Menimbang Kaum Difabel dalam Kajian Ilmu Sosial

Selasa, 5 September 2006

Oleh: Slamet Thohari
Orang Difabel, Anggota Forum Lafadl, Alumnus Filsafat UGM.

Ungkapan Ibnu Khaldun, “Peradaban bergerak menyesuaikan diri dengan tabiatnya,” telah menemukan wujud yang paling “telanjang” dalam perjalanan peradaban manusia (Khaldun, 2000: vii). Ilmu pengetahuan yang merupakan instrumen sekaligus kebutuhan paling vital bagi manusia bergerak mengikuti zaman. Ilmu pengetahuan merupakan, “Muntaj at-Saqofah” (produk peradaban) sekaligus “Muntij at-Saqofah” (produsen peradaban). Keberadaanya berkembang fleksibel: dari zaman “gelap” bermuara ke zaman “terang”, dari zaman tradisional menggelinding ke zaman modern, dan seterusnya, hingga tak terhingga.

Pola kehidupan manusia yang beragam menjadikan beragam pula bentuk dan pola ilmu pengetahuan. Dalam berbagai dimensi, selalu saja termuat unsur-unsur yang baru sebagai bentuk dan pola dalam menangkap realitas dan permasalahan sosial yang memang selalu saja datang hal-hal baru pula. Sebagaimana dewasa ini, berbagai ubo rampe permasalahan bangsa yang mencakup mencakup kemelut ekonomi, hubungan agama dan negara, korupsi, kolusi nepotisme, subordinasi terhadap golongan tertentu, kekerasan, kedaulatan hukum yang melemah, menjadi “pernik- pernik” yang musti dituntaskan. Kerumitan pun semakin menjadi ketika ditarik pada masalah global. Kedaulatan bangsa Indonesia kini mengalami ancaman serius akibat sistem global yang selalu saja memasung negara – negara dunia ketiga—termasuk Indonesia —dalam palung ketidakmenentuan.

Salah satu permasalahan serius dan sulit digapai oleh bangsa ini adalah belum terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang “demokratis”, dalam pengertian “multikulturalis” . Yaitu “sebuah persekutuan di mana berbagai ruang-ruang dan wilayah, akses, ekspresi dan kemugkinan pemanfaatnya terbagi secara merata di antara berbagai individu maupun kelompok sosial dan kultur, dalam segi ekonomi, aktualisasi diri dan dasar-dasar yang menjadi prinsip-perinsip hak asasi manusia” (Baso, 2002: xiv; Kymlicka, 1995: 144-149).

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, belakangan ini berbagai kalangan baik para akademisi, aktivis LSM dan mereka yang terjun dalam gerakan sosial, mendengungkan diskursus yang sekiranya dapat diharapkan terwujudnya cita-cita tersebut. Hingga kita pun dapat menemukan berbagai kajian sampai gerakan seperti: gender, kebebasan agama, tuntutan hak-hak kaum adat, dan kelompok minoritas lainnya. Akan tetapi, suara-suara tersebut, sangat sedikit dan minim sekali, menjadikan “orang cacat” atau lebih tepatnya difabel (people with different ability) sebagai bagian dari “paket” yang turut diperjuangkan. Terutama dalam wilayah akademik: kajian humaniora. Kajian ini luput sentuhan, dan bahkan hampir tak terpikirkan, bila dibandingkan wilayah kajian seperti perempuan/gender, kaum gay/homoseksual, lesbi dan kelompok minoritas yang lain yang akhir-akhir ini menjadi “buzzword” dan seksi untuk dikaji.

Tepat saatnya untuk menemukan bukti, atas ungkapan bahwa “sejarah ditulis oleh sang pemenang”. Semua kronika masa lalu, kehidupan masa lalu dan gerak-gerik masa lalu yang telah di lalui manusia, seolah-olah hanya hanya milik orang yang orang hebat, orang-orang penting, peristiwa-persitiwa penting, perjalanan orang-orang kuat, hebat dan normal. Orang-orang difabel “senyap” dari sentuhan sejarah. Dan sebaliknya, sejarah pun tak pernah “menyapa” orang-orang difabel.

Wal hasil, orang-orang difabel lengah dari analisis, tak pernah diperhitungkan atau menjadi pertimbangan dalam reflkesi-refleksi ilmu pengetahuan. Padahal, bila kita mencermati fakta yang ada kaum difabel merupakan kelompok “minoritas” yang cukup signifikan bagi negeri ini. Berpijak pada Laporan Hak Asasi Manusia di Indonesia yang dilakukan oleh Dubes USA 1998, menutut departemebt sosial terdapat 6.000.000 orang, atau sekitar 3 persen dari 200.000.000 penduduk Indonesia . Tetapi berpijak pada asumsi data dari PBB, terdapat sekitar 10 juta difabel di Indonesia . Dan tentu saja, data yang lebih tepat belum dapat dipastikan. Tak jarang keluarga sang difabel sering menyembunyikan anggotanya yang difabel untuk menghindari rasa malu atau atau menganggap orang difabel sebagai “aib” bagi citra keluarganya, sehingga luput dari sensus. Ini belum difabel-difabel baru setelah Gelombang Tsunami Aceh, Gempa di Jogja yang mencapai 16.000 orang, dan Gelombang tsunami di Ciamis dan sekitarnya. Tentu saja jumlah difabel akan terus bertambah.

Lebih dari itu, kini kelompok difabel, karena peran pemerintah yang kurang, seringkali menjadi gelandangan, pengemis di terminal-terminal, kereta dan peremparan jalan. Mereka sering dicemooh, dan diasosiasikan tak ubahnya seperti “sampah”, tak bermanfaat dan membuat pandangan tidak “sedap” bagi ketertiban tata sosial yang dibentuk oleh orang-orang “normal”. Mereka adalah kelompok “the other”yang tergilas oleh arus besar : “normalitas”.

 

Membongkar Makna Kecacatan

 

Orang-orang dengan tubuh yang berbeda seperti tangan cuman satu, kaki lumpuh, tidak bisa melihat (buta), tidak bisa mendengar (tuli) dan lain sebagainya biasa dalam keseharian masyarakat diistilahkan sebagai “penyandang cacat”. Sebuah terma yang mempunyai makna orang yang mengindap “kecacatan”, “ketidakmampuan” bahkan “aib”.

Namun, pernahkah diperjelas apa sebenarnya definisi “cacat” (disability) tersebut? Apakah cacat dapat dibenarkan dengan bila selalu dihubungkan dengan kondisi tubuh yang berbeda dengan bisa? Jika memang “iya” bukankah setiap tubuh orang selalu berbeda antara satu dengan yang lain, wajah, warna kulit hingga rambut? Cacat menurut siapa? Dari mana ketegori tersebut hadir?

Jika dalam sebuah krumunan masyarakat terdapat seribu orang berkaki satu, dan satu orang berkaki dua, maka siapa yang yang berhak dianggap cacat?tentu saja orang berkaki genap tersebut yang dianggap cacat. Jika sebuah pulau nun-jauh terdapat seribu orang berkaki satu itu menjalani kehidupan mereka, dapat dipastikan semua produk kebudayaan, alat-alat masak, bentuk rumah, tata kota, dan semua ornamen-ornamen yang ada tentu akan menyesuaikan dengan tubuh mereka. Sepeda atau motor dipastikan bukan beroda dua, dan seterusnya. Semuanya menyesuaikan dengan konstruksi tubuh yang yang dimiliki. Definisi cacat yang dan beredar dalam alam kesadaran masyarakat seperti sekarang tidak berlaku lagi.

Karena diskursus normalitas telah mendominasi, akibatnya semua struktur sosial kini terwujud dan hadir untuk meneguhkan normalitas itu sendiri. Dapat kita cerna berbagai fasilitas ruang publik seperti trotoar, terminal, kereta, tangga jembatan penyebrangan, tempat ibadah, tempat pendidikan, semuanya bias akan normalitas. Bahkan berdasar pada survey dari 35 gedung milik publik hanya ditemukan 0,3 persen yang memberikan akses untuk dapat dinikmati bagi orang-orang difabel (Soldier, edisi ke-2, 2005).

Dengan dasar bahwa struktur sosial saat ini didominasi oleh struktur normalitas, maka difabel tidak lain masuk perangkap dalam struktur sosial tersebut. Lebih tepatnya “kecacatan” pada hakekatnya merupakan hasil “kontruksi sosial” yang tereproduksi oleh struktur dominan. Sebagaimana kontruksi sosial kaum laki-laki yang menyubordinasi kaum perempuan. Kontruksi sosial tentang kecacatan tersebut masuk dalam segala lini kehidupan, dan alam bawah sadar manusia, sehingga ketegori “cacat” merupakan suatu kemasan yang seoalah-olah benar adanya dan tidak perlu digugat.

Kontruksi dan sikap atas kaum difabel tak ubahnya seperti “orang gila” yang dilukiskan sangat indah oleh Michel Foucault dalam Madness and Civilization : A history of insanity and age of reason (1988). Yakni bagaimana sebuah diskursus yang lahir dari rahim misi pencerahan: modernitas, melegitimasi proses pengekslusian orang-orang gila. Paska abad pertengahan, orang-orang penderita lepra lenyap begitu saja, kemudian posisinya digantikan oleh keberadaan orang-orang gila. Mucul berbagai barak dan tempat-tempat yang digunakan untuk memenjarakan orang gila. Proses ini, sebagaimana dikatakan oleh Foucault merupakan proses yang didahului oleh sebuah kuasa diskursus: rasionalitas, yang berwujud legitimasi klinis/medis atas orang-orang gila tersebut.

Dengan demikian cacat merupakan konstruksi sosial. Sebuah terma yang berjubal dengan kepentingan menempel di salamnya. Sama halnya dengan ilmu pengetahuan sekarang. Benarkah bahwa ilmu pengetahuan merupakan hasrat suci (pure curiouscity) manusia untuk menjawab permasalahan tersebut, hingga kita melegakan keberadaan ilmu pengetahuan bebas dari kepentingan (interest)? Setidaknya terlalu vulgar bila dikatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan hal yang bersih dan murni dari kepentingan, baik kepentingan, kekuasaan struktur dominan, kelompok, dan kepentingan- kepentingan yang lain, sebab tak ada yang bisa menghindar dari kepentingan. Kesenyapan pertimbangan orang difabel untuk dijadikan bahan refleksi tersebut merupakan kenyataan evidensial akan bias-bias kepentingan orang “normal”.

 

Difabel yang Luar Biasa hingga Dikeluarkan dari Biasa

 

Dalam altar sejarah Indonesia , secara akademis, diskursus difabelitas mengalami kesunyian yang luar biasa: tak jarang dibincangkan, dipertimbangkan apalagi dijadikan kajian serius. Sekalipun begitu, kita dapat menemukan berderet hal yang “menyegarkan” dan yang tak kalah menariknya dengan wacana yang lain. Posisinya mengalami pergeseran-pergeser an dan pergulatan yang tak kalah menarik untuk dikaji sebagaimana dikaji Foucault di Eropa. Sebalum mengalami musim “modern” atau sebelum angin modernitas (barat) datang, tubuh dan kecacatan mendapat posisi yang berbeda-beda, sesuai dengan konteks kebudayaan pada masing-masing daerah, dan posisi kesejarahan yang melintasi bangsa ini. Masa berdialog dengan Asia—Asianisasi, dalam bahasa Lombard, Masa Arab—Islam—dan dengan Eropa ( Lombard : 1999)

Dalam pandangan Jawa, sebagai gambaran—kalau wayang dapat disimpulkan bagian dari replikasi dan imaji masyarakat Jawa atas kehidupan mereka–maka dapat kita temukan berbagai pandu-pandu imaji tentang tubuh dan kecacatan yang tersirat di dalam alur cerita-ceritanya. Dalam alam pewayangan kecacatan sepertinya menjadi hal biasa, dan mudah mengindap siapa saja. Bahkan, nenek monyang dua kutub besar dalam cerita wayang merupakan orang cacat: Lara Amis atau Durgandini, tubuhnya amis, dan kulitnya mengelupas, dia dekat sekali dengan Dewa, karena kecacatan yang dideranya dia diasingkan, dan menjadi seorang pendayung untuk penyebrangan di Sungai Gangga. Durgandini mempunyai seorang anak yang juga seorang cacat yang dibawa dalam pertapaanya. Anak ini sangat sakti

Setelah Durgandani menikah dengan Santanu, pasangan ini memiliki anak Citraganda dan Citrasena yang diodohkan dengan Ambalika dan Ambaliki. Namun kedua anak ini meninggal pada saat usia masih sangat muda. Lalu kedua putrinya tadi dijodohkan lagi dengan abiasa dari Saptaparga, anaknya sebelumnya. Dari sinilah kemudian lahirlah Destarata dan Pandu, kedua orang ini juga cacat, Destarata buta dan Pandu dengan wajah pucat aneh, tidak sebagaimana biasa orang.

Dari Destarata kemudian muncul 100 orang putra sebagai kutup “jahat”: Kurawa, sedangkan Pandu melahirkan lima orang putra sebagai kutup “kebaikan”: Pandawa. Dan seterusnya dalam pawayangan dapat kita jumpai banyak lagi bagaimana tubuh dan kecacatan, Durno, para Punokawan: Gareng yang Pincang, Petruk yang Dungu, Bagong yang gendut dan bermulut lebar, atau Semar yang bungkuk, bermuka jelek, tetapi semuanya adalah orang-orang yang penting dan sakti “mandraguna”, dan banyak tokoh-toko lain. Singkatnya, dalam imaji masyarakat Jawa, kecacatan mempunyai kecenderungan dinilai sebagai “pasekten” dan dekat dengan para dewa-dewa. Para Punokawan, misalnya konon merupakan para dewa yang sedang menelusup menyamar menjadi rakyat biasa. Kecacatan sebagai pasekten juga banyak kita jumpai dalam kehidupan orang-orang Jawa yang lain, sebagai contoh misalnya, sebagaimana diberitakan oleh Ben Anderson, dalam kerajaan Jawa, ditemukan disana koleksi orang-orang aneh: kerdil, cacat, dan difabel yang lain. Kesemuannya diperuntukkan untuk memperteguh kesaktian yang diampu oleh sang raja ( Anderson , 1990).

Pemahaman pasekten yang demikian terus mengalami pergeseran dan negosiasi dengan berbagai pandangan yang datang, dalam pandangan Islam misalnya, tubuh dengan kecacatan dinilai sebagai sesuatu yang perlu “dikasiani”. Atau lebih tepatnya, tubuh dinilai secara sosiologis. Bukan lagi dipandang secara “supranatural” dan bersifat transendental. Kelak, dalam pandangan Islam, semua orang yang ada di Surga adalah orang yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng, dan kesempurnaan tubuh. Orang-orang cacat juga mendapat keistimewaan yang berupa pengasihan dengan adanya “rukhsoh “ (kelonggaran) saat menjalankan ibadah bila tidak bisa melaksanakan sebagaimana orang normal. Akan tetapi, tetap saja dunia yang ideal adalah dunia orang normal. Dan seterusnya. Tentu saja, penulis mempunyai asumsi terdapat juga pada agama-agam lain.

Lalu demikian pula dengan dunia modern (barat). Dengan legitimasi kuasa legitimasi klinis/medis, diperkenalkanlah apa yang disebut Sekolah “Luar Biasa” (SLB). Merupakan tempat cara zaman modern memperlakukan orang-orang difabel. Di sana orang orang difabel di-didik dan dipelajari berbagai keterampilan dan keahlian khusus yang sekiranya dapat memberikan bekal bagi orang-orang difabel setelah kelulusannya dari sekolah dan terjun dalam masyarakat normal. SLB ibarat kerangkeng (cage) penyucian agar orang-orang difabel bisa bersih dari segala “aib” yang dideritanya, hingga setelah aib itu hilang mereka dapat masuk dalam alam kenormalan. Itu berarti SLB merupakan wilayah perrtiban dan pendisiplinan yang dilakukan oleh semangat zaman normalitas bagi orang-orang difabel.

Kini di Indonesia, berdasar pada laporan Kedutaan USA , terdapat sekitar 1.084 sekolah luar biasa bagi kaum cacat; 680 swasta dan 404 dikelola oleh pemerintah. Terdapat 165 dari sekolah-sekolah tersebut oleh pemerintah, “diintegrasikan, ” dengan pendidikan reguler dan khusus kepada siswa. Di Jakarta, sendiri terdapat 98 sekolah bagi difabel, dua dikelola oleh pemerintah dan 96 yang lainnya dipegang swasta.

Dari uraian sederhana ini, difabilitas merupakan kajian yang tak kalah menariknya dengan dikursus ilmu sosial yang lain. Jika dalam ilmu sosiologi telah berkembang aliran feminis, sungguh berbagai aspek-aspek difabilitas tentu saja bisa dikembangkan sebagaimana diskursus yang menyangkut atas pembongkaran dominasi kaum laki-laki tersebut.

Pelibatan orang-orang difabel dalam diskursus ilmu sosial tentu saja terkait dengan harapan kita semua untuk mewujudkan masyarakat adil, dan menciptakan persekutuan di mana berbagai ruang-ruang dan wilayah, akses, ekspresi dan kemugkinan pemanfaatnya terbagi secara merata di antara berbagai individu maupun kelompok sosial dan kultur. Baik dalam segi ekonomi, aktualisasi diri dan dasar-dasar yang menjadi prinsip-perinsip hak asasi manusia. Sayang, jarang orang yang menekuni akan hal ini, bahkan seolah-olah tidak penting.

 

 

 

 

4 Responses to “Menimbang Kaum Difabel dalam Kajian Ilmu Sosial”

  1. anam Says:

    aloo
    menurut saya wacana mengganti istilah disabled people menjadi difabled people itu wacana saya masih TK (dan saya sekarang 32 tahun). Kalau LAFADL mengharap perubahan, nggak usah ndakik-ndakik dengan Ibnu Kholdun wong rujukannya itu nggak nyambung sama sekali dengan istilah yang diusulkan. Sudah idenya usang, tulisannya nggak nyambung lagi antara bagian atas (Ibnu Kholdun, dll) dengan bagian bawah (usulan istilah yang semantik banget)…
    Sebaiknya buka-buka internet lagi deh… cari bacaan yang bagus tentang difabel. Ada banyak referensi kalau mau. Misalnya http://www.handicap-international.org kalau mau cari perspektif LSM/NGO terus terang baru sekali ini saya buka blognya lafadl. dan hasilnya sungguh mengecewakan. Anak muda tapi gagasannya usang sekali.
    maaf dan terima kasih.
    Anam, mantan PMII dan HMI-MPO dan masih tercatat sebagai pengurus di PW Anshor DIY


  2. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

    Strategi Ilmu Sosial Milenium III
    (Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

    KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana.

    Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008 di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris).

    Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

    PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

    Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

    Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4), menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya.

    KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

    Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?

    Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru.

    Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya).

    Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner, terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

    MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

    Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi. Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi? (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

    Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.

    KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  3. sapda Says:

    artikelnya bagus banget,boleh gak saya copy buat referensi di web tempat saya kerja.terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: