Mengungkap Gegar Rasionalisme Modern

Rabu, 1 Maret 2006

Berbeda dengan jaman pra-modern ketika hampir tidak ada garis pemisah antara gila dan kebijaksanaan, di mata manusia modern gila adalah salah satu momok terbesar. Di jaman ini, menjadi gila berarti menjadi orang yang tersingkir karena dianggap tidak mampu memenuhi standar rasio umum atau dianggap tidak mampu berbicara bahasa akal sehat. Karena dianggap tidak mampu berbicara dengan bahasa akal yang objektif, si pengidap gila pantas dimasukkan program penyembuhan di bawah pengawasan ilmu jiwa yang diyakini memenuhi standar pengetahuan objektif tertinggi. Alih-alih menunaikan aksi pembebasan (act of liberation) pada si gila, ilmu pengobatan modern tersebut justru kemudian bertransformasi menjadi alat kekuasaan dan penaklukan atas individu si gila.

Tema Foucauldian itulah yang diangkat oleh Paul Sayer dalam novelnya yang berjudul The Comfort of Madness. Dalam novel yang akan diterbitkan oleh Lafadl dalam bahasa Indonesia pada bulan Januari 2005 ini, Sayer bercerita melalui narasi seorang gila yang mengisahkan bagaimana dunia sekelilingnya memperlakukan dirinya, bagaimana ia didisiplinkan, diatur, diawasi, dan dilabeli oleh masyarakat. Dengan kata lain, novel ini berisi tentang bagaimana dunia dilihat dari kacamata orang yang dianggap gila, tidak waras, dan abnormal. Orang yang oleh para staf One World— nama rumah sakit jiwa tempat ia menjalani “pengobatan”—dipanggil dengan nama Peter ini (meskipun ia sendiri meragukan bahwa dirinya bernama Peter) dicap gila karena ia berhenti berinteraksi dengan dunia di luar dirinya. Dalam monolognya, Peter menyatakan bahwa ia memilih untuk tidak merespon apapun yang menghampirinya meskipun sebenarnya ia bisa melakukannya. Dalam kacamata ilmu jiwa modern, pilihan cara hidup Peter ini sudah cukup untuk membawa dirinya ke mental institution yang mengklaim bisa memulihkannya menjadi orang “normal” lagi.

Pada satu sisi, Comfort of Madness ini bercerita tentang institusi tempat ia dirawat (One World), sistem kesehatan mental, dan model-model pembakuan akal yang diterapkannya. Dalam menyembuhkan pasien-pasiennya, One World menggunakan metode persis seperti yang dilakukan oleh York Retreat, sebuah lembaga pengobatan jiwa yang pernah diteliti oleh Foucault. Kedua lembaga itu sama-sama mengklaim menguasai pengetahuan dengan tanpa mengindahkan refleksi diri, suatu hal yang disyaratkan untuk mencapai kategori objektivitas. Sebagai landasan objektivitasnya, mereka menggunakan taktik pengawasan (surveillance) dan pelabelan (judgement). Mereka mendudukkan pasien-pasien mereka di bawah observasi dan evaluasi dengan menggunakan standar penilaian tingkah laku yang baku dan kaku. Di sisi lain, novel ini bercerita tentang bagaimana rasanya melihat dan mengalami dunia dari perspektif Peter, dari sudut kegilaan. Novel ini mengingatkan kita tentang keberadaan perspektif “lain”, yaitu perspektif pribadi diri kita sendiri, yang turut membingkai pemahaman kita tentang dunia. Dus, kita diingatkan untuk menyadari bahwa pada dasarnya segala proses yang terjadi bersifat subjektif.

Lewat penceritaannya, novel ini telah mempraktikkan saran Foucault untuk mengungkap limit dan melakukan transgresi (pembangkangan) terhadap pertentangan biner yang diciptakan oleh modernitas seperti “same” dan “other”; “waras” dan “gila”, “normal” dan “abnormal”, atau “civilized” dan “uncivilized”. Penggunaan kedua cara itu bisa menguak metode kekuasaan yang digunakan untuk memapankan satu kategori dan menindas dan kategori lainnya. Dengan bekal pengalaman sebagai mantan perawat di sebuah rumah sakit jiwa, Paul Sayer mampu menceritakan secara apik tragedi kemanusiaan di ruang pengobatan jiwa. Membaca novel ini akan semakin mempertajam imajinasi kita untuk lebih bisa memahami pemikiran-pemikiran Michel Foucault. Dan penghargaan prestisius Whitbread Book of The year Award tahun 1988 yang pernah diperoleh oleh novel ini (baik sebagai novel debutan terbaik maupun penggondol grand prize) membuktikan bahwa novel ini adalah karya yang sangat layak untuk dibaca.

Uzair Fauzan

4 Responses to “Mengungkap Gegar Rasionalisme Modern”

  1. aryo Says:

    buku bagus!

  2. muchacocha Says:

    Here are some links that I believe will be interested

  3. wenny Says:

    yupz… menarik banget, harus punya nih..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: