Belasungkawa
Selasa, 24 Juni 2008
Lafadl Initiatives turut berbelasungkawa atas wafatnya Bapak Fauzan, ayah dari Achmad Uzair. Semoga Tuhan memberi beliau tempat terbaik di sisiNya. Semoga para kerabat, keluarga, dan sahabat yang ditinggalkan tetap diberi kesabaran dan ketegaran untuk menjalani kehidupan…
Samurai
Senin, 23 Juni 2008
Malam-malam belakangan ini, saat hendak berangkat tidur, saya menghabiskan tenaga mata dengan membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa. Novel samurai yang terkenal itu. Sayang memang, baru sekarang saya mulai membacanya dengan serius. Dulu saya cuma mengenalnya lewat buku-buku kecilnya, dan filmnya—yang membosankan itu. Tapi tak apa, lebih baik sedikit terlambat. Klise ya? Tak apa, klise kan tidak selalu berarti buruk.
Kisahnya apalagi kalau bukan tentang Samurai. Kebanyakan cerita tentang samurai—kalau bukan nyaris semuanya—berkisah tentang samurai pada masa era Tokugawa atau sesudahnya. Era ini, kita tahu, adalah saat ketia para samurai kehilangan pekerjannya. Mereka tidak lagi punya tuan. Tidak ada lagi perang antar daimyo. Semua berada dalam masa damai di bawah kuasa tunggal Shogun Tokugawa. Samurai yang berunutung, bisa bergabung dengan barisan militer Tokugawa, yang buntung hidup luntang-lantung mencari untung. Film Akira Kurosa, Seven Samurai, menggambarkan situasi gelap bagi samurai tak bertuan itu dengan terang benderang. Pada masa itu, Samurai yang baik hati, yang saleh, akan menjalani hidup dengan baik pula—kendati dalam situasi terasing dan pahit. Ia digambarkan sebagai sosok pahlawan yang membela orang kecil. Yang berhati busuk—atau terpaksa karena tidak punya cara lain bertahan hidup—menjadi perampok. Tapi dua kelompok ini punya kesamaan: mengalami keterasingan—rontok dari derajat yang sebelumnya sangat tinggi. Read the rest of this entry »
Sensor adalah …..
Sabtu, 14 Juni 2008
Sensor adalah s e n s o r
Secara sederhana sensor bisa diartikan sebagai pengawasan dan kontrol atas gagasan yang bersemi di tengah masyarakat. Biasanya sensor mengacu pada penyelidikan dan pengawasan ketat terhadap buku, majalah, naskah drama, film, siaran televisi, radio, berita, dan media komunikasi lainnya. Tujuannya adalah mengubah atau menghapus bagian-bagian yang diangap melanggar patokan tertentu, misalnya melanggar moral, mengancam keamanan nasional, dan lain-lain.
Konon, sensor sudah dikenal sejak jaman yunani kuno. Adalah socrates, orang pertama yang gigih melwan sensor, dia bahkan harus mati demi mempertahankan kebebasan berpikir. Socrates selalu mengajarkan pada murid-muridnya untuk mengembangkan kebebasan intelektual. Ironisnya, justru muridnya, Plato, yang menjadi filsuf pertama yang merumuskan konsep sensor di masa itu. Bagi plato, seni harus tunduk pada moralitas, seni yang tidak bisa memberi inspirasi prinsip moral haruslah dilarang. Demikian pula kepercayaan pada tuhan yang tidak tepat.
Sejarah mencatat bahwa konsep semacam itu memakan banyak korban. Tak terhitung jumlahnya orang yang harus mati karena diangap menyebal. Itu terjadi baik dalam sejarah masyarakat Barat (Roma dan Kristen) maupun sejarah Islam. Jika kita baca lembar-lembar sejarah, tak bisa dihitung berapa banyak buku yang harus dibakar dan dimusnahkan.

Di masa modern, sensor tidak lenyap. Bahkan ketika orang mulai merayakan kemenangan kebebasan individu melalui demokrasi liberal, sensor ternyata mewujud melalui pengawasan negara atas warganya. Atau, jia tidak demikian, sensor tampil dalam bentuk larangan atas gagasan lain di luar gagasan mainstream, terutam ayang dianggap mengancam tatanan yang sudah mapan.
Dalam bentuknya yang lebih canggih, sensor hadir melalui mekanisme surveillance:pengawasan 24 jam sehari atas tubuh warganegara.
Jadi?
Say Cheese Say Alkmaar
Jumat, 13 Juni 2008
Achmad Uzair
Dutch people have been commonly stereotyped as “cheese head”society. The term does not only refer to their food habit, but also lexically refers to the way Dutch militia protected their head with cheese “balls” in war against Spaniards. We have a lot more to learn about Dutch cheese if we visit Alkmaar.
Alkmaar is located about 40 km in the North of Amsterdam. This small town can be reached by trains (Nederland Spoor) from all over the country. From the Hague, there is always train to Alkmaar every 30 minutes. If you want to know more about Dutch cheese culture and its industry, this is the place you should visit. There are at least two distinctive attracting sites in Alkmaar: cheese market and cheese museum, both are located in the centrum. If you do not really know Alkmaar, do not worry of getting lost. All you need is to open your eyes and find “the living signs”. I mean, if you drop at Alkmaar train station and you find many people walking in groups like tourists, follow them. I bet they are coming to visit Alkmaar cheese market. It is not surprising because it is a typical tourist site frequently promoted by local tourism board. Read the rest of this entry »




