Oleh: Heru Prasetia (salah satu anggota Tim Kerja lafadl initiatives)

Kali ini aku tidak akan banyak bercerita soal-soal lucu seperti yang biasanya kuceritakan kepadamu. Memang sudah lama aku juga tidak menulis surat untukmu. Mungkin aku sudah merasa tidak ada lagi yang perlu dipercakapkan. Atau barangkali aku sudah kehabisan cerita untuk dibagi. Kali ini bukan dongeng, bukan pula cerita tentang tokoh-tokoh rekaan seperti yang sudah-sudah. Kali ini aku ingin bercerita hal ihwal yang mungkin tak sering kau risaukan meski kadang melintas-lintas di pikiranmu.

Tahukah kamu, jika aku, kali ini, ketika sedang menuliskan surat ini padamu, sedang risau dengan apa yang akan terjadi kelak dikemudian hari pada bumi tempat kita berpijak ini. Ganjil? Begitulah….Tapi tak perlu risau, aku tak akan menyeretmu ke soal-soal yang rumit ini. Seperti biasa, aku hanya ingin kau membaca suratku ini, tanpa harus takjub, tanpa harus cemas. Satu hal yang pasti terlintas di kepalamu saat ini adalah kenapa aku berkehendak untuk menulis surat semacam ini. Begini, semalam sebelum berangkat tidur aku membaca tulisanku sendiri yang akan kupublikasikan lewat newsletter yang juga aku buat sendiri itu. Ah, jangan bertanya nasib newsletter itu. Masih sama seperti dulu: ia terbit jika dikendaki terbit. Repotnya, menerbitkan secuil newsletter seperti itu saja bisa segudang urusannya. Aku akan bercerita padamu (lagi) soal ini kapan-kapan. Nah, dari tulisan pendek yang belum selesai itu (kau pernah berkata bahwa tak ada tulisan yang pernah benar-benar selesai) aku teringat kamu, entah kenapa, hingga aku menulis surat ini. Tulisanku itu seperti ini ujudnya: Read the rest of this entry »

Oleh: Heru Prasetia (pegiat lafadl initiatives)
Jika anda mengikuti berita di media akhir-akhir ini, anda akan segera menjumpai hal-hal konyol. Tak ada yang lebih konyol satu sama lain karena masing-masing telah mencapai tingkat kekonyolan yang paling mumpuni. Deret kekonyolan di bawah ini bisa anda tambahi sendiri karena saya sebenarnya tak banyak mengikuti berita-berita konyol ini:
Satu, beberapa waktu lalu ada orang ngaku terima duit yang tidak bener dari mantan pejabat. Sesaat setelah itu orang itu dipuja-puji sebagai orang yang berani dan penuh kejujuran (jujur kok setelah ketahuan belangnya…). parahnya lagi, banyak yang membela agar orang ini tak dimasukkan penjara karena dia telah berjasa pad bangsa ini. maksudnya: pernah jadi pejabat (padahal, kalau memang pernah berjasa, jasanya itu sudah dibayar bangsa ini dengan gaji yang ia telan bersama keluarganya itu. Lha wong sudah dapat bayaran kok masih dianggap berjasa. Berjasa dari hongkong?). Read the rest of this entry »

Ruang Belajar Lafadl

Senin, 11 Juni 2007

Oleh: Heru Prasetia (Pegiat Lafadl Initiatives)

I have always imagined that Paradise will be a kind of library
–Jorge Luis Borges

Beberapa waktu lalu kami secara resmi membuka Perpustkaan kecil kami kepada publik. Koleksi di rak-rak buku kami memang tak banyak. Cuma sekitar seribu judul buku. Terdiri dari koleksi milik lembaga dan beberapa buku titipan milik anak-anak lafadl sendiri. Sejak pendirian lafadl kami memang memimpikan punya sebuah perpustakaan. Dengan modal mimpi dan semangat, kami mulai meretas jalan. Awalnya cuma sekumpulan buku dan majalah milik masing-masing kru yang disimpan di dalam rak kantor, kemudian bertambah dengan sumbanga-sumbangan buku dari sejumlah kolega. Kepentingan menata buku-buku itu cuma untuk mempermudah kerja-kerja kami, misalnya mempermudah mencari buku refernsi ketika harus menulis sebuah esai atau membuat laporan penelitian. Lambat laun buku-buku tersebut semakin banyak. Kami memutuskan untuk membuat rak-rak buku yang lebih baik. Dengan menyewa tenaga tukang dari jepara kami membuat rak-rak buku (dan sejumlah perabot kantor) dari kayu jati belanda. Akhirnya dua rak buku sederhana bisa buat menampung koleksi buku-buku kami.

Setelah rak-rak buku terisi, kami mulai berpikir untuk membuka perpustakaan ini kepada publik. Kami pikir, buat apa mengoleksi buku jika tak dimanfaatkan oleh khalayak yang lebih luas. Kami tentu tak ingin membuat tempat seperti ruang finis Africae dalam novel Name of The Rose yang menyimpan naskah-naskah kuno rahasia tanpa boleh seorang pun menyentuhnya. Itulah kenapa kami menempatkan rak-rak buku tersebut justru di ruang tamu kantor, tempat paling mudah diakses oleh siapapun, termasuk tamu yang tak dikenal dan tak diundang hehehehe…..Sebab, kata William of Baskerville dalam novel karya Umberto Eco tadi: The good of a book lies in being read. A book is made up of signs that speak of other signs, which in their turn speak of things. Without an eye to read them, a book contains signs that produce no concepts; therefore it is dumb…

Demikianlah, beberapa waktu lalu, kami mulai membuka perpustkaan ini untuk umum. Seorang pustakawan akan melayani pengunjung setiap hari (kecuali minggu dan senin) mulai ba’da ashar hingga ba’da isya, atau kalau mau lebih tepat: pukul 16.00 hingga pukul 20.00 WIB. Rentang waktu ini kami pilih karena pada waktu seperti inilah perpustkaan-perpustkaan lain mulai tutup, dan jika pintu yang mulai ditutup semestinya ada pintu lain yang dibuka. Kami mencoba menjadi yang membuka pintu ketika yang lain menutup pintu…

Tentara Kita Hari Ini

Minggu, 10 Juni 2007


Oleh: Heru Prasetia (pegiat Lafadl Initiatives)

Minggu ini, kita kembali menjadi saksi atas aksi kekerasan yang dilakukan tentara republik ini kepada warganegaranya sendiri. Saya tak perlu mengulang kasus apa yang terjadi dan bagaimana kisah penembakan itu terjadi. Anda bisa baca di sana dan di sini. Saya pertama kali mengetahui kabar itu ketika bermain-main bersama anak saya sambil nonton liputan 6 sisang di SCTV. Gambar-gambar yang disajikan sungguh dramatis: orang-orang menangis, menjerit, berguling-guling. Sesaat saya mengira ini berita kriminal biasa yang setiap hari meloncat dari tabung televisi. Tapi ternyata saya salah: ini aksi penembakan tentara kepada para petani. Saya harus mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengingatkan diri bahwa sekarang saya hidup di zaman reformasi dan Orde Baru telah tumbang sembilan tahun lalu. Tapi sungguh berita itu seperti menyeret jarum jam berputar berbalik menembus waktu seperti di film: saya dibawa kembali ke masa ketika tentara menguasai negeri ini. Ataukah saya yang terlampau banyak berharap bahwa perilaku tentara sudah berubah? Di masa lalu (di masa Orde Baru maksud saya) sudah menjadi rahasia umum jika orang mesti mengendalikan mobil dengan penuh hati-hati dan sangat pelan saat melintas di perumahan milik tentara, atau jika anda hidup di Magelang, anda harus menyingkir dari trotoar jika ada rombongan anak-anak akademi militer mau lewat, atau Anda harus percaya begitu saja jika ada orang ditembak tentara maka ortang-orang itu adalah PKI atau yang sejenisnya.

Kini, korban di Pasuruan memang tak disebut sebagai PKI—setidaknya sampai ketika saya menulis ini—tapi mereka sudah disebut sebagai ”yang sejenisnya” itu. Kita tahu, sesaat setelah peluru menembus tubuh-tubuh lemah itu, siaran pers tentara mengatakan bahwa para petani itu menyerang dengan kalap tentara yang tengah bertugas. Dari situ berbagai hal disemburkan: keputusan pengadilan tentang status tanah, adanya provokasi, debu yang mengepul menghalangi pandangan, penembakan ke arah tanah, pengusutan akan dilakukan. Kita yang hidup di dunia nyata—ingat ini bukan fim hollywood—pasti sudah bisa membayangkan ujung dari semua ini. Read the rest of this entry »

satu bab dari a small place

Kamis, 3 Mei 2007

Semalam saya membuka-buka lagi buku yang berjudul  The Post-Colonial Studies Reader. Di sana saya menjumpai satu bab yang ditulis oleh Jamaica Kincaid. Tulisan itu diambil dari satu bagian dalam bukunya yang berjudul Small Place. Jika kita baca Small Place, memang pada bagian inilah terasa sekali nuansa poskolonial dalam tulisan Kincaid itu. Dan itulah kenapa Lafald memberi tagline ”sebuah narasi poskolonial” pada terjemahan karya besar ini. Berikut ini adalah penggalan  buku Small Place  yang dimuat di buku The Post-Colonial Studies Reader tersebut.

Heru.


Antigua yang kukenal, Antigua tempat aku dibesarkan, bukanlah Antigua yang kamu—seorang turis—lihat saat ini. Antigua tersebut tidak ada lagi. Sebagian karena alasan lazim, yakni berlalunya waktu, dan sebagian lagi karena orang-orang jahat yang dulu menguasainya, yaitu bangsa Inggris, tidak lagi berkuasa. (Namun dewasa ini orang-orang Inggris telah menjadi sekumpulan orang yang begitu menyedihkan, yang hampir-hampir tidak menyadari apa yang telah terjadi pada diri mereka, yakni bahwa seperempat penduduk bumi tak lagi bersujud di hadapan mereka. Mereka tampaknya tidak tahu bahwa imperium bisnisnya itu adalah salah sehingga mestinya mereka—paling tidak—bertobat atas kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, sebab kerusakan yang telah mereka buat begitu luar biasa sampai-sampai tak ada kerusakan akibat bencana alam yang sebanding dengannya. Kematian yang sebenarnya mungkin lebih baik. Demikian juga dengan segala tetek bengek soal imperium ini —apa yang salah dengan ini, apa yang salah dengan itu—selalu membuatku gila, sebab aku bisa katakan pada mereka: seharusnya mereka tidak pernah meninggalkan tanah air mereka, Inggris mereka yang agung, tempat yang sangat mereka cintai, tempat yang mereka tinggalkan tapi tak pernah dapat mereka lupakan. Sehingga ke mana saja mereka pergi, mereka mengubahnya menjadi Inggris, dan semua orang yang mereka jumpai mereka jadikan orang Inggris. Namun tidak ada tempat yang benar-benar dapat menjadi Inggris, dan tak seorang pun yang tidak tampak seperti mereka akan menjadi orang Inggris. Jadi bisa kau bayangkan kerusakan bangsa dan wilayah yang berasal dari hal semacam itu. Orang Inggris saling membenci dan mereka benci Inggris, dan mengapa mereka begitu menyedihkan saat ini adalah karena mereka tidak memiliki tempat lain untuk dituju dan tidak mendapati orang lain yang bagi mereka terasa lebih rendah). Namun akan kutunjukkan padamu Antigua yang dulu kukenal. Read the rest of this entry »