Cerita Dari Tepi Mahakam

Sabtu, 18 Maret 2006

Menulis catatan perjalanan rasanya sama dengan proses membual di kedai kopi. Kadang ada bagian yang, baik secara sengaja maupun tidak, ditambahi dan disimpan oleh sang ‘pembual’. Entah itu demi kemenerusan cerita, maupun karena suatu pengetahuan awal yang sudah dimiliki oleh sang pencerita. Karenanya, dengan rendah hati, penulis memohon kepada pembaca, kiranya tulisan ini janganlah dijadikan sebagai bahan baku bagi kepentingan akademik, karena jelas itu tidak pada tempatnya, apalagi sebagai scripta yang mesti diimani secara saklak, itu jelas kesalahan besar. Seperti bualan di kedai kopi, kadangkala didengar karena merasa sungkan untuk meninggalkan si kawan yang sedang membual, atau kadangkala didengar karena memang tertarik dengan sesuatu yang dibualkan, atau kadangkala didengarkan karena tak ada pekerjaan lain, alias hanya mengisi waktu.

Dengan prakondisi yang begitu, barulah pekerjaan ini laik dimulai. Dan lazimnya para pembual, cerita yang sama bisa jadi diulang-ulang di dalam pelbagai kesempatan. Karenanya, apabila di antara pembaca yang budiman secara sayup-sayup pernah mendengarkan versi lain cerita ini entah dimana dan entah kapan, hendaknya berpeganglah kepada fakta tertulis, karena, mengikuti ujaran salah seorang penulis besar: “jangan pernah mempercayai apapun dari seorang penulis, kecuali tulisannya.” Kira-kira begitulah.

Perjalanan kali ini adalah pengalaman pertama bagiku bepergian dengan menyandang predikat sebagai seorang geologist. Mungkin karena masih pemula, beberapa kali di atas kursi burung raksasa yang menerbangkan kami dari Cengkareng, Jakarta, menuju Sepinggan Balikpapan, aku tersenyum-senyum sendiri sambil pura-pura memandang keluar jendela tentunya, agar tak diketahui oleh anggota tim yang lain.

Dalam ekspedisi kali ini tim kami—terdiri dari 8 orang geologist, 1 orang field assistance, 1 orang mekanik, dan 1 orang bagian logistik, dan 1 orang yang mengurusi perihal manajerial dan lobi-lobi dengan Pemda setempat—mendapat tugas untuk menyelesaikan peta geologi daerah yang akan diselidiki dengan skala yang lebih detil dari yang sudah ada. Daerah penyelidikan yang seluas 19.000 ha terletak persis sedikit di atas ‘garis semu’ equator yang, kata orang merupakan salah satu permukaan bumi yang paling dekat dengan matahari, sehingga otomatis menjadi salah satu tempat yang paling panas di dunia. Secara administratif terletak di Desa Tukul, Kec. Tering, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.

Kembali ke alur perjalanan. Dari Bandara Sepinggan perjalanan diteruskan menuju Kota kecil Melak (Ibukota Kabupaten Kutai Barat) dengan naik pesawat capung, yang saking ‘capung’-nya, “tidak memungkinkan kita untuk berdiri dalam posisi tegak penuh di dalamnya.”

Setelah berada di udara dengan ketinggian yang masih memungkinkan kita untuk mengenali bentang alam yang ada di bawah sana, apakah berupa sungai yang terbentuk akibat proses alamiah, atauakah jalan-jalan raya yang lurus pertanda ia adalah hasil kreasi manusia, selama kurang lebih 45 menit, akhirnya aku dapat mengelus dada dengan lega, karena pesawat capung mendarat dengan sukses (disertai goncangan dan suara mesin yang berisik tentunya) di Bandara kecil Kota Melak. Dan tindakan pertama yang kulakukan begitu keluar pesawat adalah buang air kecil di semak-semak di sekitar menara kontrol yang masih setengah jadi.

Setelah semalam di Melak, keesokan harinya, sekira pukul 07.00 WITA (waktu di Melak lebih cepat satu jam dibandingkan dengan waktu di Jakarta), tim melanjutkan perjalanan. Dua mobil Strada dan 2 Hiline lengkap dengan Bang Supir yang telah menguasi medan Borneo telah disediakan oleh tim logistik untuk mengangkut tim dan segala perlatan kerja.

Kurang lebih pukul 10.00 WITA, tim kami sampai di Kota Kecamatan, Tering. Kota yang kecil, tetapi memegang peranan vital sebagai salah satu urat nadi perekonomian daerah di sekitarnya, karena posisinya yang terletak di ‘Pantai Mahakam’ (Orang-orang Dayak selalu menyebut daerah tepi Sungai Mahakam dengan ‘Pantai Mahakam’. Dari kota Kecamatan ini perjalanan diteruskan dengan naik ces (‘ces’: kapal motor di Sungai Mahakam). Setelah 2 jam perjalanan di jalan hot mix yang berliku dan naik turun, akhirnya tim sampai di Desa Tukul, dimana base camp sudah disiapkan.

Desa Tukul merupakan sebuah desa tipikal Dayak di pantai Mahakam. Lengkap dengan pelbagai atribut seperti lamin (rumah panjang), totem (patung kayu), dan rumah-rumah panggung orang Dayak. Penduduknya kurang lebih 1000 jiwa (angka ini penulis dapatkan dari Pak Takhen—salah seorang warga—melalui perbicangan yang hangat dan intim pada suatu malam yang memerah terpanggang oleh beberapa botol Tequilla dan Topi Miring). Semua penduduk, kecuali beberapa kawan dari Flores mantan kuli logging yang terjebak tak bisa pulang kampung karena kegiatan logging sedang tiarap, adalah suku Dayak Bahau. Meski pada sepanjang kampung masih terlihat rumah-rumah terapung dengan fondasi kayu bulat di bagian tepi sungai yang berarus tenang, tetapi hampir semua penduduk sudah memiliki rumah di darat. Rumah mereka rata-rata terbuat dari kayu ulin dengan konstruksi rumah panggung. Base camp kami sendiri merupakan sebuah rumah panggung berlantai dua dengan bahan dasar kayu ulin. Bagi orang-orang di kota besar, seperti Jakarta misalnya, barangkali rumah panggung dari kayu adalah suatu yang wah, karena harga kayu yang selangit, tetapi sebaliknya yang terjadi di Tukul, rumah dari beton adalah rumah mewah yang hanya orang-orang tertentu yang dapat memilikinya.

Desa Tukul hanya dapat dicapai melalui jalan air, karena jalur darat yang tembus dari daerah Barong Tongkok sampai sekarang belum dimulai pembangunannya. “Bupati Rama (Maksunya Ir. Rama Asia, Bupati Kutai Barat periode 2001-2006) sudah beberapa kali mengatakan akan segera membuka jalan tembus tersebut, tetapi sampai sekarang masih belum jadi juga,” demikian Pak Supit, salah satu petinggi adat Desa Tukul yang kebetulan juga merupakan pemilik rumah yang kami jadikan base camp. Barangkalai kekecewaan di tingkatan masyarakat seperti itu yang kemudian menyebabkan Bupati Rama menjadi ‘anomali’ dalam Pilkadal di Kutai Barat medio Februari 2006 yang lalu. Di tengah-tengah kecenderungan kemenangan para pejabat lama dalam proses Pilkadal di pelbagai daerah di Indonesia, ironis, Bupati kita ini malah terjungkal dari singgasana kekuasaan yang selama lima tahun terakhir dinikmatinya.

Di bagian hilir Desa, kita dapat menemukan lamin. Tetapi lamin di Desa Tukul ini tidak dihuni lagi, karena satu sampai dua dasawarsa belakangan ini kegiatan membangun rumah pribadi adalah salah satu agenda awal bagi para pasangan muda. lamin hanya dipakai untuk upacara-upacara adat tertentu, seperti misalnya acara Tari Belian (seremoni pengobatan orang sakit oleh Dukun Dayak), upacara melepas kematian, upacara syukur untuk panenan dan lain-lain. Beberapa pakar menyebut, “bagi orang Dayak lamin merupakan pertanda ke-Dayak-an mereka,” (Yekti Maunati; Identitas Dayak, Komodifikasi dan Politik Kebudayaan; 2004). Dengan sendirinya pembangunan kembali lamin, yang meski sudah tak dihuni secara komunal seperti dulu, dapat dianggap sebagai salah satu usaha orang Dayak untuk meneguhkan kembali identitas ke-Dayak-an mereka. Seperti yang terjadi di Desa Tukul. Versi beberapa orang warga, lamin mereka dibangun dengan menghabiskan biaya melebihi 300 juta rupiah.

Lamin di Desa Tukul memiliki konstruksi yang sangat ‘khas Dayak”: rumah panjang bertiang kayu, atap yang tinggi khas bangunan tropis untuk memudahkan aliran air hujan jatuh ke tanah, dan halaman yang luas lengkap dengan totem di salah satu bagiannya.

Menurut cerita dari mulut ke mulut, sekali lagi dari mulut ke mulut, totem Dayak di halaman lamin biasanya minimal terdiri dari dua buah (seperti yang terdapat di Desa Tukul). Totem-totem kayu ini biasanya terbuat dari kayu dengan diameter kurang lebih 40-50 cm, dengan tinggi ada yang mencapai 7 m. Pada sepanjang tubuh kayu biasanya berisi relief-relief yang menggambarkan manusia dengan pelbagai corak posisi ataupun binatang-binatang yang dijumpai di belantara Kalimantan. Totem yang menghadap ke arah timur (arah terbit matahri) biasanya dipakai untuk menambat haiwan kurban pada upacara-upacara yang cenderung bergembira, seperti kelahiran dan panen padi. Sementara totem yang menghadap ke barat (arah terbenam matahari) biasanya dipakai untuk menambat haiwan kurban pada upacara duka seperti kematian.

Berbincang tentang upacara adat, versi Pak Takhen, dulu di setiap upacara adat yang menimbulkan keramaian biasanya selalu diiringi dengan acara judi berupa sawung (adu jago), tetapi belakangan ini dengan alasan ‘judi tidak baik’ pemerintah melarang acara tersebut. Acara sawung biasanya melibatkan banyak pemain judi dengan pelbagai variasi uang taruhan. Mulai dari yang ‘recehan’ sekitar beberapa ratusan ribu, sampai yang pemain kelas ‘kakap,’ dengan nilai puluhan juta rupiah. Jago yang akan bertarung biasanya dilengkapi dengan taji buatan yang ditempah khusus dari bahan dasar besi, dibentuk sedemikian rupa hingga pas dan mudah mengikatnya di kaki jago aduan. “Untuk mengikatnya diperlukan benang khusus,” tandas Bapak dua anak ini yang mengaku baru beberapa tahun belakangan ini tidak mengikuti acara sawung. “Dulu saya sangat aktif mengikuti acara sawung yang hampir setiap minggu ada di berbagai desa di Pantai Mahakam,” katanya mengenang kegiatannya beberapa tahun yang lalu.

Penduduk Desa Tukul hampir semuanya bermata pencaharian sebagai petani. Mereka mananam padi di huma. Padi di Tukul tidak dipupuk, tetapi hanya ditanam, kemudian dibiarkan hingga panen. Beberapa orang penduduk memiliki kebun karet, huma yang ditanami jagung, dan lain-lain. Selain bercocok tanam, penduduk Desa Tukul juga sering memakai waktu luangnya berburu di dalam hutan. Pusparagam binatang buruan yang sering diperoleh oleh penduduk, misalnya payau (rusa), kijang, pelanduk, serta babi hutan yang, karena semua penduduk Desa Tukul beragama Katolik dan Protestan, memungkinkan mereka untuk memakan jenis binatang buruan yang terakhir ini. Mereka berburu dengan memakai bedil dan sumpit. Selain itu, di beberapa lokasi hutan, selama melakukan survey geologi, beberapa kali tim juga masih sempat menemukan jebakan yang terpasang. Seperti yang sering ditayangkan film-film Hollywood yang bertemakan perang Vietnam: “dari suatu arah—entah atas, samping kiri ataupun kanan—tiba-tiba bisa saja datang segerombolan bambu runcing menombak mangsa yang kebetulan menyenggol kait jebakan tersebut.” Untuk menghindari jebakan mengenai manusia, biasanya para pemasang jerat menandai lokasi yang dipasangi jerat dengan mengikat suatu jenis rumput tertentu pada jalan setapak menuju lokasi jebakan.

Daging hasil berburu biasanya dimasak dengan cara digulai, dan pada momen-momen tertentu, dibakar. Kalau jumlah binatang buruan yang didapat banyak, penduduk biasanya mengawetkannya dalam bentuk dendeng asinan.

Selain binatang buruan dari dalam hutan, sumber makanan lain adalah potensi ikan yang melimpah di Sungai Mahakam. Anda jangan terkejut, kalau misalnya suatu saat memiliki kesempatan untuk buang air besar di jamban-jamban rumah terapung orang Dayak di Sungai Mahakam, ketika tiba-tiba tai anda diperebutkan oleh ikan-ikan di bawah jamban, bahkan beberapakali pengalmanku, kecipakan air akibat ikan-ikan yang berebut tai di bawah jamban, sampai-sampai membasahi beberapa bagian celana. Ikan baung, patil dan beberapa jenis ikan air tawar lain (tampaknya?) adalah ikan yang paling banyak populasinya di Sungai Mahakam.

Selain sebagai sumber protein nabati, Sungai Mahakam juga memegang peranan sentral sebagai sarana transportasi. Angkutan sungai adalah salah satu urat nadi transportai di sepanjang Pantai Mahakam. Sirkulasi barang-barang produksi dari Samarinda diangkut ke arah hulu dengan memakai kapal-kapal motor yang setiap hari berlalu lalang di Sungai Mahakam. Sebaliknya, pelbagai jenis barang material diangkut dari arah hulu menuju hilir, juga dengan menggunakan kapal-kapal motor. Material ini misalnya meliputi kayu, bahan tambang seperti batubara dan mineral (emas), serta hasil-hasil kerajinan rotan orang Dayak.

Aktivitas pertambangan, dan belakangan kayu, merupakan dua hal yang pada dasawarsa terakhir ini menjadi penggerak perubahan pola pencaharian di sekitar Pantai Mahakam. Dari pola pencaharian yang sebelumnya relatif masih sangat tergantung pada alam, ke arah pola pencaharian yang semakin terindustrikan. Orang Dayak yang pada aslinya menggantungkan hidupnya dari berburu binatang di belantara Kalimantan, menanam padi secara alamiah tanpa terburu-buru, tetapi belakangan sudah mulai berubah. Banyak bagian dari masyarakat yang menjadi pekerja di perusahaan tambang dan kayu. Sebagain besar di antara mereka biasanya berprofesi sebagai porter (untuk perusahaan tambang) dan surveyor (untuk perusahaan kayu). Karena kedua profesi ini sangat pas dengan penguasaan mereka terhadap hutan di sekitarnya.

Tampaknya pergeseran profesi ini juga mengakibatkan pergeseran dalam pola konsumsi dan pola berfikir. Perusahaan tambang dan perusahaan kayu yang mendatangkan banyak tenaga kerja berpendidikan dari luar Kalimantan biasanya membawa pelbagai macam kebiasaan juga. Kulkas bukanlah barang langka disana, dengan mudah anda akan menemuinya di hampir setiap rumah panggung. Atau sebut lagi, 2 anak Pak Takhen, Oge dan Lejau yang sudah sangat familiar dengan pelbagai jenis minuman kaleng seperti fanta, sprite dan coca-cola, serta pelbagai jenis makanan kaleng seperti cornet dan sarden. Hal ini mudah dipahami, karena bagi para tenaga kerja berpendidikan yang didatangkan dari luar Kalimantan, minuman dan makanan kaleng adalah salah satu pilihan yang paling strategis untuk pekerjaan-pekerjaan lapangan yang menuntut banyak hal. Kita ambil contoh, dalam sebuah survey geologi, kadang-kadang dibutuhkan waktu empat sampai lima hari melakukan flying camp di dalam hutan karena kesampaian daerah yang harus diselidiki tidak memungkinkan untuk kembali ke base camp setiap hari. Maka dalam kondisi seperti itu, makanan kaleng (tampaknya) adalah pilihan paling benar. Karena selain tahan lama (bandingkan misalnya dengan sayur dan ikan) juga kemasannya paling mudah untuk diangkut. Tak pelak, proses seperti ini yang melibatkan penduduk setempat sebagai porter, menyebabkan terjadinya juga proses pembiasaan terhadap minuman dan makanan jenis itu bagi mereka.

Dalam pola berfikir, irama kerja di perusahaan tampaknya juga berpengaruh sangat signifikan bagi orang-orang Dayak. Kalau sebelumnya sistem pertanian menuntut mereka untuk bersabar menunggu masa panen, tetapi irama kerja di perusahaan telah mengubah hal tersebut. Karena rata-rata orang dayak dikontrak oleh perusahaan sebagai tenaga harian lepas (THL), yang berarti mereka digaji harian. Jadi begitu mereka bekerja sehari, maka sorenya gaji langsung cair. Ini berarti memangkas sekian rentang waktu menunggu yang sudah menjadi pengalaman mereka sebagai petani. Sejauh mana perubahan pelbagai dimensi dalam masyarkat Dayak seperti di atas tampaknya menjadi lapangan studi yang menarik untuk dijelajahi lebih lanjut.

Menghadapi perubahan ke arah masyarakat ‘industri’ tersebut, tampaknya orang Dayak menghasilkan pelbagai macam reaksi. Sebagian besar masyarakat melihat hal ini sebagai peluang. Dikatakan begitu, karena misalnya mereka dapat dengan cepat menguasai teknologi yang dipakai di industri kayu. Penulis sempat terkejut ketika mengetahui bahwa seorang warga—sebut saja bernama Alex—yang berpendidikan tidak tamat SMP, ternyata sangat handal dalam mengemudikan traktor, piawai dalam menebang pohon dengan chainsaw, dan bisa membaca kompas penunjuk arah.

Dalam keseharian, bekerja di lapangan dengan para porter orang Dayak, rasanya seperti berhadapan dengan manusia yang memiliki struktur diri yang konsentris, alias lingkaran yang berlapis-lapis dan semakin mengecil ke arah pusat. Pada tahap pertama tampaknya mereka begitu terbuka dan ingin tahu dengan segala peralatan yang digunakan, serta menanyakan banyak hal tentang pelbagai potensi yang ada dalam wilayah hutan adat mereka. Meski, tampaknya jelas mereka tidak mengerti secara metodologi kerja-kerja survey geologi, tetapi dengan sangat percaya diri beberapa orang di antara mereka menanyakan: “kalori batubaranya berapa Pak?” mendengarnya, sebagai seorang geologist pemula, aku hanya bisa menjawab seadanya, “lumayan!”

Reaksi tidak berhenti hanya sampai di sikap ingin tahu tentang pelbagai potensi daerah mereka dan usaha memahami pelbagai peralatan teknologi yang digunakan, tetapi malah meloncat ke lapisan berikutnya di ranah yang lebih konkrit. Bukan cerita yang asing, kalau misalnya, setelah suatau siang tim survey geologi baru selesai melakukan deskripsi batuan di salah satu singkapan, maka keesokan harinya, lokasi yang tadinya kosong dan hanya ditumbuhi oleh semak-semak, sudah berubah menjadi ‘kebun baru’ lengkap dengan pelbagai tanaman seperti karet, sawit, pisang, yang masih kecil-kecil dengan posisi yang terlihat seadanya pertanda baru ditanam, dan memberikan kesan penanamannya dikerjakan buru-buru. Gampang dimengerti, tentunya hal ini adalah salah satu cara dalam meningkatkan nilai ganti rugi yang bakal diperoleh seandainya kegiatan eksplorasi berkembang ke arah yang lebih lanjut. Karena biasanya, dalam pembebasan lahan potensial, selain luas tanah, jenis dan jumlah tanaman ‘artifisial’ yang berada di atas lahan juga menjadi pertimbangan pihak perusahaan dalam memutuskan.

Struktur konsentris ini terus berlanjut ke lapisan yang lebih dalam dan subtil. Dan rasanya penulis yang bodoh ini harus bersembah sujud kepada Tuan Scott yang telah sangat membantu penulis dalam menjaga emosi ketika berhadapan dengan pelbagai fenomena kemanusiaan seperti yang akan dibahas. James C. Scott telah menguraikan kepada kita dengan sangat memikat tentang pelbagai bentuk perlawanan sehari-hari kaum tani di Malaysia (Weapon of the Weak, Everyday Forms of Peasant Resistance; 1985), mulai dari para pekerja pengetam padi yang bermalas-malasan sampai tindakan mengantongi padi yang diketam. Kejadian-kejadian yang kurang lebih sama banyak terjadi di Pantai Mahakam ini. THL yang bekerja uring-uringan, penunjuk jalan yang membawa melewati rute berputar, padahal setelah sampai di lokasi yang dituju kalau dicek di dalam global positioning system (GPS), rute telah berputar sehingga jarak tempuh semakin jauh. Dengan jarak tempuh yang semakin jauh tampaknya para THL berfikir bahwa mereka akan memiliki hari kerja yang semakin banyak, karena waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan area yang menjadi target penelitian akan semakin lama. Buah yang tiba-tiba habis dari stok di base camp tanpa diketahui siapa yang memakannya, dan seterusnya. Dan mengenang Scott ketika menghadapi pelbagai peristiwa itu adalah sebuah lelucon yang sungguh-sungguh tak garing.

Seperti biasa, perusahaan tambang juga menggerakkan sektor lain yang tak kalah seru, yaitu usaha porstitusi. Tercatat di Kutai Barat, yang dulu menjadi tempat beroperasinya P.T. KELIAN EQUATORIAL MINING/PT KEM (sebuah perusahaan tambang emas yang telah usai), terdapat setidaknya tiga buah lokalisasi yang terpusat, serta sekian lokasi yang berceceran. Dua di antaranya, Kilo Dua Indah (KDI) yang terletak dua kilometer dari kota kecamatan Tering, dan Jaras, yang terletak di dekat Sendawar.

Versi salah seorang penghuni yang sempat penulis ajak bercerita, semasa aktifnya P.T. KEM pendapatan mereka per harinya sangat lumayan, tetapi begitu PT KEM tutup, penghasilan mereka menurun drastis. Para buruh perusahaan kayu yang menjadi pelanggan mereka berikutnya, katanya tidak ’seroyal’ para buruh tambang. Dan sekarang perusahaan-perusahaan kayu pun sudah tiarap, pelanggan mereka sekarang hanya para tukang ojek dan preman pasar yang sering datang dalam keadaan mabuk.

Begitu mengetahui bahwa kami dalam proses survey geologi di daerah ini, beberapa orang pekerja seks komersial ini langsung memperlihatkan wajah yang berseri-seri, mungkin mereka membayangkan akan kembalinya zaman keemasan seperti di masa P.T. KEM beroperasi. Tak berhenti sampai di situ, beberapa orang pekerja malah lebih berani, ada yang mulai memasang tampang menggoda dan tangannya mulai lebih berani meraba wilayah-wilayah yang sensitif di bagian tubuh. Tetapi sebagai seorang anak muda yang, meski mungkin belum memiliki jam terbang yang banyak mengenai dunia ‘esek-esek’, tetapi lumayan sering mendengar cerita-cerita bagaimana menghadapi para profesional ini, aku sendiri langsung memasang kuda-kuda siap ‘bertempur’. Begitu salah seorang pekerja profesional di KDI mendekat dan mulai mencoba memasang kailnya, dengan pendekatan-pendekatan yang sangat menyentuh bagi seseorang yang sudah berminggu-minggu berada di dalam hutan, aku langsung menarik jurus. Salah seorang pekerja mencoba mendekat dan bertanya, “barusan dari mana mas?” Dengan muka setenang mungkin aku langsung menjawab dengan sok dingin, “tadi barusan dari Jaras, pengen minum, makanya singgah di sini.” Dan ternyata jurus itu sangat ampuh, si pekerja langsung berubah mukanya menjadi cemberut, seolah ia tak rela menerima aku yang baru pulang dari lokalisasi lain. Dalam hati aku bergumam, “Ternyata lonte juga tak rela teritorinya disentuh dan tak sudi menerima ‘bekas’,” untuk selanjutnya aku tertawa penuh kemenangan. “Ha…ha…ha…, cari makan kok masih ada cemburunya?” (dalam hati tentunya. Dan dengan posisi yang problematis: sedikit kasihan karena sudah merasakan bagaimana susahnya cari makan, dan sedikit ketakutan mengingat pelbagai fenomena penyakit kelamin, dimana kata orang lokalisasi adalah endeminya).

Begitulah, akhirnya, pengalaman pertama ini berjalan apa adanya, dan pada tanggal 25 Februari aku telah berada di Bandara Sepinggan Balikpapan, untuk menunggu penerbangan ke Jakarta. Rasanya mata seperti dikalibrasi ulang setelah berminggu-minggu tidak melihat perempuan putih mulis dengan bagian-bagian tubuh tertentu yang seolah kesesakan karena ia mengenakan baju yang terlalu sempit. Dan begitu makhluk jenis ini lewat disampingku, entah memang benar dia memakai wewangian atau entah hanya ilusiku, tiba-tiba aku merasakan hawa di sekitarku menjadi harum merona, “ughh… akhirnya aku dapat kembali mencium aroma parfum perempuan… Bangsat! Baru disitu aku baru benar-benar percaya kalau aku adalah seorang lelaki.” Dan aku hanya dapat memejamkan mata melewati saat-saat genting yang berlangsung mungkin tak sampai sedetik itu.

Akhirnya pesawat lepas landas, dari jendela kecil aku hanya dapat memandangi bumi Borneo di bawah sana, melihati hijaunya hutan tropis yang kadang terseling oleh bagian bumi yang terkelupas, memerah tanah akibat aktivitas perusahaan-perusahaan ekstraksi yang telah menggali isinya, mengenang Bu Supit yang telah menjadi salah seorang teman ngobrol terbaik yang sangat menyenangkan, dimana kepadanya aku selalu meminta pinang, seorang Ibu yang mengatakan padaku bahwa setiap orang yang telah mencicipi air Mahakam pasti akan kembali. Mengenang Oge dan Lejau yang melepasku dengan wajah sendu seolah mengenang saat-saat kami berperahu bersama di Mahakam dan di sela-sela pepohonan di belakang rumah ketika banjir Mahakam sedang tinggi-tingginya. Aku hampir tertawa melihat rambut mereka yang masih kepirangan, lurus-lurus, dan jarang, dengan wajah-wajah yang sepenuhnya lucu, bersahabat, damai, dan mata-mata mereka yang bening memendarkan sesuatu entah apa dari dunia kanak-kanak tanpa masalah. Mengenang ketika Oge, mendatangiku yang sedang mencuci sepatu pada suatu sore yang membiaskan senja di hulu Mahakam: ia datang menjinjing setusukan ikan air tawar dan berkata, “Om, ayo kita bakar ikan Om.” Mengenang Lejau yang jarang menyerahkan uang kembalian kalau kusuruh membeli sesuatu di warung orang Bugis. Ughhh… ternyata dunia industri yang selama ini kukutuki juga penuh dengan momen-momen detil yang setiap saat seolah memanggil-manggil dari masa lalu. Sampai ketemu kawan!!!

Yogyakarta, 10 Maret 2006
Bosman Batubara

5 Responses to “Cerita Dari Tepi Mahakam”

  1. jundan Says:

    oalah,dari atas ke bawah rasanya asyik baca.
    sesampainya di bawah, jebul bosman batubara-geologi ugm juga to le. hehe, apik2 ceritane…aja lali ke lokalisasi lain utk mencemburukan org ya.


  2. “Hari kemarin saya kaget ketika menerima kabar dari seorang teman yang menonton tayangan “Kupas Tuntas”. Tema yang diangkat masalah blog, blogger, dan blog content. Pokok masalahnya, pemerintah menghendaki agar aktivitas blogger diawasi, dibatasi. Khususnya bagi mereka yang memuat tema-tema kritik sosial dan kritik pemerintahan. Tentu saja hal ini sangat menarik perhatian saya, juga Anda tentunya. Sekurang-kurangnya, bilamana kebijakan itu keluar, saya dan Anda semua sebagai blogger akan terancam dan terkebiri hak kebebasan berpendapat dan akses informasi”.

    selengkapnya … Untuk Blogger di Seluruh Indonesia

  3. Lisa Says:

    Pa’ Bosman,

    Boleh ga’sy minta e-mailnya (japri) ada sesuatu yang ingin saya tanyakan.

    Thx, Lisa

  4. Rama Asia Says:

    Saya hanya tertarik pada bagian yg berkenaan dg diri saya ketika tulisan ini dibuat. Sayangnya baru saat ini saya membaca tulisan ini. Mustinya, kalau bung Bosman ngerasanin saya, mbok ya saya dikasih copy tulisannya. Kalau tdk tau alamat, bisa dicari, saya kan di Samarinda. Makanya, biarpun terlambat, sebaiknya saya komentari juga supaya bung Bosman jangan keliru main duga-dugaan. Secara total, saya kalah dalam pilkada Kubar 2006, tapi di Kampung Tukul sendiri saya menang. Kekalahan saya bukan karena kurangnya pemilih yg memilih, tetapi karena data pemilihan saya dimanipulasi, di kampung yg saya menang, suara saya diganti sehingga terbalik. Saya tdk mengada-ada, tapi pelaku-pelaku kecurangan itu sendiri yg datang kepada saya membuat pengakuan. Di beberapa kampung yg memenangkan saya, kotak suaranya dibongkar surat suara diganti dg surat2 suara yg diceblos sendiri oleh seseorang yg sdh di set utk itu. Banyak lagi kecurangan lain. jadi kekalahan saya bukanlah karena jalan ke Tukul yg tertunda dibangun. Pembangunan di era saya, sdh dilakukan sebanding dg volume anggaran ketika itu. agar lebih obyektif, bagusnya bung Bosman datang lagi ke kubar utk mengkaji perbandingannya hasil2 pembangunan antara periode saya yg APBDnya hanya sepertiga dari APBD periode sekarang (2006-2011).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: