Rangkuman diskusi Kunci dg pembicara utama Gayatri Spivak

Sabtu, 18 Maret 2006

Realino, 5 Maret 2006
Jam 10.30-13.15
Tema diskusi secara umum adalah demokratisasi dan gerakan kebudayaan. Selain Gayatri Spivak, ada dua orang pembicara lainnya, yaitu Kuan Hsing-Chen dari National Tsing Hua Taiwan dan Hilmar Farid dari Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI).Tema diskusi secara umum adalah demokratisasi dan gerakan kebudayaan. Selain Gayatri Spivak, ada dua orang pembicara lainnya, yaitu Kuan Hsing-Chen dari National Tsing Hua Taiwan dan Hilmar Farid dari Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI).Kesempatan pertama yang diberikan kepada Spivak dimanfaatkan olehnya untuk mengangkat beberapa tema sentral seputar hak memilih, esensi demokrasi, global civil society dan peranan gerakan kebudayaan. Dengan mengambil contoh pemilu di Algeria, Spivak mengatakan bahwa pemilihan umum bukanlah parameter sejati untuk menakar demokrasi. Berdasarkan pengalaman pribadinya, banyak para pemilih awam yang tidak mengerti hakikat dari hak pilih yang mereka miliki. Disinilah menurutnya terjadi kesenjangan besar antara elit dan rakyat awam yang membuktikan demokrasi tidak benar-benar bekerja. "Kita tidak bisa beranggapan bahwa orang lain senantiasa mengerti apa yang kita harapkan mereka untuk mengerti," begitu kira-kira kata Spivak. Menurutnya, dalam konteks seperti ini, pemilu hanya menghasilkan power block yang memungkinkan mereka yang duduk di kursi kekuasaan terpilih secara otomatis (self-elected). Kondisi seperti ini diperparah oleh keengganan aktor-aktor gerakan perubahan untuk bergerak dari tuntutan freedom from (fear etc yang lebih berorientasi diri) menuju freedom to (speak etc yang lebih berorientasi/menghargai orang lain). Jika ini yang terjadi, sesungguhnya sistem demokrasi telah gagal menjalankan fungsinya. Karena, menurut Spivak, demokrasi yang sejati adalah demokrasi yang memberi ruang kepada semua (tak satu orangpun boleh dilewatkan).

Di tengah situasi kesenjangan yang semakin akut akibat globalisasi ekonomi mutakhir, tugas para aktor perubahan adalah mengikutsertakan sebanyak mungkin mereka yang ada di strata sosial terbawah untuk ikut dalam proses-proses demokrasi. Menurut Spivak, satu cara yang paling riil bisa dilakukan ke arah itu adalah dengan mentransfer semua bentuk pengetahuan ke dalam bahasa lokal yang bisa dimengerti oleh kelompok sosial yang terpinggirkan. Alih-alih memberikan sumbangan riil pada gerakan pemberdayaan subaltern, global civil society justru cenderung memperbesar jarak antara elit dan rakyat karena sifat eksklusivitasnya. Meski tetap mengakui manfaat positif dari lingkungan bahasa internasional yang sudah dienyamnya, Spivak berpandangan bahwa bahasa (Inggris) merupakan barrier terbesar bagi kelompok subaltern untuk turut berpartisipasi dalam proses demokrasi. Subaltern itu sendiri didefinisikan oleh Spivak sebagai kelompok yang terputus secara total dari mobilitas sosial. Mereka yang menjadi bagian dari kampanye globalisasi bahasa Inggris, menurut Spivak, justru turut memperparah situasi kelompok-kelompok marginal. Lebih dari sekedar pengantar komunikasi, bahasa bagi Spivak berperan signifikan karena semua memori kolektif kita tersimpan dalam bahasa. Sehingga tidak mengherankan apabila Gayatri berkali-kali menggarisbawahi pentingnya menggunakan bahasa lokal untuk mendorong terjadinya perubahan. Meski mengakui pentingnya bergerak dalam sistem (kekuasaan), namun Spivak secara eksplisit menunjukkan preferensinya untuk bergerak di tingkat yang sangat lokal, antara lain lewat promosi penggunaan bahasa lokal yang mudah diakses oleh kelompok-kelompok subaltern. Di bagian akhir ceramahnya, Spivak menyatakan keyakinannya bahwa perubahan yang lebih tahan lama hanya bisa dilakukan di wilayah yang sangat lokal dan dalam skala kecil.

Khusus menyoal tentang globalisasi ekonomi, tak ubahnya seperti para pengamat ekonomi politik Marxis lainnya, Spivak menyatakan perlunya "reinventing the state" untuk memulihkan kekuasaan dan tanggung jawab negara atas rakyatnya. Baginya, kesalahan terbesar dari globalisasi perdagangan mutakhir adalah karena ia meruntuhkan pondasi welfare state di negara-negara maju dan development state di negara-negara berkembang. Situasi ekonomi politik dunia menjadi kian tidak menentu karena, menurut Spivak, kekuasaan tidak lagi ada pada negara.

Menyambung ide Spivak soal pelanggengan sistem dominasi internasional (diantaranya lewat bahasa), Kuan Hsing-Chen juga menyatakan bahwa kekuatan terbesar negara-negara Barat diantaranya terletak pada penguasaan media yang punya jalur distribusi dengan jangkauan dunia. Perusahaan penerbitan seperti Routledge atau Taylor and Francis memudahkan Barat "mendesakkan" gagasan mereka ke seluruh dunia. Menurutnya, salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk membendung gurita kekuasaan pengetahun Barat itu adalah lewat penciptaan jaringan gerakan kebudayaan Asia (baca: dunia non-Barat) dan balik mengekspor gagasan-gagasan kelompok non-Barat ini lewat terjemahan-terjemahan dalam bahasa Inggris.

Hilmar Farid sendiri dalam forum ini tak cukup memberikan umpan-umpan yang bagus kepada audiens atau dua pembicara lainnya. Dalam kesempatan berbicaranya, Hilmar lebih banyak menyoal tentang gerakan kebudayaan di negeri ini yang menurutnya tak bisa dilepaskan dari semangat pertarungan berebut kue kekuasaan (dia menyebut sejarah gerakan kebudayaan Indonesia baru seumur Orde Baru). Satu-satunya umpan yang bagus dari Hilmar Farid adalah gugatan kepada Spivak untuk menelorkan teori-teori yang mendedahkan celah kelemahan (vulnerability) sistem yang dominan (yang kemudian dijawab Spivak dengan jawaban yang standar: "saya sedang berusaha ke arah sana").

Secara umum, gaya orasi Spivak memang lumayan memukau. Namun, menurut penilaianku, her speech was not as good as I expected. Mungkin karena dalam diskusi ini dia tampaknya lebih banyak berbicara tentang wilayah demokrasi secara umum (yang kupikir bukan merupakan wilayah spesialisasinya).

Uzair Fauzan

One Response to “Rangkuman diskusi Kunci dg pembicara utama Gayatri Spivak”

  1. sjytuyioiu Says:

    Here are some links that I believe will be interested


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: