Soul, Skill, dan Sikil

Senin, 8 Mei 2006

  Selama enam minggu pada ekspedisi yang lewat aku berada dalam sebuah perkampungan Dayak. Dasaq, demikianlah orang-orang menyebut nama kampung itu. Terletak di kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Propinsi Kalimantan Timur. Seperti lazimnya perkampungan Dayak, maka Dasaq juga terletak di tepi sungai. Tetapi kali ini bukan Sungai Mahakam yang melintas di tepian kampung, tetapi sungai yang lebih kecil, yang merupakan anak Sungai Mahakam: Sungai Kedang Pahu.

      Mungkin lebih menarik kalau Jakarta kujadikan sebagai titik nol. Dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, kami—terdiri dari empat orang geologist: Yudi, Agung, Nasto dan aku—berangkat menuju Bandara Sepinggan Balikpapan. Perjalanan udara ini kami tempuh selama kurang leih 1 jam 50 menit. Keberangkatan kali ini hanya kami berempat, dan tanpa barang-barang perlengkapan survey, karena semua peralatan yang akan kami pakai untuk survey mulai dari sabun mandi sampai antena untuk koneksi langsung ke satelit, sudah terlebih dahulu diangkut ke kampung Dasaq, karena memang sudah ada beberapa rekan yang mulai melakukan survey geologi di sana.

      Dari Balikpapan, kami naik taxi (orang Balikpapan menyebut mobil Kijang yang dirental sebagai taxi) menuju kota Kota Bangun. Ongkosnya 560 ribu rupiah untuk satu mobil. Dan kami hanya memakai satu mobil. Jarak antara kedua kota ini kami tempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam perjalanan darat dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam (hal ini sekilas kulihat beberapa kali di spedometer di depan pengemudi). Dari Kota Bangun perjalanan dilanjutkan dengan naik speed boat dengan kekuatan 85 PK yang kami sewa dengan ongkos sebesar 1,2 juta menuju Dasaq. Di dua jam pertama kami masih menghulu menyusuri Mahakam, tetapi pada empat jam terakhir kami sudah masuk anak Sungai Mahakam, yang otomatis selain lebih kecil, juga lebih sempit, dan orang menyebutnya sebagai Sungai Kedang Pahu tadi.

      Sepanjang perjalanan dengan speed boat tubuh ini benar-benar menggigil kedinginan akibat diterpa angin karena kecepatan speed boat yang melaju kencang. Hingga aku pakai jaket dan mencoba menghisap sigaret beberapa batang dengan harapan dapat menghangatkan tubuh, tetapi tampaknya sia-sia saja, toh rasanya dingin tetap menembus jaket, dan Marlboroku lebih banyak habis karena ditiup angin daripada kuhisap. Malam hari, sekira pukul 21.00 WITA, kami sampai di Kampung Dasaq. Sambutan dari teman-teman yang sudah berada di sana, dan kehangatan tuan rumah membuat seolah tenaga serasa pulih, meskipun tentunya tidak total. Malam itu juga aku memutuskan mandi karena kurasakan seluruh tubuhku lengket akibat lapisan-lapisan keringat yang saling timpa-menimpa.

      Dasaq sendiri dihuni oleh suku Dayaq Benuaq, salah satu sub suku dalam perdayakan. Satu ketakutanku saat waktu itu adalah: Malaria. Karena kata orang daerah ini merupakan endemi nyamuk malaria. Susah juga kan menghabiskan sisa umur dengan menyimpan gelang malaria yang menumpang di setiap sel darah merah kita. Aku sendiri belum tahu jenis malarianya. Bisa jadi plasmodium tropicana, plasmodium falcifarum, plasmodium ovale, atau plasmodium vivax. Tetapi, apapun jenis malarianya, yang namanya malaria ya tetap saja malaria: berbahaya!!! Dari Jogja sebenarnya aku sudah mempersiapkan tablet-tablet anti malaria, berupa beberapa bungkus resochin yang kusimpan rapat dalam kotak obatku yang baru, tetapi karena belum terbiasa dengan benda itu, aku tidak membaca petunjuknya di Jogja, jadi minumnya terlambat. Dalam petunjuk pemakaian yang kubaca di sampul obat belakangan, untuk kebutuhan pencegahan, hendaknya diminum 1 atau 2 minggu sebelum memasuki daerah yang merupakan endemi malaria. Sementara aku sendiri baru meminumnya begitu sampai di daerah endemi malaria. Harapanku agar tidak ada satu ekor nyamuk malaria pun yang menggigitku dalam minggu pertama, tampaknya terkabul, terbukti sampai sekarang aku berada dalam kondisi yang sehat-wal’afiat.

      Hari pertama ke lapangan pada ekspedisi ini ada semacam kesegaran, entah datang darimana, yang tiba-tiba merasuk liar ke dalam tubuhku. Meski secara keseluruhan aku tidak terlalu senang karena survey dilakukan dengan naik ces. Hal ini terjadi karena lokasi yang kami survey sebagian besar merupakan rawa-rawa. Dan banyak sekali sungai-sungai di sini. Seingatku, sepanjang hari kami (Om Yudi dan aku) memasuki tiga anak Sungai Kedang Pahu. Sungai Jelau, Sungai Mentik dan Sungai Bebenteng. Air sungai rata-rata berwarna kecoklatan karena hulunya yang di rawa-rawa. Tidak keruh, tetapi memang begitu kondisi airnya. Dan rasanya sangat sepat.

      Di Sungai Mentik kami bertemu dengan sepasang isteri-suami yang sedang menatah papan dari kayu ulin. Mereka mengerjakan itu secara bersama-sama dengan menggunakan chainsow. Sang suami mengoperasikan chainsow, dan isterinya mengganjal kayu-kayu bulat yang akan dipotong agar tak jatuh berguling. Jelas mereka tak berkata-kata dalam bekerja. Karena suara mesin chainsow yang pekak tak memungkinkan gelombang suara manusia memperoleh ruang getar yang selayaknya. Aku curiga, jangan-jangan di kala senggang sewaktu-waktu mereka juga bersenda-gurau. Siapa tahu sebelum kami datang jangan-jangan sang suami yang terlihat kekar, matang, dewasa, dan bertanggungjawab serta bertato di pangkal tangannya itu bertingkah seperti kanak-kanak di hadapan isterinya? Mungkin sang isteri akan tersenyum-senyum memendam kata, dan malu-malu memandang mata sang suami yang bermanja-manja, mungkin? Tidak terlalu banyak perbincangan dengan mereka, karena mereka sendiri sedang sibuk dengan pekerjaannya. Daripada menjadi slilit yang tak pernah dikehendaki kehadirannya dan mengusik dunia mereka, lebih baik cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Kami hanya sempat kurang lebih 15 menit ‘menonton’ keharmonisan pasangan penatah papan ini.

      Dari pak Tontok, motoris (pengemudi ces) kami, aku mendapat keterangan tentang sifat-sifat orang Dasaq (orang Dayak Benuaq). Menurut beliau, orang Dasaq sangat tidak ramah kepada orang-orang perusahaan (baik perusahaan kayu maupun perusahaan tambang). Akan sangat berbeda penerimaan orang Dasaq, kalau kita datang sebagai pribadi, jikalau dibandingkan dengan kita datang dengan menyandang emblem perusahaan X, misalnya. Kalau datang sebagai pribadi, maka orang Dasaq tidak akan segan-segan memberikan banyak hal kepada kita, misalnya ikan dan makanan lainnya. Tetapi kalau kita datang sebagai orang perusahaan maka mereka akan memasang muka yang sangar, seolah-olah siap berbaku-hantam.

      Hal yang terakhir ini sudah kami rasakan dalam proses eksplorasi yang sedang berjalan. Untuk mengamati suatu singkapan yang ada di dalam hutan misalnya, maka wajib bagi perusahaan (dalam hal ini kami) untuk mengikutsertakan pemilik tanah dalam tim. Meski dia (pemilik tanah itu) tidak melakukan apa-apa, hanya ikut berjalan di bagian belakang, tetapi perusahaan meski membayar upahnya sehari penuh. Dalam satu hari kadangkala kami mengunjungi tiga sampai empat singkapan batuan di daerah yang berbeda-beda, maka untuk ‘pajak’ singkapan saja kami harus membayar tiga sampai empat orang. Belum lagi kalau singkapan itu berada di daerah yang berjauhan, artinya untuk menuju singkapan yang satu harus melewati suatu lahan yang tidak ada singkapannya, tetapi pemiliknya bukan pemilik lahan yang ada singkapan, maka kepada orang yang lahannya dilewati inipun kami harus mengikutsertakan mereka di dalam tim survey. Dan lagi-lagi, meski seharian mereka tidak melakukan apa-apa, tetapi perusahaan harus membayar upahnya sehari penuh. Demikianlah tentang perilaku orang Dayak Benuaq ini.

      Pak Tontok juga bercerita, selain segala ‘ketidakbaikan’ orang Dayak Benuaq tersebut, mereka juga memiliki rasa solidaritas yang kuat. Kalau misalnya seorang pendatang sudah lama tinggal di kampung mereka, dan dianggap sebagai bagian dari mereka, dan suatu ketika si pendatang ini terlibat perkelahian dengan suku lain, maka para Dayak Benuaq ini tak segan-segan untuk membela habis-habisan si pendatang ini, meski karenanya nyawa mereka mungkin akan melayang.

      Dalam menghadapi pelbagai fenomena ini, jiwaku selaksa bersitegak di suatu titik genting yang sangat problematis-kritis. Menoleh ke satu sisi, aku simpati dengan bagaimana cara-cara Orang Dayak Benuaq menjaga segala harta dan tradisi mereka, menoleh ke sisi lain, aku adalah sekrup dari sebuah sistem yang mau tak mau mengharuskanku untuk berseberangan kepentingan dengan mereka. Dalam hal ini aku lebih memilih menjadi seorang kuli yang baik. Tidak berbicara apa pun, kecuali berusaha melakukan pekerjaan yang dibebankan di pundak ini sebaik mungkin. Barangkali dengan menjalani hidup seperti kerbau (tidak berfikir, hanya makan, makan, dan makan…,) maka aku akan dapat melewati semua ini. Dan mungkin inilah titik nadir paling hina selama diriku menjadi manusia. Sebenarnya sisi jiwaku yang busuk tak ingin menulis paragraf ini, tetapi, rasa-rasanya jemari ini mengalun lembut tanpa terkekang oleh kekasaran jiwa, merangkai huruf demi huruf. Bah!!! Biarkan saja, persetan dengan harga diri!!!

      Terlepas dari liatnya masalah kemanusiaan yang berduel dalam kepala ini, aku sangat menikmati hari-hari yang berlalu sebagai hari yang lumayan menyenangkan. Terutama ketika memasuki sungai-sungai. Karena rata-rata sungai yang kami datangi ikannya banyak sekali. Bayangkan, ketika ces kami melintas, maka di kiri-kanan terlihat ikan-ikan air tawar yang berenang dan sesekali meloncat keluar dari permukaan air, sehingga menghasilkan percikan-percikan air yang menyebabkan mata kita tertarik memandang ke arah tersebut. Selain itu, beberapa kali juga terlihat biawak yang berenang mencoba menyeberangi sungai. Besarnya badannya kira-kira (kuperkirakan karena hanya kepalanya yang terlihat di permukaan air) sebesar pahaku. Selain itu, sore hari kami dapat bermain tenis meja di halaman rumah Pak Usen (pemilik base camp kami), jadi hari-hari berjalan tidak begitu membosankan.

      Apalagi kalau memasuki rawa-rawa. Seperti ketika mencoba menembus rawa-rawa yang menghubungkan Kampung Tembisak dengan kampung Dasaq. Sepanjang 6 km kami menembus rawa-rawa. Kadang-kadang kedalamannya mencapai dada. Sehingga beberapa barang yang (sebaiknya) tak boleh kena air—misalnya kamera dan GPS—terpaksa aku pindahkan ke saku atas rompi lapanganku, dari yang sebelumnya tergantung di pinggang. Selama menembus rawa-rawa, beberapa kali otakku melayang-layang tanpa dapat kukendalikan. Aku mengkhayalkan tiba-tiba dari balik tumbuhan rawa muncul buaya atau ular phyton yang besar dan segera memakanku tanpa menyisakan sedikitpun, termasuk tulang-tulangku, semua bajuku, dan juga alat-alat surveyku, agar aku pergi tanpa bekas dan tak perlu repot-repot menyiapkan seremoni bunuh diri. Khayalan ini muncul setelah mendengar cerita. Menurut Pak Yasin (salah seorang THL yang menyertaiku) rawa-rawa yang kami lalui memang ada buayanya. Masih menurut beliau, buaya di daerah itu ada tiga macam. Pertama, buaya dengan moncong yang panjang dan berwarna kehitaman. Buaya jenis ini tidak menyerang manusia. Kedua, buaya dengan jenis moncong yang pendek dan berwarna kekuningan. Buaya jenis ini yang sering menyerang manusia. Dan ketiga, buaya dengan jari kaki lima (biasanya buaya memiliki jari kaki 4). Buaya jenis terakhir ini tidak menyerang manusia, karena konon, masih menurut beliau, buaya jenis ini nenek moyangnya dulu manusia.

      Akan tetapi sampai rawa-rawa selesai kami tembus, tak satu pun buaya atau ular phyton muncul. Hanya kakiku sempat digigit oleh kutu buaya. Sakitnya bukan main. Bentuknya seperti cacing, cuma ada giginya. Bayangkan saja, gigi yang biasanya dipakai untuk menggigit kulit buaya yang tebalnya begitu, dipakai untuk menggigit kulit kakiku yang mulus. Terpaksa di tengah rawa-rawa aku membuka sepatu botku, mencopot kaus kakiku yang berwarna biru, karena rasa sakit karena gigitan kutu buaya itu bukan buatan. Beberapa hari kemudian kulihat bekasnya menyisakan bintik merah seperti bekas jerawat. Mengalami kesakitan seperti ini, andai bisa, aku ingin ‘menjilat’ kembali khayalanku dimakan buaya.

      Atau ketika berjalan di sebuah padang yang sangat tandus, dimana kayaknya onta pun tak kan mampu untuk melanjutkan hidupnya. Kami melintasi padang tandus itu dengan naik dua sepeda motor trail, rombongan kami sebanyak empat orang. Kalau dilihat dari peta, maka padang yang tandus tersebut (bekas kebakaran hutan) memiliki lebar kurang lebih 6 km. Tentang kebakaran hutan ini, sebenarnya, selain artifisial, ada satu penyebab alami yang selama ini jarang diketahui orang: yaitu terbakarnya singkapan-singkapan batubara akibat tingginya suhu dari panas matahari.

      Untuk mencapainya kami, dengan segala perlengkapan, harus terlebih dahulu diangkut dengan memakai ces dari Kampung Dasaq menuju Kampung Jerang Melak, baru dari sanalah perjalanan dapat dimulai. Pada awalnya perjalanan berlangsung asyik, apalagi melihat di kiri-kanan sisa-sisa pohon yang terbakar dan semak-semak muda yang mulai tumbuh di sepanjang jalan setapak yang kami lalui. Tanah dengan material pasir kuarsa semakin memudahkan perjalanan, karena material ini tidak licin, berbeda dengan lempung atau lanau. Separoh perjalanan lebih semua berjalan lancar-lancar saja. Hingga ketika mencapai seperempat perjalanan terakhir, petaka itu datang. Salah satu motor yang kami pakai rusak. Koplingnya macet dalam posisi terus menerus aktif. Sehingga motor tak mau jalan. Kami mencoba memperbaiki, tetapi sia-sia, karena perlengkapan yang kami punya tidak mencukupi untuk memperbaikinya. Dan akhirnya tak ada pilihan lain, motor harus didorong untuk menempuh perjalanan sisa menuju titik dimana kami akan dijemput kembali dengan ces. Malamnya, rasanya seluruh tulang seperti hendak copot saja. Menulis ini semua—dan berarti memikirkannya kembali—, aku jadi teringat dengan perkatan salah seorang dosenku di Jogja dulu: ”menjadi geologist itu tidak hanya membutuhkan kecepatan berfikir dan skill yang bagus, tetapi juga dibutuhkan sikil yang kuat.” Dan jelas tanpa izin darinya, akan kutambahi: ”juga soul yang ‘badak’ Pak Dosen.”

Post scriptum:

Permintaan maafku kepada ‘seseorang tertentu,’ yang telah dengan kerelaan tanpa komentar mengambil peran sebagai ‘penjaga rahasiaku’ karena catatan perjalanan ini adalah bagian dari cerita di antara kami (tentunya dengan menyensor ‘renik-renik’ yang intim).

Yogyakarta, 7 Mei 2006

Bosman Batubara

2 Responses to “Soul, Skill, dan Sikil”

  1. Obi Says:

    Jabatan sebagai penjaga rahasia telah berpindah sekarang hehe…Hidupmu menarik Bos, penuh dengan pilihan yang tak jarang kau harus menari samba untuk bisa berkelit dari tangan-tangan jahil yang ingin menggenggammu dalam pelukan mereka sepenuhnya.
    Hanya satu permintaanku:

    Jangan lupa bungkus rokoknya hehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: