Dag Dig Dug

Selasa, 11 April 2006

Catatan menjelang pertemuan islah warga di Pati

Adrenalinku seolah terpacu. Aku sepenuhnya sadar bahwa perasaan, emosi, dan nalarku semua bermain dalam pertemuan di rumah Pak Kyai Nuh. Ada perasaan marah, kesal, dan tegang. Dan aku pikir, semua orang yang hadir dalam pertemuan itu pasti merasakan hal yang sama. Mulai dari Pak Kyai Huda, seorang kyai muda yang energik dan cerdas; Gunritno; Khoiron, Direktur Desantara yang biasa bergaya cool; Pak Muhajirin, lurah desa setempat; aku sendiri; hingga Pak Kyai Nuh, tokoh agama setempat yang menjadi pangkal dari persoalan yang tiba-tiba menyergapku ketika datang ke Pati.

Saling bantah terjadi dalam pertemuan malam itu, tanggal 23 Maret 2006, sehari sebelum rencana pertemuan islah (perdamaian) antara Pak Kyai Nuh dan Pak Surojoyo, “sparing partner”-nya. Malam itu, segera sesudah kita makan gethuk dan ngopi di warung Banyol, kita berempat (Kyai Huda, mas Gun, khoiron, aku) memutuskan menyambangi Pak Kyai Nuh. Di sudut gelap warung itu kita bersepakat bahwa kunci penyelesaian konflik antara Pak Kyai Nuh dan Pak Surojoyo ada di Pak Kyai Nuh sendiri. Menurut Pak Kyai Huda, hubungan baik antara Pak Kyai Nuh dan Pak Pejabat Polisi (informasi yang kami dapat dari kunjungan siang sebelumnya ke rumah Pak Kyai Nuh) membuat jaring-jaring pengaruhnya terputus. ”Pak Pejabat Polisi itu punya banyak keluarga di Mabes. Dia juga orang “agamis” dan kesetiakawanannya tinggi. Kalo begitu, peran saya hanya sampai di sini,” kata Pak Kyai Huda.

Jedor! Pernyataan ini tentu bak daun pintu terbanting. Betapa tidak, pernyataannya itu langsung membuyarkan harapan penyelesaian konflik secara damai yang kami bangun sejak berangkat dari Ngawen. Ketika masih di Ngawen, kami berharap besar bahwa jaringan pesantren yang dimiliki Pak Huda akan bisa menumpulkan taji keangkuhan Pak Kyai Nuh yang ngeyel meminta islah dilakukan di rumahnya. Kami membayangkan betapa sulitnya pertemuan islah jika belum apa-apa Pak Kyai Nuh sudah gak mau mengalah dalam soal tempat (yang mestinya netral). Jaringan kultural pesantren dan NU ini penting karena Pak Kyai Nuh sendiri adalah tokoh NU lokal. Selain itu, isu yang muncul dalam perselisihan di antara Pak Kyai Nuh dan Pak Surojoyo (yang sebenarnya masih berhubungan darah) juga melibatkan isu agama.

Dari penuturan Pak Kyai Nuh, perselisihan itu sendiri berawal pada tahun 1999 ketika Pak Kyai Nuh menolak permintaan Pak Surojoyo untuk mengubah meteran listrik di rumahnSurojoyoa. Ketika itu, Pak Surojoyo masih nyalur aliran listrik dari rumah Pak Kyai Nuh (keduanya selain bersaudara juga bertetangga sebelah rumah). Malam itu, Pak Surojoyo tengah menggunakan alat serutan listrik untuk menyelesaikan pesanan mebel yang dikerjakannya. Masih menurut penuturan Pak Kyai Nuh, dia mengatakan bahwa sebaiknya alat serut itu hanya digunakan di siang hari, karena kebutuhan watt-nya tinggi hingga membuat aliran listriknya anjlok berkali-kali dan mengganggu aktivitas pengajian yang dilakukannya. Sejak saat itu Pak Kyai Nuh merasakan perubahan sikap Pak Surojoyo kepadanya, yang kemudian berkembang bukan saja dalam bentuk isu penolakan bersalaman, penolakan menghadiri undangan hajatan, tetapi sudah mengarah pada tuduhan antiagama (karena Pak Surojoyo dianggap suka menyetel musik tayub keras-keras di saat ada pengajian, atau kebiasaan Pak Surojoyo yang tidak pernah memberikan zakat ke panitia zakat kampung ds.). Tentu saja, Pak Surojoyo punya versi sendiri yang jelas tidak membenarkan cerita-cerita Pak Kyai Nuh itu.

Terlepas dari versi-versi tersebut, memburuknya hubungan keduanya itu akhirnya menggelinding menjadi isu besar ketika pada tanggal 9 Maret lalu Pak Surojoyo dituduh sebagai penyebab kesurupannya anak Pak Kyai Nuh. Menurut versi Pak Kyai Nuh, tuduhan itu bukan mengada-ada karena jin yang masuk ke jasad anaknya memanggil-manggil nama Pak Surojoyo dan istrinya (dia sendiri bilang menggunakan jasa orang yang ahli ilmu hikmah untuk menghilangkan penyakit anaknya sekaligus mengorek keterangan jinnya). Persoalan jadi kian runyam ketika Pak Surojoyo dituduh sebagai dukun santet. Berkembangnya tuduhan yang menakutkan itu membuat massa mendatangi rumah Pak Surojoyo selang dua hari kemudian. Mereka memintanya menandatangani surat perjanjian bermeterai yang isinya siap menanggung segala kekacauan yang terjadi di desa tersebut. Dipicu oleh kekhawatiran akan keselamatan jiwanya, Pak Surojoyo sekeluarga kemudian mengungsi ke Bombong. Disinilah awal keterlibatan mas Gun yang akhirnya menularkannya kepadaku.

Informasi adanya backing dari Pejabat Polisi untuk Pak Kyai Nuh itu membuat Pak Kyai Huda berpikir satu-satunya jalan adalah mendatangi rumah Pak Kyai Nuh untuk menakar kekuatannya. “Nek perlu mengko awake dhewe iso ngomong bakal teko karo bala-bala. Dheweke oleh gowo bolo. Kekerasan adu kekerasan,” katanya yakin. Hebat betul kyai satu ini, pikirku. Aku sih memang setuju untuk mendatangi Pak Kyai Nuh malam ini juga karena butuh membicarakan rancangan materi islahnya, tidak seradikal dan sekeras pak Kyai Huda (barangkali karena latar pendidikan sekulerku yang cenderung membuat orang menjadi pengecut, tidak berbasis realitas).

Sesampainya di rumah Pak Kyai Nuh, kita bertemu dengan Pak Lurah (yang memang dikontak Mas Gun untuk ikut hadir menemui Pak Kyai Nuh). Sejurus kemudian Pak Kyai Nuh muncul dengan rupa was-was, muka memerah, dan bicara terpatah-patah (tampaknya kehadiran banyak orang memang punya efek lumayan penting pada psikologi seseorang). Diskusi yang sesungguhnya baru terjadi setelah kurang lebih pertemuan berjalan 10 menit. Pak Kyai Huda mulai mematahkan segala asumsi Pak Kyai Nuh dengan menyebut-nyebut hasil investigasi yang dilakukannya di sekitar kampung tersebut. Hebatnya, dia kemudian memunculkan dalil dan kaidah fiqhiyyah tentang islah dan ilm al-hikmah yang serta-merta menggugurkan keyakinan Pak Kyai Nuh (ia kemudian secara eksplisit mencabut pernyataannya bahwa pertemuan dilakukan di rumahnya karena Pak Surojoyo mau meminta maaf). Kepandaian dan ketangkasan bicara kyai muda ini tampak sangat mempesona. “Jalan” yang dibuka oleh kyai muda ini memuluskan diterimanya pencabutan surat pernyataan yang ditulis oleh Pak Surojoyo oleh Pak Kyai Nuh sebagai salah satu materi pertemuan islah itu. Malam itu, kami pulang ke Bombong dengan sumringah.

Pagi ini, tanggal 24 Maret, kekhawatiran menyergap kami lagi. Kami baru tersadar bahwa upaya rekonsiliasi dan islah ini tidak semata-mata soal materi dan kesediaan berdamai. Ini juga soal teknis mediasi pertemuan, teknis memobilisasi dukungan dan perimbangan kekuatan politik, dsb. Pak Surojoyo mulai menanyakan bagaimana dia harus berkata. Kita mulai bertanya-tanya bagaimana kita bisa memastikan pertemuan berjalan seperti rencana. Mas Gun mulai sibuk mengontak semua orang yang terlibat. Seorang laki-laki ber-hape nokia besar (aku gak tahu tipenya, tapi biasa dipakai sama anggota DPR, yang katanya bisa connect internet) mulai sibuk menelepon Pak Lurah (kasih dukungan dan masukan padanya sebagai mediator). Aku sendiri mulai menata kekhawatiran dalam diriku.

Bombong, 24 Maret 2006
Jam 13.40 (dua puluh menit sebelum pertemuan islah)

PS. Nama-nama orang local yang terlibat konflik ini sengaja disamarkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan

Achmad Uzair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: