BELAJAR MENULIS BELAJAR MENYIMAK

Jumat, 18 Agustus 2006

Sesuai tajuk acaranya, sebagian besar jadwal acara didesain sebagai forum untuk menulis. Materi model ceramah hanya disampaikan pada hari pertama (25 Juli), dengan pembicara St Sunardi (dosen pascasarjana IRB USD Yogyakarta) pada sesi pertama dan Lono Simatupang dan Hairus Salim pada sesi kedua. Selebihnya, forum digunakan untuk sharing antar peserta, menulis, dan presentasi. Forum dipimpin oleh dua fasilitator utama Hikmat Budiman (salah seorang anggota board Yayasan Desantara) dan Hairus Salim (majalah Gong), dan di-back up oleh Sujud Dartanto. Belakangan, Mas Bisri Effendi bergabung menjadi fasilitator dan sekaligus wakil dari Desantara. Dengan mencoba mempraktekkan pola pendidikan orang dewasa, forum memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk saling bertanya, mengkritik dan memberikan masukan.

Pada sesi pertama ceramah, St Sunardi secara umum membicarakan tentang perbedaan tradisi menulis dalam penulisan sejarah sosial dengan membandingkan karya Sartono Kartodirjo tentang Pemberontakan Petani dan karya EP Thompson yang berjudul The Making of the English Working Class. Dua perbedaan mendasar di antara keduanya terletak pada proses mengalami dan misi yang diemban. Berbeda dengan Thompson yang menjelaskan fenomena kebangkitan kelas pekerja melalui proses “mengalami” (induksi), St Sunardi menjelaskan fenomena dan fakta sejarah lewat kacamata teori (deduksi). Keduanya juga memiliki semangat yang berbeda dalam mengurai sejarah; Thompson menulis dengan semangat “to transform his class”, sedangkan Sartono hanya “to explain”. Lebih lanjut, Sunardi menekankan pentingnya penulisan sejarah-sejarah alternatif oleh para pelakunya sendiri, seperti yang digagas oleh Thompson.

Pada sesi kedua yang dilakukan setelah makan malam, Lono Simatupang menjelaskan secara panjang lebar konsep-konsep kunci dalam penulisan cultural studies yang kita pinjam konsepnya untuk penulisan sejarah sosial alternatif (materi presentasi bisa dilihat di SINI). Menegaskan presentasi St Sunardi siang sebelumnya, Lono secara khusus mendekonstruksi apa yang disebut sebagai sejarah dan data dalam pengertian akademis. Menurutnya, data bukan hanya kumpulan wawancara dan literatur, tetapi juga meliputi pengalaman pribadi. Hairus Salim, yang juga menjadi pembicara, menegaskan pentingnya metode dan teknik penulisan sebagai political acts pasca-penelitian dan pengumpulan data.

Pada pagi hari berikutnya (26 Juli), acara diisi dengan sharing pengalaman dari Sujud Dartanto, dosen muda dari Jurusan Seni Rupa ISI Yogya yang sekaligus pegiat kebudayaan anak muda. Dengan materi presentasi tentang acara September Something yang digagas sebagai media ekspresi anak muda seputar peristiwa G 30 S/PKI, Sujud berhasil menunjukkan contoh konkrit perlawanan anak muda terhadap bangunan Sejarah dominan versi negara. Pernak-pernik peristiwa dalam September Something yang ditampilkan secara visual dengan bantuan LCD itu menguatkan pesan yang disampaikan pada dua sesi hari sebelumnya. Sisa siang hari kedua itu kemudian dihabiskan untuk berdiskusi tentang sharing tema awal penulisan masing-masing peserta.

Memasuki agenda diskusi sebagian tulisan yang sudah jadi, panitia mulai dihadapkan pada mundurnya beberapa peserta. Malam itu, dua orang peserta meminta ijin pulang karena harus melakukan advokasi untuk komunitasnya. Pasca diskusi tulisan Anggit dan Firdaus yang mendapatkan banyak gugatan dari sisi tema dan isi malam hari kedua itu, kasus mundurnya peserta semakin menjadi-jadi. Pagi hari berikutnya (27 Juli), ketika menjelang sesi presentasi, kami mendapati 3 orang peserta lain mundur. Kali ini, mereka pergi meninggalkan acara tanpa pemberitahuan kepada panitia. Bagi kami tindakan mereka sungguh sangat mengecewakan. Sempat muncul pula pertanyaan kenapa tidak sejak awal diberlakukan semacam “kontrak belajar” kepada peserta. Tetapi, kami sendiri merasa tidak memerlukan kontrak semacam itu karena kami menganggap bahwa semua peserta adalah orang dewasa yang tidak perlu diberitahu what to do dan what should not do. Kami menduga format acara yang lebih banyak berupa diskusi dan presentasi adalah faktor terbesar yang mendorong mereka pergi tanpa pamit. Format seperti ini kemungkinan berbeda tajam dengan ekspektasi para peserta tersebut.

Pada presentasi-presentasi awal, tampak sekali bahwa para peserta banyak menemui kesulitan dalam menerjemahkan konsep-konsep cultural studies dalam tulisan-tulisan mereka. Hal yang paling mencolok di hampir semua tulisan awal peserta adalah munculnya gagasan bahwa identitas adalah sesuatu yang ajeg dan stabil, suatu hal yang secara umum ditentang oleh penulisan cultural studies. Beberapa tulisan awal lainnya tampil datar tanpa menyeruakkan agency dan resistance. Sebagian peserta lain bahkan sudah merasa kesulitan menulis karena “keharusan” memasukkan konsep-konsep cultural studies dalam tulisan mereka. Sebagian peserta merasa pengenalan konsep-konsep itu justru membebani mereka.

Setelah melalui beberapa putaran diskusi (semua draft awal peserta didiskusikan satu persatu dan diperbanyak sesuai jumlah peserta dan fasilitator untuk dibaca bersama), tampak sekali ada perubahan besar dalam tulisan-tulisan peserta. Di pagi hari keempat (28 Juli), kami mulai membaca tulisan-tulisan yang menarik dan enak dibaca. Keempat tulisan yang kami diskusikan pagi itu terasa sekali perubahan positifnya, mulai dari kejelasan tema, perspektif, hingga teknik penulisan. Meski tidak semuanya menampilkan perubahan yang menggembirakan, sisa tulisan yang didiskusikan hari itu secara umum menunjukkan semangat yang tinggi untuk belajar mengenali fenomena sosial dalam perspektif studi kebudayaan. Metode sharing dan diskusi tampaknya berperan besar dalam mempercepat “internalisasi” perspektif tersebut. Beberapa peserta bahkan menunjukkan minat dan potensi yang besar untuk menjadi penulis kebudayaan. Di sesi terakhir presentasi dan diskusi ini, juga sempat dilakukan pentas pantomim dadakan (Anggit Saranta) dan pembacaan puisi (Dian Hartati).

Hingga akhir acara (ditutup pada tanggal 28 malam), terkumpul 8 tulisan dengan beragam tema; mulai dari perjuangan seorang korban kekerasan rumah tangga, halal dan budaya konsumsi, buruh perempuan di industri furnitur jepara, ta’zir dalam tradisi pondok pesantren, mime street (aktivitas pantomim kota bogor), hingga persoalan taman kota dan perebutan ruang publik. Selain akan memanfaatkan 2 media cetak milik Desantara (majalah dan Srinthil), peserta bersepakat untuk menggunakan blog bengkel kerja budaya sebagai ikhtiar meningkatkan kemampuan menulis dan berjaringan (Lihat di SINI).

Melihat urgensi pengembangan kajian budaya dan pembangunan infrastrukturnya di tingkat lokal, program seperti ini patut dikembangkan lebih lanjut. Berpijak pada tanggapan para peserta dan hasil tulisan mereka, program kajian budaya dengan format seperti ini setidaknya telah berhasil menggugah kesadaran di kalangan para pegiat kebudayaan daerah untuk lebih peka pada narasi/fenomena kecil dan menuliskannya secara cakap. Format acara yang porsi besarnya lebih diberikan pada kerja-kerja menulis, presentasi, dan diskusi terbukti mampu menghindarkan peserta dari “mabuk jargon”…

3 Responses to “BELAJAR MENULIS BELAJAR MENYIMAK”

  1. khoiron Says:

    Kawan-kawan alumni I (Belajar Menulis Sejarah dan Kebudayaan)
    Saya senang ada tindak lanjut kegiatan dari acara workshop Lafadl-Desantara kemarin. Setidaknya, jaringan tukar informasi terus jalan, dan Desantara berharap seluruh media Desantara dapat dimanfaat untuk mengembangkan kreatifitas menulis teman-teman. Secara pribadi, saya mohon maaf tidak bisa hadir dalam acara workshop kemarin, karena kesehatan yang tidak memungkinkan. Mungkin di lain waktu kita bisa ketemu dan berdiskusi lebih jauh mengenai proses berkreatifitas.

    Bravo buat Alumni BMSK .

    nurkhoiron.
    (sementara ini masih direktur eksekutif Desantara)

  2. dalhan Says:

    mas kalo punya blog nya sujud dartanto aku tolong dong…syadi bri tahuyaaa…..makasihhh banget,,,saya juga senang dngn blog ini….segeeeerrrr


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: