Mentalitas di Stasiun

Minggu, 10 September 2006

 

Oleh: (Anggit Saranta : Bengkel AO, peserta Bengkel Kerja Budaya)

Entah mimpi apa yang dialami salah satu rekan saya di Bengkel AO, sebut saja Okta. Ini adalah nama sebenarnya. Hari itu minggu 6 Agustus 2006 jam 12 siang. Sebuah kejadian atau peristiwa yang akan dia ingat sebagai sejarah hidupnya. Boleh dikatakan di stasiun Bogor (lokasi peristiwa) dia memiliki kenangan yang tak terlupakan.

Kisahnya berawal dari pesan singkat (sms) yang saya kirim ke Handphone-nya. Dalam sms itu saya menghendaki dia untuk datang ke Bogor guna melaksanakan rencana-rencana yang sudah kami susun bersama sebelumnnya. Rencananya kami akan membersihkan/ beres-beres lokasi yang akan kami jadikan tempat usaha Dalam balasan sms-nya dia menyebutkan akan segera kesana (menuju Bogor) dari Depok dengan KRL. Posisi saya ketika menerima pesan tersebut ada di taman kencana, sebuah taman dekat kebun raya sebelah lapangan sempur. Saat itu saya sedang melakukan rapat dengan beberapa teman seniman untuk menggagas agenda budaya 17 Agustus nanti. Dari taman kencana rapat pindah ke Jl Bangbarung raya Tegal Gundil. Lokasi ini lebih jauh untuk akses menuju stasiun Bogor.

Sekitar dua tiga jam kemudian, ditengah-tengah rapat yang membahas schedule Okta menghubungi saya, mengabarkan bahwa ia sudah berada di Stasiun Bogor dan menyuruh saya langsung pulang ke rumah saja. Namun karena kondisi yang tidak memungkinkan (rapat masih berlangsung) saya menyuruhnya untuk tetap menunggu saja di stasiun sampai saya menjemputnya. Dan ketika rapat selesai sayapun menghubunginya untuk menuju taman topi agar saya mudah menjemputnya , tidak perlu masuk ke stasiun. Dari sinilah pengalaman berkesan itu dimulai.

Usai menerima telpon dari saya, Okta bergegas bangkit menuju pintu keluar. Sesaat langkahnya terhenti karena masuknya KRL Expres Pakuan di jalur 1. Dia terpaksa menunggu naik turunnya penumpang Pakuan. Sesudahnya bersama penumpang Pakuan lainnya Okta bergerak menuju pintu keluar. Dilihatnya antrian panjang penumpang yang hendak keluar. Dengan sabar dia ikut antri, tidak tampak kegelisahan dalam benaknya. Di sela-sela antrian dilihatnya petugas loket yang menarik kembali karcis kereta di pintu keluar. Tanpa ragu Okta menyiapkan karcis ekonomi yang dimilikinya. Tidak ada firasat atau curiga apapun diserahkannya karcis tersebut. Namun usai menyerahkan karcis, bukan kelegaan yang didapatkannya, tetapi sebuah cengkeraman kuat petugas diselingi pandangan penuh selidik. Sudah pasti Okta cukup terkejut dengan perlakuan ini. Dalam pikirannya tidak ada yang salah dengan dirinya. Dari Depok lama dia membeli karcis tujuan Bogor seharga Rp 1500 dengan tanggal hari itu. Karcis yang sama yang kini dipegang petugas tadi. Kemudian Okta digiring ke tempat sempit yang ada dibelakang loket karcis. Karena merasa tidak bersalah Okta protes.

Kamu naik Pakuan gak pake karcis ya..?”. Tanya Petugas yang menginterogasinya. Okta kaget dengan tuduhan itu. Merasa tidak naik Pakuan dia memberikan pembelaan. Dijelaskannya kalau dirinya sebenarnya naik ekonomi dari Depok lama. Dia sudah tiba sejak 2 jam sebelumnya. Ikut dijelaskannya pula bahwa dirinya harus menungggu dulu di dalam stasiun sembari menunggu jemputan. Tapi petugas tersebut tidak percaya dan mengharuskan Okta membayar denda.

Heh..kamu jangan banyak alasan, sekarang kamu harus bayar denda. Di peraturan denda naik expres tanpa karcis itu mahal lho. KTP kamu mana..?”. Petugas itu menghardiknya. Okta merasa jengah diperlakukan seperti itu. Ketika KTPnya diminta dia malah memberikannya.

Saya tidak mau bayar denda karena jelas-jelas saya tidak naik pakuan. Saya naik ekonomi dari stasiun Depok lama. Terserah mau diapain yang jelas saya tidak akan bayar denda”. Kesabaran Okta tampaknya mulai habis. Dilihatnya petugas tadi tetap bersikukuh bahkan memanggil beberapa temannya lagi untuk ikut menginterogasinya.

Ya sudah sekarang kamu punya duit berapa buat bayar denda..?”. Petugas itu tetap berusaha menarik denda dari Okta

Pokoknya saya tidak akan bayar denda seperti yang sudah saya katakan. Kalau toh gara-gara ini saya harus dipenjara saya siap, tapi ingat dengan ini saya bisa menuntut balik bapak atas pencemaran nama baik. Karena saya sudah dirugikan, rugi waktu, rugi tenaga…Dipenjarapun saya siap, tapi bapak akan saya tuntut atas segala kerugian saya. Orang jelas-jelas saya punya karcis kok..!!. Tuduhan bapak-bapak ini sangat tidak berdasar”. Jawaban diplomatis itu ternyata cukup manjur. Rupanya petugas tadi termakan juga gertakan Okta. Mungkin mereka sadar kalau Okta bukan orang sembarangan. Akhirnya petugas tadi berunding dengan teman-temannya yang lain. Tak lama kemudian Oktapun dilepaskan begitu saja. Bahkan ketika KTPnya dikembalikan si petugas tadi berusaha ramah. Mungkin dalam benak mereka tidak akan ada untungnya menahan lama-lama. Denda tidak akan keluar dari si Okta.

Yang terjadi pada diri Okta kemudian diceritakannya kepada saya. Waktu itu saya hanya bisa tertawa menanggapi ceritanya. Saya percaya pada antisipasi dan kenekatan partner MIMESTREET saya di BengkelAO itu. Tidak semata akan kualitas pendidikannya yang lolos sarjana hukum, tetapi juga pada mental tempur atas ketidak adilan yang saya kenal selama ini. Stasiun Bogor memang dikenal tidak ramah terhadap orang baru. Carut marutnya menajemen per keretaapian di Indonesia turut mendorong buruknya sistem pelayanan publik di stasiun Bogor. Kekacauan jadwal, araogansi petugas di loket karcis hingga diskriminasi layanan antara ekonomi dengan expres telah banyak dikomplain warga Bogor melalui media. Entah siapa yang harus disalahkan, yang pasti apa yang dialami Okta sesungguhnya mengungkap fakta yang sudah terungkap. Mentalitas petugas loket yang cenderung menekan pihak-pihak yang lemah untuk dimanfaatkan seperti membudaya. Belum lagi diskriminasi yang dilakukan mereka sangatlah mencolok. Okta dalam hal ini memang tidak seharusnya di cekal petugas. Dia hanya berada di lokasi dan waktu yang salah. Hanya karena keluar stasiun bersamaan dengan penumpang expres pakuan, dirinya didakwa sebagai penumpang gelap karena ber-karcis ekonomi. Logika apapun yang dipakai para petugas sudah pasti akan cenderung mencari-cari kesalahan. Memangnya stasiun Bogor hanya ada penumpang expres saja ketika kereta tersebut tiba ?. Atau di stasiun bogor tidak diperkenankan untuk duduk berlama-lama di dalam stasiun karena harus nunggu jemputan. Bukankah stasiun Bogor itu juga ruang publik bagi siapa saja yang memanfaatkan jasa KRL ?.

Ini harusnya menjadi perenungan kita bersama, bagaimana hal-hal seperti ini dapat diminimalisir. Tentunya ada alasan atau motivasi dari si petugas tadi melakukan penekanan seperti itu. Mengingat kejadian tersebut berulang-ulang kali terjadi. Okta hanyalah salah satunya saja. Muara sebenarnya adalah mentalitas orang-orang yang ada di sekitar stasiun Bogor yang tidak bias menghargai sesamanya sebagaimana mestinya. Yang mana mereka hanya menilai dari luarnya saja.

One Response to “Mentalitas di Stasiun”

  1. bank al Says:

    masalah mental ini memang PR yg belum terselesaikan oleh bangsa kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: