“Aku Lelah Sekolah…” Cerita tentang Sekolah & Pendidikan Anak Girli

Senin, 12 Oktober 2009

Oleh: Salma Ibrahim

Sekolah telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia. Semacam memiliki ketidaksadaran kolektif [1]–meminjam istilah Jung-, setiap kita pada umumnya melewati tahapan sekolah begitu saja, merasa bahwa tahapan tersebut memang sudah seharusnya dilalui tanpa harus mempertanyakan kembali alasannya. Saya termasuk orang yang juga mengalami hal tersebut. Sejak usia 4 tahun, saya telah disekolahkan di TK. Selanjutnya secara berjenjang saya masuk SD, SMP, SMA, hingga kini ada di bangku kuliah. Tak pernah sekalipun saya mempertanyakan, apalagi menolak untuk bersekolah. Saya berfikir bahwa setiap orang memang harus sekolah, karena hanya orang bodohlah yang tidak sekolah. Dan orang menjadi bodoh karena tidak sekolah. Padahal, apakah benar seperti itu?

Pandangan saya tentang sekolah berubah ketika saya dipertemukan dengan kehidupan yang sangat berbeda dengan saya. Sekelompok masyarakat yang tinggal di pinggir kali Code. Bagi saya, ini sebuah keberuntungan karena pertemuan itu membuka pikiran saya yang selama ini ternyata masih sangat sempit. Dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia, sepertinya saya masih belum mengenal dengan baik rata-rata masyarakat Indonesia. Saya selama ini menikmati keberadaan saya di sisi kanan-meski bukan yang paling ujung- dari kurva normal masyarakat Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Dan permasalahan yang dihadapi sebegitu kompleksnya. Salah satu permasalahan yang turut menghantui adalah tentang sekolah.

Tidak semua masyarakat dapat bersekolah dengan mudah, tinggal mendaftar pada tahun ajaran baru, melengkapi persyaratan, dan masuk sekolah. Dalam tulisan ini saya ingin menceritakan sepenggal kisah tentang seorang anak dari pinggir kali Code yang dalam usianya yang belum dewasa, dia sudah harus merasakan dan dituntut untuk menempati posisi sebagai orang dewasa. Bagaimana dia pada suatu malam mengeluarkan kalimat dalam suara lirih,”Capek, Mbak Tadi di sekolah banyak pelajarannya…” Bagaimana sekolah dalam pandangan seorang Jepi-nama anak tersebut- yang selama ini tidak pernah dipertanyakan oleh pengamat maupun ahli pendidikan.

Sama sekali tidak ada maksud dari saya untuk melakukan penilaian sepihak, baik tentang kemiskinan maupun tentang sekolah. Saya hanya ingin mencoba menyampaikan bahwa ada seorang anak bernama Jepi dengan kisahnya tersendiri. Kisah Jepi mungkin tidak dapat mewakili kisah anak kebanyakan yang seusia dengannya. Akan tetapi, kisah Jepi juga berhak didengar dan diketahui. Agar masyarakat tidak terbuai dengan kemapanan pendidikan yang tampak di luar. Masih banyak yang perlu dikritisi dan dibenahi bersama. Jepi mungkin tidak dapat bercerita sendiri. Oleh karena itu, saya yang akan bercerita. Cerita ini didasarkan pada kondisi objektif Jepi, tanpa ditambah atau dikurangi. Pada akhir tulisan, saya menutup tulisan ini dengan mengutip pendapat dari beberapa teman maupun penulis tentang solusi terhadap pendidikan anak pinggir kali seperti Jepi.

Pendidikan dan sekolah

Dua kata, pendidikan dan sekolah biasanya digunakan dalam kalimat dan konteks yang serupa dengan makna yang tak jauh beda. Akan tetapi sesungguhnya dua kata tersebut memiliki makna yang berbeda secara substantif. Salah satunya bahkan memiliki akar sejarah tersendiri yang tidak dapat dilepaskan begitu saja. Meski demikian, keduanya saling berkaitan erat sehingga untuk memiliki pemahaman yang utuh, haruslah memahami keduanya dengan baik. Pemahaman terhadap “pendidikan” dan “sekolah” juga menjadi penting dalam tulisan ini agar tidak terjadi perbedaan penafsiran dan interpretasi.

Pendidikan berasal dari kata didik yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai memelihara dan memberi latihan, ajaran, bimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran[2]. Beberapa tokoh menyebutkan pengertian pendidikan yang berbeda-beda. Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa pendidikan merupakan proses perubahan individu menjadi dewasa melalui proses pembelajaran, pembiasaan, dan pengajaran[3]. Sementara Paulo Freire berpendapat bahwa pendidikan merupaan proses liberasi atau pembebasan pikiran[4]. Yang pertama menekankan bahwa tujuan akhir pendidikan adalah menjadi dewasa. Dewasa berarti mampu berdikari, menjalani kehidupan, mengatasi permasalahan yang ditemui dengan cara yang tepat. Yang kedua menitikberatkan pada pemahaman bahwa manusia merupakan individu yang merdeka, maka pendidikan merupakan upaya pembebasan pikiran individu yang berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Keduanya memiliki makna yang sama-sama positif. Jika bisa disarikan maka tujuan pendidikan berdasarkan kedua tokoh tersebut adalah menjadikan manusia menjadi dewasa melalui proses pembebasan pikiran dan pengenalan realitas diri.

Setelah jelas tentang makna pendidikan, kita beralih ke makna sekolah. Saat ini kita mengenal sekolah sebagai nama institusi yang bergerak dalam pendidikan formal, biasanya diidentikkan dengan gedung dengan beberapa kelas berisi meja, kursi dan perlengkapan pendukung seperti, papan tulis, buku pelajaran, alat tulis, dll. Akan tetapi, sebelum dipahami seperti demikian, sekolah memiliki akar sejarah yang cukup panjang dan jauh, yaitu sejak zaman Yunani kuno. Kata sekolah sendiri berasal dari bahasa latin, skhole, scola, scolae atau schola yang berarti waktu luang atau waktu senggang[5].

Proses pergeseran makna sekolah dari “waktu luang” menjadi “institusi atau bangunan tempat terjadinya proses belajar-mengajar” terjadi dalam waktu yang panjang. Singkatnya, dahulu orang-orang Yunani senang mengisi waktu luang mereka dengan mendatangi orang yang dianggap pandai untuk belajar. Kebiasaan tersebut diturunkan kepada anak-anak mereka. Lama kelamaan semakin banyak orang tua yang mempercayakan ankanya untuk belajar kepada orang pandai tertentu. Maka skolae pun dikembangkan di tempat yang ditentukan, dengan atuan-aturan yang lebih tertib, dan imbalan jasa dari para orang tua. Perkembangan terus berlanjut hingga muncul jenjang pendidikan dan kurikulum di dalam sekolah. Sejak saat tersebut, makna sekolah menjadi bergeser menjadi institusi atau tempat belajar-mengajar.

Apakah makna sekolah di Indonesia sama dengan di Yunani? Faktanya, perkembangan pendidikan memang tidak hanya terjadi di Yunani. Bangsa-bangsa lain seperti Cina, India, maupun Arab memiliki sejarah pendidikan tersendiri. Akan tetapi sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia memiliki akar sejarah dari Yunani dan bukan dari bangsa lain dikarenakan penerapannya oleh Belanda. Sistem pendidikan ala Yunani tersebut diterapkan sejak diberlakukannya politik etis oleh Belanda di masa kolonial.

Tentunya definisi “sekolah” di Indonesia terus berkembang terutama pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Perkembangan paling kontemporer adalah definisi bahwa sekolah adalah lembaga yang membantu individu untuk mengembangkan dirinya. Seperti dikatakan oleh Paulo Freire bahwa pendidikan adalah suatu praksis[6]. Jika sekolah mengemban fungsi pendidikan, berarti sekolah pun merupakan suatu praksis. Di dalamnya harus terjadi proses refleksi dan aksi yang berkelindan.

Menengok Kehidupan di Pinggir Kali Code

Orang yang pernah tinggal di Jogja, tidak mungkin tidak mengenal Kali Code. Selain sering dijadikan tempat nongkrong anak-anak muda Jogja, terdapat hal menarik dari Kali Code. Di pinggir kali terdapat, perumahan padat penduduk hasil kerja sosial Romomangun. Daerah yang dulunya sama sekali tidak layak huni, kini menjadi lebih tertata, meskipun belum sesuai dengan gambaran ideal tempat tinggal seharusnya.

Masyarakat yang tinggal di daerah Kali Code biasanya merupakan pendatang. Dikarenakan sulitnya mencari tempat tinggal di Jogja, ditambah penghasilan yang minim, mereka memilih untuk tinggals di rumah petak kecil di pinggir kali. Setiap tahun, jumlah penduduk di Kali Code terus bertambah sehingga tak jarang satu petak rumah dihuni oleh dua atau tiga KK.

Jangan dibayangkan rumah petak di sini seperti di perumahan RSS (Rumah Sangat Sederhana). Rumah yang ada di Code, disekat oleh papan, dan hanya terdiri dari satu ruang ditambah dapur. Ruangan tersebut berukuran 2,5 x 2 meter dan digunakan untuk semua kegiatan, baik tidur, belajar, dan aktivitas lainnya. Dapurnya hanya berukuran 1 x 2 meter. Mencuci, dilakukan di sumur bersama. Kamar mandi juga digunakan bersama.

Mata pencaharian masyarakat di sini bermacam-macam, mulai dari pedagang keliling, loper koran, pemulung, pengepul, dan lain-lain. Kondisi sosio-ekonomi masyarakat Code bervariasi mulai dari rendah hingga tinggi. Ada yang makan sehari tiga kali saja tidak mampu. Tetapi, ada pula yang bahkan memiliki mobil. Mobil mereka diparkir di dekat jalan dikarenakan sempitnya rumah.

Profil Jepi[7]

Jepi merupakan salah seorang penghuni rumah petak di pinggir Kali Code. Tanggal 13 Juni 2009, usianya genap 10 tahun. Saat ini, dia duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Di sebuah rumah petak kecil paling ujung dari rumah-rumah lainnya, Jepi tinggal bersama ayah, ibu, dan tiga orang kakaknya. Jepi merupakan anak bungsu di keluarga tersebut. Anak pertama adalah seorang perempuan yang sudah menikah dan memiliki satu anak, tinggal di satu sisi terpisah sekat dari rumah tersebut. Anak kedua, seorang laki-laki bernama Kuat. Seharusnya Kuat duduk di kelas tiga SMP, akan tetapi dikarenakan Kuat malas sekolah dan sering membolos, maka sekarang ini tidak jelas apakah dia masih melanjutkan sekolah atau tidak. Aktivitasnya sehari-hari hanya bermain. Anak ketiga bernama Wanti, perempuan yang baru saja tamat SD, lulus dengan nilai mendekat batas kelulusan.

Keluarga Jepi berada pada kategori rendah dalam strata socioeconomic status. Satu petak rumahnya dibagi menjadi tiga sekat dan dihuni oleh dua KK (kepala keluarga). Ayah berprofesi sebagai tukang becak. Sementara ibu, jepi, dan wanti berjualan koran di korem (sebutan mereka untuk perempatan Gramedia).

Setiap hari, sepulang sekolah Jepi dan kakaknya, Wanti langsung bekerja menjajakan koran. Tak jarang mereka baru pulang kembali ke rumah selepas maghrib. Setelah itu, jika tidak terlalu lelah, mereka masih harus belajar dan mengerjakan PR (pekerjaan rumah) untuk sekolah keesokan harinya.

Jepi termasuk anak yang pintar, terutama dalam mata pelajaran Matematika. Jepi telah mampu menyelesaikan perhitungan matematika empat digit. Setiap hari rabu malam dan jumat malam, beberapa mahasiswa (2-3 orang) datang ke rumah Jepi. Di sana, Jepi, kakaknya, dan anak-anak lain di sekitar rumah Jepi belajar bersama dengan ditemani kakak-kakak mahasiswa.

Mahasiswa-mahasiswa tersebut mengajar di sana atas inisiatif pribadi dan sukarela, mereka tidak membawa organisasi, lembaga, dan penyokong dana apapun. Mereka memang sering membawakan buku-buku untuk anak-anak di sekitar rumah Jepi. Buku-buku itu bisanya merupakan sumbangan dari teman-teman mahasiswa lainnya atau dosen secara pribadi.

Jepi sendiri terkadang menyambut kakak-kakak mahasiswa dengan gembira dan bersemangat, tetapi lebih sering dengan suara kelelahan dan semangat yang tinggal sisa-sisa. Jepi sebenarnya senang ketika bisa bermain sambil belajar bersama teman-temannya. Terlihat dari senyum yang sering tersungging di wajahnya ketika sedang seru-serunya bermain dan belajar. Akan tetapi, dia sebegitu lelahnya sehingga terkadang memunculkan kalimat dalam nada kelelahan. Pernah suatu ketika saya mengajak Jepi untuk belajar Bahasa Indonesia. Jepi hanya berkata,”Kesel, Mbak…mau nang sekolah akeh pelajarane…” (Lelah, Mbak. Tadi di sekolah pelajarannya banyak). Sementara orang tuanya selalu menyuruhnya belajar, dia yang terlalu lelah hanya mampu mengeluh di dalam hati. Apakah bisa dia mengeluh?

Segala sesuatu dalam kehidupan Jepi berjalan sama, tidak pernah berubah. Perbedaan dari tiap harinya hanyalah terkadang koran jualannya cepat habis terjual dan terkadang tidak. Tak pernah terlintas di benak Jepi tentang cita-cita. Cita-cita baginya adalah bisa makan sehari tiga kali. Memang, terkadang muncul keinginan dalam hati Jepi untuk bisa seperti anak-anak lainnya yang memiliki banyak mainan. Pernah juga terlintas untuk bisa naik pesawat. Akan tetapi, Jepi tak pernah sanggup membayangkan kapan dia dapat menggapai cita-citanya tersebut.

Berawal dari kebakaran

Dulunya keluarga Jepi tidak tinggal di bantaran Kali Code bagian bawah. Keluarga mereka awalnya tinggal di daerah Code bagian atas. Dengan pekerjaan yang sama (tukang becak dan penjual koran perempatan), mereka hidup selayaknya penduduk yang lain.

Saat itu Jepi sudah masuk sekolah dasar. Tiba-tiba terjadi kebakaran, rumah dan barang-barang mereka habis terbakar. Beruntung mereka mendapat bantuan dari Departemen Sosial dan beberapa orang yang kenal dan peduli dengan mereka. Bantuan yang diberikan sebagian besar berupa sandang pantas pakai, meski sebagian besar tidak dapat dipakai oleh Jepi karena kebesaran.

Selanjutnya keluarga Jepi pindah ke Code bagian bawah. Dengan kondisi ekonomi pas-pasan, tak ada pilihan lain bagi mereka untuk pindah. Satu-satunya tempat yang bisa dibangun rumah tanpa harus membayar adalah Code. Mereka membuat bangunan baru dari papan dan kayu di salah satu ujung.

Sebagai orang baru di daerah tersebut, masyarakat sekitar tidak langsung dapat menerima mereka sebagai tetangga baru. Hanya beberapa deret rumah yang sering berinteraksi dengan keluarga Jepi dari sekian banyak keluarga yang sama-sama tinggal di Ledok Code RT 18 tersebut.

Code tempat Jepi dan keluarganya tinggal berada di dekat salah satu masjid besar di jogja, Masjid Syuhada. Remaja Masjid Syuhada sering mengadakan kegiatan keagamaan di daerah sekitar, termasuk sekitar rumah Jepi. Kegiatannya berupa pengajian rutin dua kali seminggu, baik untuk orang tua maupun anak-anak. Tempatnya bergilir di rumah-rumah warga.

Jepi dan sekolah

Jepi bersekolah di sebuah sekolah dasar bernama SD Bhineka, sebuah sekolah swasta yang berlokasi dekat pasar Kranggan. Orang tua Jepi menyekolahkannya di sekolah tersebut mengikuti jejak kakaknya yang juga mengenyam pendidikan di Bhineka. Bhineka tidak hanya memiliki SD, melainkan juga SMP dan SMA. Bhineka memang bukan sekolah yang populer. Terbukti jumlah siswa di setiap jenjangnya tak lebih dari enam orang. Bahkan jumlah siswa di kelas Jepi hanya empat orang.

Mengapa SD Bhineka? Awal mula orang tua Jepi mengenal SD Bhineka adalah dari seorang pedagang sayur langganannya yang juga seorang guru di SMP Bhineka. Saat masih tinggal di Code bagian atas, ibu guru tersebut menanyakan apakah kakak Jepi sudah sekolah atau belum. Karena belum bersekolah, maka ibu guru Bhineka tersebut menawarkan untuk bersekolah di Bhineka saja. Tanpa pikir panjang, apalagi karena sudah ada yang bersedia membantu proses pendaftarannya, ibu Jepi mengiyakan.

Mulailah sejarah sekolah keluarga Jepi dimulai. Karena menggunakan perantara guru SMP Bhineka yang mengetahui kondisi ekonomi keluarga Jepi, maka setiap kali anak-anak keluarga ibu Jepi masuk sekolah, biaya yang diwajibkan hanyalah SPP sebesar Rp 50.000,-. Tak ada uang gedung maupun uang seragam. Meski tak ada pungutan lain, tetap saja nominal di atas besar bagi keluarga Jepi.

Memang dilematis. Awalnya, sekolah di Bhineka menjadi sebuah keberuntungan. Akan tetapi, sesudah masuk ke Bhineka, siswanya akan sulit untuk melanjutkan ke sekolah lainnya. Pihak sekolah cenderung menganjurkan siswanya melanjutkan di Bhineka kembali. Nilai yang rendah biasa menjadi alasan utama. Di samping itu, menjaga nama baik Bhineka juga sering ditambahkan dalam alasan. “Kalau tidak berbohong, tidak akan bisa pindah dari Bhineka,” tutur ibu Jepi dalam bahasa Jawa karma. Hal tersebut menjadi penyebab Jepi dan kakak-kakaknya tidak dapat pindah ke sekolah lain yang lebih baik dan lebih terjangkau.

Lantas, seperti apa sekolah Jepi? Jepi diajar oleh lima orang guru yang bergantian mengajar berdasarkan pembagian hari, bukan berdasarkan mata pelajaran. Di kelas, disediakan buku paket yang bisa digunakan selama proses belajar mengajar di kelas dan dikembalikan kembali sesudah pelajaran usai. Karena tidak dapat dibawa pulang, maka Jepi tidak bisa belajar di rumah karena tidak ada buku paket.

Mata pelajaran favorit Jepi adalah Bahasa Inggris. Alasannya sederhana. Karena Jepi merasa paling bisa mengerjakan soal bahasa inggris dan mendapatkan nilai bagus di pelajaran tersebut. Meski Bahasa Inggris merupakan favoritnya, ternyata belum banyak manfaat yang dirasakan Jepi dari Bahasa Inggris kecuali Jepi sering bermain tebak memori kata-kata Bahasa Inggris.

Saat istirahat sekolah, biasanya Jepi akan pergi ke kantin dan membeli jajanan. Jika ujian semester usai, Jepi dan teman mengisi waktu kosong menjelang penerimaan rapor dengan bermain basket. Setidaknya basket itulah yang bisa disebut sebagai kegiatan ekstrakurikuler sekolah  Bhineka.

Belajar, bekerja, dan tidak bermain

Jepi merupakan anak yang rajin. Jepi tidak hanya rajin berangkat ke sekolah, tetapi juga rajin membantu orang tua dengan berjualan koran. Dari pagi Jepi sudah harus bersiap untuk berangkat sekolah pada jam 06.30. Jepi berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sesampainya di sekolah Jepi mengikuti pelajaran di sekolah. “Bahkan, meskipun sakit, Jepi tetap memaksa masuk sekolah. Dia takut ketinggalan pelajaran,” begitu kata ibunya. Jepi hanya diam saat ibunya berkata demikian.

Di sekolah guru akan mengajar dengan menggunakan buku paket, menulis di papan tulis dan meminta siswa menyalinnya, menjelaskan materi pelajaran serta memberikan soal dan pertanyaan. Jepi menyebutkan bahwa ada pelajaran ketrampilan. Dalam pelajaran tersebut, siswa diminta membuat rumah dari kertas karton, membuat bentuk-bentuk dari kertas lipat, atau menggambar.

Sekolah Jepi usai pada pukul 11.00. Biasanya jam 12.00 Jepi sudah siap di perempatan untuk menjalankan pekerjaannya. Jepi tdak merasa keberatan harus berjualan bersama ibu dan kakaknya. Dia sudah menganggap berjualan koran sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari di samping kesadaran bahwa berjualan koran sama dengan membantu orang tuanya.

Jepi biasa membaca koran yang dibawanya terlebih dahulu sebelum koran tersebut dijualnya. Bagian kesukaannya adalah cerita bergambar dalam bentuk kartun. Maka, tak heran jika terkadang Jepi tahu berita-berita yang sedang banyak dibicarakan.

Jika terik matahari terasa dangat garang hingga Jepi merasa lelah karena kepanasan, maka Jepi akan duduk beristirahat di teras kantor Golkar yang berada di  salah satu sudut perempatan. Makan siang juga biasa dilakukan di tempat yang sama. Setelah kelelahan berkurang, Jepi akan kembali bekerja menjajakan koran.

Jepi, kakak dan ibunya pulang setelah koran habis terjual. Tak tentu kapan koran habis terjual. Terkadang sore hari koran sudah habis, terkadang sampai matahari tenggelam koran masih tersisa di tangan. Bergantung pada berita yang sedang terbit, semakin menarik beritanya, semakin cepat dan banyak koran yang terjual.

Meski masih duduk di bangku SD, Jepi sudah tahu secara detil tentang proses berjualan koran. Jepi tahu harga masing-masing koran dari warung atau agen koran. Jepi tahu bahwa jika mengambil koran dari agen, maka mereka harus membayar terlebih dahulu sehari sebelumnya, sedangkan jika mengambil di warung tidak perlu demikian. Jepi pun tahu bahwa uang yang didapat jika mengambil koran dari warung lebih kecil daripada mengambil dari agen. Jepi tahu bahwa dari 10 eksemplar koran hanya satu eksemplar yang boleh dikembalikan jika tersisa.

Ada kalanya di tengah-tengah berjualan Jepi dibawa ke tempat pembinaan Departemen Sosial di daerah Pingit untuk diajarkan ketrampilan tertentu lewat penjaringan. Beberapa pekan ini misalnya, Jepi diajarkan melukis. Jepi ikut saja dan tidak menolak. Akan tetapi, terkadang Jepi kurang begitu suka karena di sana dia tidak mendapat makan, sementara dia belum sempat makan sebelum dibawa pergi. Setelah selesai diajarkan ketrampilan, Jepi diantarkan kembali ke perempatan.

Selanjutnya, jika koran sudah habis terjual, Jepi, kakak dan ibunya berjalan pulang bersama-sama. Sesampainya di rumah, pekerjaan Jepi belum selesai. Jepi masih harus mengerjakan PR dari sekolah yang hampir selalu ada setiap hari. Bahkan, liburan semester ganjil pun banyak PR yang harus dikerjakan.

Bagaimana Jepi tidak lelah menjalani rutinitas yang padat semacam itu? Kelelahan Jepi tampak secara nyata dari fisik dan bicaranya. Tak ada aktivitas bermain di dalam kesehariannya. Bermain hanya ada ketika kakak-kakak mahasiswa datang untuk menemani belajar anak-anak code. Justru di situlah Jepi merasa sedang bermain, karena tak ada kegiatan berat di situ. Jepi boleh melakukan apapun yang ingin dilakukan dengan barang-barang yang ada.

“Tadinya kami ingin membantu mereka mengerjakan PR. Tapi, lama kelamaan kami lebih memilih untuk membebaskan mereka bersenang-senang dengan kertas, kartu bergambar, maupun benda-benda lain yang kami bawa,”ungkap Levi, salah seorang mahasiswi yang secara rutin datang ke code.

Jepi dengan malu-malu berkata bahwa dia senang sekolah karena ingin belajar. Belajar di sini cenderung pada makna sempit, yaitu belajar pelajaran yang ada di sekolah. Begitulah rutinitas Jepi: belajar, bekerja, dan kadang-kadang bermain.

Sekolah dan Pendidikan anak Girli

Jepi merupakan satu dari sekian potret anak girli. Jepi tidak akan merepresentasikan kehidupan keseluruhan anak Girli. Setiap anak bisa jadi memiliki dinamika yang berbeda dalam kehidupannya, khususnya dalam hal pendidikan. Tetapi, setidaknya kisah Jepi dapat menjadi contoh kecil dari gambaran besar kehidupan Girli.

Setidaknya ada dua sudut pandang yang dapat digunakan dalam menilai sekolah dan pendidikan anak  Girli. Pertama, melalui persepsi subjek, dalam hal ini Jepi. Kedua, melalui penilaian terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang diemban sekolah.

Sudut pandang pertama adalah persepsi subjek. Semua orang mengakui bahwa pendidikan penting. Akan tetapi, tidak semua orang sependapat bahwa sekolah penting. Dalam berbagai kesempatan, orang berebut suara mengemukakan pendapat tentang pendidikan dan sekolah. Jarang sekali yang mencoba bertanya kepada si anak, yang menjalankannya. Maka dari itu, suara Jepi patut didengarkan.

Dalam cerita di atas, tampak bahwa Jepi rajin ke sekolah, tidak ada kata-kata tentang ketidaksukaan yang keluar dari mulut Jepi tentang sekolah. Apakah itu berarti Jepi dan sekolahnya baik-baik saja? Kita tidak dapat secepat itu mengambil kesiimpulan.

Terdapat faktor-faktor yang berpengaruh dalam membentuk persepsi individu, salah satunya adalah nilai dan norma. Keluarga Jepi memiliki nilai dan norma tertentu yanga dianut. Orang tua Jepi meyakini bahwa sekolah merupakan sebuah keharusan yang harus dijalankan anak-anaknya. Anak yang baik adalah anak yang rajin sekolah dan pintar di sekolah. Sebaliknya anak yang tidak rajin dan pintar bukanlah anak yang baik. Norma masyarakat juga mengukuhkannya melalui pandangan bahwa sesorang yang bersekolah lebih baik daripada yang tidak sekolah.

Nilai dan norma yang sama berpengaruh pada diri Jepi. Semacam harapan sosial (social desirability), Jepi akan selalu berkata senang sekolah. Karena jika Jepi berkata lelah sekolah maka berarti Jepi melawan arus, menentang harapan sosial, sehingga akan dinilai tidak baik oleh orang tuanya dan masyarakat. Anak seusia Jepi menilai baik dan buruk berdasarkan pandangan orang tua. Jika orang tua berkata baik, maka bagi Jepi juga baik. Jika orang tua berkata buruk, Jepi pun akan berpandangan demikian[8].

Jika ucapan sudah lemah validitasnya, maka cara selanjutnya untuk mengetahui persepsi seseorang adalah melalui perilaku yang tampak. Dalam kesehariannya, Jepi tidak menunjukkan antusiasme yang besar terhadap aktivitas sekolahnya. Jepi menjalaninya dengan biasa-biasa saja. Antusiasme dapat terlihat dari usaha dalam melakukan aktivitas, ekspresi wajah, dan durasi dalam melakukan aktivitas. Pada Jepi, antusiasme tersebut tidak terlihat. Antusiasme justru terlihat pada saat belajar bersama kakak-kakak mahasiswa. Maka, dapat disimpulkan bahwa persepsi Jepi terhadap sekolah adalah sebatas kewajiban yang harus dijalankan, bukan sesuatu yang benar-benar diinginkan dalam arti yang menyenangkan.

Sudut pandang kedua adalah pencapaian tugas pendidikan yang diemban sekolah. Seperti sudah saya sampaikan di awal, tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia menjadi dewasa melalui proses pembebasan pikiran dan pengenalan realitas diri. Apakah tujuan tersebut tercapai dengan Jepi bersekolah? Mari kita lihat bersama.

Jepi bersekolah di seklah dasar swasta dengan siswa dan guru yang minim, dan masih harus membayar SPP dalam jumlah yang tidak kecil bagi mereka. Maka, sejak awal Jepi bersekolah, dia sudah menghadapi kesulitan keuangan. Untuk bersekolah, Jepi dan keluarganya harus bekerja lebih keras mencari uang. Jepi harus ikut berjualan koran untuk menambah pemasukan.

Selanjutnya mengenai proses di dalam sekolah itu sendiri. Apakah terdapat proses pembebasan pikiran dan pengenalan realitas diri di dalamnya? Tampaknya belum. Terlihat dari tidak adanya perubahan pada diri Jepi dari waktu ke waktu, kecuali semakin banyak istilah asing yang jauh dari kehidupannya diketahuinya. Tujuan pendidikan adalah menjadikan individu dewasa. Dewasa berarti menjadi mandiri dan mampu melakukan perubahan secara terus menerus kea rah lebih baik pada dirinya. Jepi mungkin masih dalam proses tersebut. Tetapi, kakaknya yang sudah menyelesaikan proses sekolahnya pun belum mampu mencapai kedewasaan tersebut. Kehidupan keluarga Jepi tetap stagnan. Sekolah Jepi belum mencapai tahapan pendidikan yang substansial, belum mencapai praksis.

Tawaran Pendidikan Alternatif bagi Anak Girli

Di saat usaha pemerintah lewat program dan kebijakan sekolah formalnya belum mencapai optimal, masyarakat mulai mengupayakan sendiri kebutuhannya. Kalangan aktivis peduli pendidikan menginisiasi dengan membentuk model pendidikan alternatif. Bahkan bisa dikatakan saat ini, pendidikan alternatif sedang mendapat perhatian besar masyarakat.

Beberapa contoh pendidikan alternatif di Indonesia antara lain SD Eksperimen Mangunan, Qaryah Thayyibah, dan Sekolah Rimba. Ketiganya memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda satu sama lain. Akan tetapi, ketiganya memiliki kesamaan dalam hal substansi. Ketiganya berusaha menyentuh substansi dari tujuan pendidikan, disesuaikan dengan konteks yang ada. SDE Mangunan yang diprioritaskan untuk anak-anak miskin, menyesuaikan kondisi mereka. Qaryah Thayyibah memberdayakan potensi desa dalam menjalankan pendidikan. Sekolah rimba memiliki kurikulum khusus sesuai kebutuhan anak-anak rimba.

Konkretnya, kita dapat menerapkan sistem pendidikan alternatif untuk anak-anak Girli. Hal ini menjadi alternatif solusi ketika sekolah umum baik negeri maupun swasta sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan mereka. Kurikulum yang diterapkan disesuaikan dengan kebutuhan anak Girli. Metode pengajaran menyesuaikan kondisi lingkungan dan karakteristik anak Girli. Dengan begitu, anak-anak seperti Jepi bisa merasakan manfaat pendidikan yang sesungguhnya dan kata-kata seperti “Aku lelah” tidak akan lagi ada.

Tentu harapan dan solusi tersebut tidak dapat muncul dengan sendirinya. Siapa yang bertanggung jawab untuk memulainya? Setiap masyarakat yang mengetahuinya bertanggung jawab untuk memulainya. Tanpa ada gerakan untuk berubah, perubahan tersebut hanya akan menjadi angan dan bayangan yang tidak nyata.


[1] Ketidaksadaran kolektif adalah istilah yang digunakan Jung, seorang tokoh psikologi dalam menjelaskan keyakinan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat. Keyakinan ini muncul secara tidak sadar, diturunkan dari generasi ke generasi melalui belief atau value.

[2] Drs. Suharso & Dra. Ana Retnoningsih. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: CV. Widya Karya.

[3] Definisi ini saya peroleh pertama kali dari seorang pemerhati pendidikan, dapat dibaca historinya dalam tulisan Agus Suwignyo. “Kurikulum dan Politik (Kebijakan) Pendidikan” dalam Forum Mangunwijaya (2008). Kurikulum yang Mencerdaskan. Visi Pendidikan 2030 dan Pendidikan Alternatif. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

[4] Paulo Freire. (2002). Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[5] Bisa dibaca secara ringkas dalam Roem Topatimasang. (2004). Sekolah itu Candu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[6] Pemahaman lebih mendalam tentang praksis yang dikemukakan Paulo Freire dapat dibaca dalam Denis Collins. (1999). Paulo Freire: Kehidupan, Karya, dan Pemikirannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[7] Data diperoleh dari hasil observasi partisipatif dan wawancara tidak terstruktur kepada beberapa orang, yaitu Jepi, ibunya, dan dua orang mahasiswa yang rutin datang ke Code. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei-Juni 2009.

[8] Teori Psikologi, Penalaran Moral Kohlberg menjelaskan tahapan-tahapan penalaran moral manusia berdasarkan perkembangan kognitifnya. Anak usia sekolah dasar pada umumnya berada pada tahap penalaran konvensional, yaitu penalaran moral yang dipengaruhi konformitas terhadap norma orang lain, dalam kasus Jepi, orang tuanya. Orientasi Jepi adalah menjadi anak baik (good-child orientation).

16 Responses to ““Aku Lelah Sekolah…” Cerita tentang Sekolah & Pendidikan Anak Girli”

  1. annelis Says:

    Hum…., kereeennn…


  2. [...] yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia. Semacam memiliki ketidaksadaran kolektif [1]–meminjam istilah Jung-, setiap kita pada umumnya melewati tahapan sekolah begitu saja, merasa [...]


  3. [...] yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia. Semacam memiliki ketidaksadaran kolektif [1]–meminjam istilah Jung-, setiap kita pada umumnya melewati tahapan sekolah begitu saja, merasa [...]

  4. Dewi Says:

    Humm,,ceritanya lumayan bagus.Bisa di baca oleh semua orang,,:)


  5. [...] yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia. Semacam memiliki ketidaksadaran kolektif [1]–meminjam istilah Jung-, setiap kita pada umumnya melewati tahapan sekolah begitu saja, merasa [...]

  6. scholarship Says:

    thanks for sharing…. especially for kali code.. :D


  7. friend, what you share here is so worthy.. great blog…

  8. Nurul Wahidah Says:

    ceritanya lumayan saya sukai……….
    buat lagi yaaaaaaaaaaaa?


  9. [...] yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia. Semacam memiliki ketidaksadaran kolektif [1]–meminjam istilah Jung-, setiap kita pada umumnya melewati tahapan sekolah begitu saja, merasa [...]

  10. Scott Tucker Says:

    I’m truly enjoying the design and layout of your blog. It’s a
    very easy on the eyes which makes it much more
    enjoyable for me to come here and visit more often. Did you
    hire out a developer to create your theme? Excellent work!

  11. nur Says:

    kalau boleh tau siapa penerbitnya? tolong di comment

  12. adiidcat Says:

    terima kasih izin untuk semuanya

  13. HERRY Says:

    TERIMA KASIH ATAS PEMBERITAHUAN UNTUK PENDIDIKAN BANGSA YANG LEBIH MAJU.


  14. really inspiring for education. Terima kasih


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: