Baca Buku Gratis di Stasiun Kereta…

Rabu, 26 April 2006

Ada sesuatu yang menarik ketika beberapa waktu lalu saya pergi ke Stasiun Tugu Jogja untuk pesan tiket. Bukan soal harga tiket yang harganya tak menentu atau soal calo yang tak habis-habis atau soal kekusutan stasiun atau soal-soal lain yang selalu menjadi keluhan pada usrusan kereta api negeri ini itu. Tapi soal buku. Ya, buku. Saat hendak keluar peron, perhatian saya tercuri oleh deretan buku yang berjajar rapi di rak-rak dan meja-meja. Sesaat saya mengira ada orang sedang berjualan buku. Ternyata bukan. Setelah saya perhatikan, terpampang tulisan yang kira-kira berbunyi seperti ini: ”perpustakaan umum, pinjam gratis.” Perpustakan di stasiun kereta? Dalam sejarah persinggungan saya dengan stasiun kereta api, baru kali ini saya mendapati sebuah layanan pinjam-meminjam buku. Mungkin saya yang alpa, mungkin memang sering ada perpustakaan semacam ini di stasiun-stasiun. Mungkin. Tapi, yang jelas, baru pertamakali ini saya menjumpainya sendiri.

Akal sehat saya agak sulit memahami jika sampai pihak pengelola stasiun punya inisiatif untuk bikin gerai perpustakaan semcam ini. Jika urusan soal calo, jadwal kereta, dan lampu sinyal bisa begitu kacau, apa mungkin ada ruang di otak mereka untuk berpikir tentang perpustakaan? Dugaan saya tak sepenuhnya salah. Saya lihat penjaga perpustakaan tersebut adalah seorang mahasiswi lengkap dengan atribut kebesaran jaket almamater. Di tembok di belakangnya juga terpampang logo universitas dan tentu saja logo PT KAI. Barangkali ini semacam Kuliah Kerja Nyata atau semacam Praktik Kerja Lapangan di universitas itu. Maaf, saya lupa nama universitas atau akademi itu, yang jelas bukan universitas besar semacam UGM, UNY, atau IAIN. Gagasan cemerlang tidak harus lahir dari nama besar bukan? (bahkan seingatku, yang pernah dilakukan UGM di stasiun kereta justru cuma memberikan layanan penjemputan buat calon-calon mahasiswa baru yang baru saja lulus ujian masuk UGM…).

Buku-buku yang disajikan di perpustakaan itu –tentu saja—tak banyak. Cuma ada sekitar tiga rak kecil. Sekilas ada buku tentang Gandhi, buku-buku komputer, buku manjamen, dan semacamnya. Seingatku, tak banyak pula yang memanfaatkan layanan itu (tak heran, bukankah kita memang jarang mendapati orang membaca buku di stasiun, di ruang tunggu, dan di halte bus?). Tapi yang jelas, gagasan meminjamkan buku gratis di stasiun sungguh sebuah ide yang segar kalau bukan cemerlang.

Biasanya orang menyalahkan soal minat baca (dan juga minat beli) buku begitu rendah di negeri ini. Barangkali benar bahwa minat baca memang tak setinggi di negeri-negeri maju (sekilas ini juga tampak di stasiun kereta itu). Tapi bukankah yang lebih penting adalah membuka bacaan akses seluas-luasnya pada masyarakat? Bukannya cuma terus mengeluh soal minat baca yang rendah. Dan upaya membuka perpustakaan di stasiun kereta api–meski terbatas jumlah buku dan jangka waktunya (mahasiswa tadi mengatakan perpustakaan itu hanya dibuka hingga mei)—adalah upaya yang sangat patut didukung dan diapresiasi oleh pengelola stasiun (dengan membuat perpustakaan permanen) dan juga oleh siapapun….

Heru Prasetia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: