Nggelar Ngelmu Ngruwat Bumi

Selasa, 15 Agustus 2006

Oleh: Sobirin (Tim Kerja Lafadl)

Desa Golo malam itu mempunyai hajatan untuk melakukan ruwatan agar penduduk desa ini terlepas dari segala bala. Sudah beberapa bulan belakangan penduduk desa ini dicekam oleh teror dengan meninggalnya beberapa orang secara tidak wajar. Sekitar sebulan yang lalu Mbah Lami ditemukan telah meninggal didasar jurang yang berjarak cukup jauh dari rumahnya. Malam sebelum ditemukan, penduduk desa telah mencari-cari Mbah Lami karena dilaporkan hilang secara mendadak dari rumahnya. Pencarianpun dilakukan malam itu juga dengan bantuan warga sekitar. Keesokan harinya Mbah Lami ditemukan telah meninggal di dasar jurang dengan hanya mengalami luka gores didadanya. Anehnya, Mbah Lami ditemukan dalam posisi duduk di atas sebuah batu kali. Berita tentang meninggalnya Mbah Lami segera tersebarkeseluruh desa.Ini menambah daftar meninggalnya pendudukdesaini secara tidak wajar setelah sebelumnya Lik Suparto dan Mbah Rijem yang meninggal gantung diri, Kang Sarju yang mengalami kecelakaan motor didekat kuburan dan beberapa orang lainnya yang juga meninggal secara tidak wajar.

Tidak hanya peristiwa itu saja yang membuat penduduk desa Golo ini harus mengadakan ruwatan. Sudah hampir seminggu ini berita tentang kemunculan asu baong (srigala siluman) dan hantu berjenggot panjang yang bertanduk telah menteror penduduk desa. Suasana malam di pertigaan dekat rumah kepala desa yang biasanya ramai oleh pemuda-pemuda yang nongkrong sekarang tidakterlihat lagi.Berganti dengan suasana malam dan hembusan angin dingin.Suasana semakin sepi pada malam Jum’at terakhir dibulan Juli karena di malam itu akan diadakan sebuah acara penting, yaitu ruwatan desa.

Kulo meniko keturunan kaping telulas dalang keraton Surokarto. Kulo dipun paringi aran Guno Buwono..” sepenggal perkenalan dalang Ki Gunanto yang diikuti dengan irama rancak perangkat gamelan menghidupkan suasana malam yang dingin diperbukitan kaki Gunung Lawu. Sebuah panggung setinggi satu meter yang dan cukup luas menjadi tempat pagelaran wayang kulit malam itu. Deretan penonton yang rata-rata tlah berusia lanjut menyimak dengan khidmat setiap sabetan dan tuturan.Beberapa nayaga dan seorang sinden dengan setia menemani sang dalang memainkan lakon Bimo Suci malam itu.

Lakon Bimo Suci bercerita tentang keunggulan manusia sebagai makhluk paling mulia diantara makhluk lain ciptaan-Nya.Diawali dengan penuturan Ki Guno Buwono tentang kejadian pembentukan alam semesta yangdiawali dengan terciptanya bumi danlangit, kemudian bulan dan matahari, diikuti dengan air dan api. Seiring terciptanya api, maka muncullah jin dan antek-anteknya. Setelah itu Gusti kang Maha Dumadi menciptakan tumbuhan. Penciptaan manusia menjadi tahapan yang selanjutnya dari pembentukan alam semesta. Gusti Kang Maha Nyipto berusaha menciptakan wujud manusia yang sempurna, tetapi selalu gagal. Baru pada percobaan yang ketiga usaha ini berhasil. Satu statement yang berbeda dengan statement agama-agama besar tentang penciptaan manusia. Jika di agama yang lain Gusti Allah,menurut kitab perjanjian lama, hanya perlu mundhut lebuné bumi, didapur kaja manungsa, sarta elènging irunge disebuli ambekianing urip atau dengan kata lain Gusti Allah hanya mengucap ”Jadi!” maka jadilah, dalam dunia pewayangan Gusti Allah tidak terlepas dari trial and error dalam menciptakan manusia.

Malam beranjak larut dan jaket Eiger yang kupakai seperti tak mempan menahan angin dingin yang menusuk. Tapi sabetan dalang yang makin trengginas dan jalan cerita yang semakin menarik memaksaku untuk tidak beranjak dari kursikayu yang sudah sekitar empat jam kududuki. Lakon sampai pada kehidupan Bopo Adam sebagai manusia pertama. Ia merasakan kesepian ketika melihat benda-benda di sekitarnya memiliki pasangan. Matahari dengan bulan, langit dan bumi, siang dan malam sedangkan ia hanya seorang diri. Maka Gusti menciptakan Ibu Kowo sebagai pasangannya yang diciptakan dari igo-igo kiwone Bopo Adam.”Mulakno wong lanang ora bakal bosen kumpul karo wong wadon, lha wong kumpul karo igane dhewe.” tutur Ki Gondho.”Kecuali pas nesu Pak!”celetuk seorang nayaga yang diikuti dengan tawa penonton.

Bopo Adam dan Ibu Kowo hidup tentram di tanah suci sampai pada hari yang mengubah kehidupan mereka. Suatu hari Jin yang terbuat dari api dan berkepala ular mendatangi pasangan itu sambil mengatakan bahwa ada satu buah yang sangat nikmat ditanah suci yang harus mereka coba, yaitu buah khuldi. Dalam lakon ini diceritakan bahwa Adam lah yang menerima tawaran jin sehingga ia yang memakan sebagian buah itu lebih dulu, kemudian ia memberikan sebagian buah itu untuk dimakan Ibu Khowo.Perubahan pun terjadi, baik Ibu Khowo maupun Bopo Adam menjadi sadar akan perbedaan diantara mereka sebagai laki-laki dan perempuan sehingga membuat mereka malu. Mereka pun mencari dedaunan yang dapat digunakan sebagai penutup tubuh mereka yang sebelumnya telanjang. Akibat pelanggaran ini Bopo AdamdanIbu Khowo dibuang ke bumi.

Bopo Adam kemudian diturunkan di bumi belahan barat sedangkan Ibu Kowo di belahan timur, dan merekapunsaling mencari. ”Mulo temanten loro nak ketemu sing jaler mesthi nang sisih tengen sing estri nang sisih kiwo, amargo Bopo Adam diguwak nang sisih kulon lan Ibu Khowo dibuang nang sisih wetan!” lengking Ki Gondho sambil memainkan kecrek yang dipasang dikaki kanannya. Beberapa detik kemudian irama rancak gamelan Jawa kembali menggema melalui beberapa speaker besar yang dipasang disekitar panggung.

Lakon diteruskan dengan cerita tentang berbagai sifat anak cucu Bopo Adam dan Ibu Kowo yang mengisi bumi. Berbagai cerita tentang kebaikan dan keburukan sifat manusia menjadi inti cerita kehidupan. Manusia yang baik akan memiliki kemampuan untuk menjadi penjaga bagi sesamanya karena kebaikan itu akan menjadi tanda keesaan Gusti Allah dimuka bumi. Salah satu manusia yang mempunyai kekuatankarena kebaikannya pada sesama adalah Bima, anak kedua dari Puntadewa.”Kanthi gedhang setangkep lan banyu sekendhi kito nyuwun marang gusti supados Gusti Bimo ngrekso deso Golo. Sumingkiro bebendhu lan olo soko deso Golo!” lengkingan KiGondho menggema.Satu persatu danyang yang penghuni desa itu disebut untukmeminta restu agar dijauhkan dari segala bencana. Selain meminta restu kepada para danyang untuk keselamatandesa, ruwatanjuga dimaksudkan untukmengembalikan arwah mereka yang meninggal secaratidak wajar agar dapatkembali ketanah suci dengan didampingi Bopo Adam dan dalam pelukan Ibu Khowo.

Pagi menggantikan temaram fajar saat KiGondhobuwono memainkan sabetan terakhirnya menandai pagelaran wayang lakon Bimo Suci telah selesai.Dengan diiringipuji-pujian agar arwah Mbah Lami, Mbah Rijem dan yang lainnya mendapatkan ketenangan, para penontonpun beranjak pulang. Dan malam-malam berikutnya masih terasa sunyi begitu pekat seakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: