Aliran Kepercayaan Kini

Senin, 12 Oktober 2009

Oleh:Susan Rakugaki

Seiring terus berkembangnya zaman, pola pemikiran manusia pun semakin berkembang maju. Tak terkecuali dalam hal kepercayaan. Bukanlah suatu hal yang aneh ketika suatu masyarakat meyakini suatu kepercayaan tertentu yang oleh masyarakat luas bahkan tidak dianggap bahwa itu adalah agama. Contoh kecil saja di Jawa. Berbagai aliran menjalar dikalangan masyarakat kebanyakan. Sapto Dharmo, kejawen, adam ma’ripat, dsb.

Entah apa yang menbedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Apakah konsep tentang ketuhanan mereka berbeda? Atau bahkan mungkin keberagaman budayakah yang membuat pemahaman tentang Tuhan itu berbeda-beda? Mengingat bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multi kultural baik dari segi bahasa, suku, ras, dsb, maka tak heran jika pemahaman mereka tentang apa itu Tuhan (baca: sesuatu yang dianggap harus disembah). Tentunya kita tidak bisa menyamakan begitu saja dalam masyarakat umum bahwa apa yang biasa dipuja itu bernama Tuhan. Nyatanya bagi masyarakat pedalaman, mereka bahkan tak mengenal apa itu artinya Tuhan.

Dari dulu hingga sekarang kehidupan manusia tak lepas dari berbagai kebutuhan. Tentunya spiritualitas pun menjadi suatu kebutuhan tersendiri bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Berbagai hal dilakukan untuk dapat memenuhi apa yang mereka anggap sebagai kepuasan spiritual. Dalam suatu ajaran jawa misalnya. Seseorang dianggap telah mempunyai daya spriritual yang bagus dan dekat dengan Tuhannya ketika telah melakukan berbagai macam puasa. Dan jangan salah, puasa disini berbeda dengan puasa yang biasanya dilakukan oleh umat islam. Kegiatan sahur dan berbuka jelas tidak terdapat dalam ajaran ini. Dan kegiatan puasanya pun harus benar-benar dengan kemantapan. Tapi bukan berarti dalam islam tidak ada kemantapan ketika umatnya melaksanakan puasa.

Bagi sebagian penganut ajaran tertentu, biasanya ada semacam ritual yang dilakkan oleh para penganutnya. Entah itu ketika ada suatu kejadian besar atau bahkan ketika memperingati suatu kejadian tertentu dimasa lampau. Biasanya ritual-ritual itu dilakukan dengan menyajikan beragam sesajen, makanan, buah-buahan, beberapa jenis bunga tertentu dan tak lupa kemenyan dan arangnya. Tentunya sebelum sesajen itu siap untuk disajikan, terlebih dahulu diberi jampi-jampi oleh seseorang yang dianggap tetua atau yang paling mengerti ttg hal tsb.

Beragam kegiatan spiritual yang lainnya masih sangat banyak di nusantara ini. Aliran Kejawen dengan beragam jenis puasanya, Sapto dharmo dengan semedinya yang menghadap timur (sejenis shalat dalam islam), dan lain sebaginya. Bahkan di Jawa sekalipun masih banyak hal-hal serupa yang bahkan mungkin tidak terangkat ke permukaan. Entah itu ritual mandi kembang, mencuci benda pusaka pada bulan tertentu, mitemeyan, dsb. Kesemuanya itu tentu saja tak lepas dari pro kontra masyarakat luas. Apalagi bagi masyarakat Islam. Karena dalam Islam sendiri kegiatan semacam itu dianggap termasuk syirik (menyekutukan Tuhan). Konsep suatu aliran memang tidak akan pernah bisa disamakan dengan konsep agama. Ada suatu ketentuan tersendiri untuk suatu aliran bisa disebut agama. Atau bahkan mungkin agama itu sendiripun masih belum jelas pengertian secara khususnya. Yang saya ketahui, sesuatu itu bisa disebut agama ketika ada Tuhan, kitab suci, dan tentunya utusan pembawa kitab suci itu sendiri (dalam Islam: Nabi dan Rasul). Sedangkan aliran itu sendiri biasanya merupakan suatu kepercayaan yang dianut secara turun temurun dari nenek moyang kita ada zaman dulu. Kebanyakan masyarakat menyebutnya sebagai adat yang harus senantiasa dilestarikan dan tak boleh ditinggalkan begitu saja. Walau begitu, sebagian masyarakat lainnya menyebut hal itu adalah suatu perbuatan yang jelas melanggar ketentuan beragama.

Walaupun demikian, masih ada saja yang mencampur-baurkan aliran-aliran tersebut kedalam agamanya. Hal itu terjadi karena proses penyebaran agamanya sendiri yang dibuat memasyarakat. Biasanya, masyarakat yang terlibat adalah mereka yang menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah semata-mata hanya menjaga apa yang telah ditinggalkan oleh leluhur dan nenek moyang mereka, atau kita sebut sebagai adat istiadat. Bagi sebagian masyarakat Islam yang juga ikut melakukan beragam ritual tadi, adat istiadat menjadi alasan bagi mereka untuk tetap dapat melakukan aktifitas ritualnya. Bahkan agar terlihat lebih islami, jampi-jampi yang digunakan pun memakai bahasa arab. Padahal di Islam sendiri tidak ada jampi-jampi atau semacamnya untuk itu. Bahkan hal tersebuh dalam Islam benar-benar dianggap suatu kesyirikan.

Lalu apakah ketika ada suatu ajaran yang mengganggap bahwa hal itu haram maka ritual bisa dikatakan menyesatkan? Padahal mungkin kebiasaan ritual itu telah ada sebelum suatu ajaran agama menyebar masuk di pulau Jawa. Bagi masyarakat yang terbiasa dengan kegiatan ritual tersebut tentu saja membantah bahwa aliran tersebut sesat. Dikeluarga saya sendiri misalnya. Kakek dan nenek saya termasuk orang-orang yang terbiasa melakukan ritual-ritual seperti itu. Ketika suatu hari kakak sepupu saya menegur mereka dengan alas an bahwa apa yang telah mereka lakukan itu tidak sesuai dengan ajaran agama. Namun apa jawaban mereka? Menurut mereka, apa yang telah mereka lakukan adalah suatu hal yang turun menurun keluarga kami lakukan dan harus ada yang meneruskan. Bukan berarti menyimpang dari ajaran agama, bantah mereka. Tapi meneruskan apa yang telah leluhur kami tinggalkan. Lagipula dalam prakteknya juga banyak sekali lafadl-lafadl dan asma-asma yang berbau Islam yang mereka ucapkan. Begitu seterusnya. Ketika suatu malam (sekitar jam 01.00 dini hari) saya pernah juga dibangunkan untuk ikut memandikan barang-barang pusaka peninggalan leluhurkami dengan air dari tujuh sumur dan disertai bunga tujuh rupa. Ketika kami sedang focus membersihkan benda-benda yang diantaranya adalah batu-batuan, potongan taring (entah dari hewan apa), beberapa keris berbagai ukuran, dan sebagainya kakek saya mengatakan bahwa apa yang sedang kami lakukan bukanlah suatu kemusyrikan, ini kebiasaan katanya. Dan setelah itu air yang telah digunakan untuk mencuci benda-benda tersebut diberi jampi-jampi oleh kakek saya dengan semacam bacaan berbahasa arab. Setelah itu sayapun disuruh menggunakan air tersebut untuk mandi saat itu juga.

Masih banyak contoh-contoh ritual lainnya dalam berbagai aliran lainnya.

Jika boleh dibedakan, aliran kepercayaan di Indonesia itu ada yang berbentuk suatu ajaran dan adapula yang tidak. Agama termasuk kedalam aliran kepercayaan yang berbentuk ajaran karena dalam suatu agama, ilmu itu haruslah diberikan diajarkan dikembangkan. Hal tersebut membuat suatu agama bisa bertahan turun menurun antar generasi. Kalaupun tidak demikian, agama bisa dipelajari lewat kitab sucinya dan kitab-kitab pendukung lainnya.

Adapun aliran kepercayaan yang tidak berbentuk suatu ajaran ada yang namanya Subud.

“Meskipun Subud bersumber pada pengalaman-pengalaman dalam bidang keagamaan, Subud sendiri bukanlah agama atau ajaran. Subud merupakan pengakuan terhadap kekuasaan Tuhan, yang meliputi dan menguasai seluruh alam raya, baik yang kasatmata maupun yang gaib. Subud juga merupakan pengalaman tentang faal kekuasaan Tuhan di dalam kepribadian manusia. Di dalam Subud sama sekali tidak terdapat dogma atau pendeta. Tidak terdapat pula penguasa selain Tuhan Yang Maha Esa.” Beberapa kaliamat yang saya kutip dari internet tentang Subud

Subud merupakan aliran kepercayaan khas Indonesia. Seperi kutipan internet diatas, Subud memang bukanlah suatu agama ataupun ajaran. Aliran kepercayaan Subud ini lebih cenderung kepada latihan kejiwaan dimana para penganutnya tidak mempelajari tata cara ibadah ataupun sebagainya. Didalam Subud, kita hanya perlu meyakini kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, bertawakal, sabar, ikhlas dan memasrahkan semua kehendak pribadi kita terhadapNya. Subud tidak bersifat ketimur-timuran ataupun kebarat-baratan. Subud juga meyakini bahwa Tuhan tidak bias dicapai oleh akal pikiran manusia. Walaupun Subud bukanlah suatu ajaran ataupu agama, tapi Subud mengakui adanya sesuatu yang menciptakan, menguasai dan memiliki alam jagat raya ini. Sesuatu yang benar-benar Maha diatas segalanya yang diyakini sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Sekilas memang tampak seperti apa yang kita kenal dalam islam. Tapi Subud berbeda dengan Islam. Tidak ada shalat, puasa, zakat, haji, dan semacamnya.

Yang saya pikirkan mengenai Subud berhubungan sekali dengan tulisan saya sebelumnya tentang konsep Tuhan. Kembali kepada alasan saya mengapa menulis tentang konsep Tuhan yaitu bersumber dari sebuas buku kecil yang berisi kumpulan cerpen yang salah satu cerpennya menyinggung tentang Tuhan. Dalam cerpen tersebut digambarkan bahwa semua jenis Tuhan dari berbagai agama itu setara. Entah itu adalah Tuhan Allah, Tuhan Yesus, Budha dan yang lainnya. Sempat saya mengajukan sebuah pertanyaan, apakah mungkin apa yang dipaparkan dalam cerpen itu benar?? Jangan-jangan memang ada Tuhan lain yang ternyata adalah Maha Tuhan dari Tuhan-Tuhan yang manusia yakini. Nah, ketika sekilas saya membaca artikel mengenai Subud disebuah situs di internet saya berpikir, apa mungkin Tuhan yang dimaksud adalah Maha Tuhan dari Tuhan-Tuhan itu???

Subud merupakan singkatan tiga kata Sanskerta, yaitu Susila, Budhi, dan Dharma. Di dalam Subud ketiga kata tersebut ditafsirkan sebagai berikut: Susila berarti budi pekerti manusia yang baik, sejalan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Budhi berarti daya kekuatan diri pribadi yang ada pada diri manusia. Dharma berarti penyerahan, ketawakalan, dan keikhlasan terhadap kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Setelah kontak dengan daya atau kekuatan Tuhan (Budhi) diterimanya, pelatih menyerah kepada bimbingan Tuhan (Dharma), dan, dengan demikian, dituntun kepada budi pekerti yang utama (Susila). Bimbingan Tuhan seperti itu dialami baik di dalam latihan kejiwaan maupun di dalam kehidupan.

Cukup sepertinya pembicaraan tentang Subud ini. Saya tidak ingin nantinya malah dianggap ikut menyebarkan aliran kepercayaan Subud.

Berbagai aliran kepercayaan baik itu berupa ajaran ataupun bukan, sudah menjadi mekanan sehari-hari masyarakat Indonesia. Suatu kebutuhan pokok selain sandang, pangan dan papan. Tiap orang pasti tak lepas dari doa. Baik yang disadari ataupun tidak. Seseorang yang bahkan mengakui bahwa dirinya Atheis pun saya pikir dia tidak mungkin tidak pernah berdoa walaupun mungkin dia bahkan tidak tahu kepada siapa sebenarnya dia berdoa. Sebuah harapan yang timbul dalam diri seseorang pun sangat bias sekali dikategorikan sebagai doa.

4 Responses to “Aliran Kepercayaan Kini”

  1. Asrul Says:

    Posting yang mencerahkan… kita jadi tahu wajah aliran kepercayaan di Indonesia


  2. wah… baru liat lagi setelah sekian lama tulisanku… :p

  3. Suhdi rais Says:

    Panatik kepada agama,itu bagus.tapi merasa diri paling benar,itu yang disebut radikal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: