi itu menjelang pelaksanaan malam harinya, kami di sibukkan dengan berbagai persiapan. Tim artistik yang kami kerjakan bersama sibuk membuat instalasi. Saya sendiri kebagian tugas keliling belanja berbagai kebutuhan serta survei lokasi (Tugu Kujang) untuk memastikan berbagai kebutuhan di sana nantinya. Teman-teman Javaties juga disibukkan mencari sound yang tidak terbooking malam tujuh belasan ini. Intinya kami inisiatif untuk mengerjakan apa yang bisa kami kerjakan. Berjalan sendiri tanpa harus di suruh tetapi dengan koordinasi yang jelas. Menjelang jam 4 sore sound belum juga kami dapatkan. Kamipun coba membuat rencana alternatif. Untungnya ada kawan dari kawan Kalam yang memberi solusi praksis. Jam setengah lima sore sound dan alat band kami dapatkan meski tidak utuh alias pisah-pisah, termasuk snare piccolo saya sendiri ikut dikerahkan. Persiapan setting panggung pun dimulai. Konsepnya adalah panggung terbuka, jadi kami pun mensettingnya sedemikian rupa terbuka. Dan akhirnya kamipun bersiap-siap perform malam harinya dengan sisa kelelahan. Meski lelah kami cukup puas dan siap menampilkan yang terbaik, karena malam harinya kami akan membuat sejarah.

Lembut suara Sella sekilas terdengar dari ruang make-up. Ya malam itu Sella kami daulat untuk membawakan acara kami. Backgroundnya selaku seorang pendongeng kami harapkan akan mampu menghipnotis penonton untuk tetap fokus, mengingat lokasi Tugu Kujang ada di pinggir jalan raya Pajajaran yang mana merupakan jalur lalu lintas padat. Dimulai dengan performing dari band-band indie Bogor, menjelang malam yang kian larut massa mulai banyak berdatangan. Perform dilanjutka oleh teman-teman dari kantong perment yang menampilkan Happening art. Tubuh penuh cat putih dan merah menyimbolkan semangat geliat seni yang hendak mereka tampilkan. Kemudian ada pembacaan puisi yang cukup menyentuh dari anak-anak Lentera (Komunitas Teater Univ Juanda). Nada harmonis dari pergelaran akustik oleh javaties, Camar (komunitas pengamen UKI-Bogor) dan Ali Salam menjdi suguhan berikutnya. Tampak disamping kanan sisi panggung bentangan spanduk putih kosong sebagai tempak menuliskan berbagai pendapat tentang merdeka, banyak dikerumuni penonton yang ingin menuliskan pendapatnya.

Saya sendiri bersama Okta (BengkelAO) menampilkan sebuah repertoar mimestreet yang digagas dari pemaknaan bahwa merdeka itu sebuah proses. Kami menampilkan sosok 2 tokoh Mimer yang terjebak pada duni absurditas, masing-masing memiliki ego riil manusia hingga pada akhirnya semangat kebersamaan turut memupus rasa ego tersebut. Dan akhirnya mampu meloloskan diri dari jebakan tersebut. Usai kami melakukan perform, teman-teman dari teater Pawon (Univ. Ibnu Khaldun) coba menampilkan pertunjukan teatrikalnya. Mungkin pertunjukan itu saya anggap berhasil, karena mampu menimbulkan polemik dan gejolak di antara penonton. Namun gejolak tersebut masih bisa diredam meski ada teman Kalam yang menjadi korban.

Malam makin larut. Penontonpun masih bertahan. Sebagai suguhan berikutnya film indie garapan kami pun diputar. Sebuah film yang bertutur tentang realitas kehidupan pengamen kecil yang berusaha memdapatkan pendidikan layak. Film tanpa dialog yang kami beri judul “Ini Rasa Dalam Hati” dengan director kawan Deni. Acara malam itu berlanjut dengan renungan yang kami lakukan bersama-sama. Pukul 00.00 seluruh rangkaian acara telah kami pentaskan. Wajah puas, lelah dan kesal karena acara harus berakhir, membayang di wajah kami. Evaluasi kecil coba kami bahas saat itu. Berbagai kekurangan dan harapan ke depan kami gulirkan. Ini semua akan menjadi pembelajaran karena kami sadar apa yang baru saja kita garap adalah perjuangan dan letupan kecil yang akan menstimulus ledakan seni dan budaya yang lebih besar di Bogor. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: