Kapan Kawin? Maybe Yes, Maybe No
Minggu, 29 April 2007

Oleh: Nunung Q (Staf Keuangan Lafadl Initiatives)
Saya merasa 23 tahun adalah umur yang masih relatif muda. Dengan umur yang bagi saya masih relatif muda itu, saya masih ingin menimba banyak pengalaman, termasuk masih harus belajar banyak hal tentunya. Februari 2007 lalu saya telah menyelesaikan studi dan mendapat ijazah, meski begitu saya tidak lantas buru-buru ingin mendapat ”ijabzah” seperti yang diinginkan orang tua saya. Sebab bagi saya, baik itu ayah, ibu dan kakak perempuan saya, usia saya bukan lagi ”baru” tapi ”sudah”. Dengan umur yang ”sudah” 23 tahun itu artinya saya sudah dewasa dan seharusnyalah saya sudah menggendong seorang bayi buah hati dengan suami tentunya.
Di kampung tempat saya dibesarkan, menikah muda sudah menjadi tradisi. Kakak saya menikah umur 20 tahun saat dia masih mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Purwokerto. Sahabat karib saya sejak kecil sudah menikah pada usia 18 tahun, dan kini sudah beranak. Juga teman-teman sebaya saya yang lain. Hanya beberapa yang belum, dan itu bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan mereka yang belum menikah adalah laki-laki, dan jikapun perempuan, mereka telat menikah karena bekerja sebagai buruh migran (TKW) di luar negeri. Tentu saja, status telat menikah membuat khawatir kedua orang tua saya. Kekhawatiran ini bukan hanya ditunjukkan oleh orang tua saya, tetapi juga tetangga. Terbukti setiap kali saya pulang, mereka selalu mengajukan pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, ”kapan nikah, Mbak”. Entah itu sebuah pertanyaan yang tulus ataukah justru sebuah sindiran. Bagi saya pertanyaan itu cukup saya jawab dengan menyunggingkan senyum paling manis, dan saya anggap sebagai angin lalu, walaupun terkadang sempat kepikiran juga. Read the rest of this entry »
Menghalau Jaman dari Kafe
Jumat, 20 April 2007
Oleh Uzair Fauzan (koordinator Lafadl Initiatives)
Semula tak ada niat bersua dengan komunitas anak-anak muda Kuala Lumpur, hingga Rayna (seorang kawan dari Amrik yang menjadi volunteer di sebuah LSM Malaysia) merekomendasikan kafe alternatif di kawasan Central Market. Selepas perjumpaan dengan Jimmy Yap di NUS Press dua hari berselang, rasanya menarik juga bisa bertemu dan mengobrol dengan anak-anak muda pelbagai negeri tentang transformasi sosial. Dengan berbekal coretan Rayna di atas peta jalur LRT Kuala Lumpur yang kucetak sejak dari Jogja, aku merunut jalur menuju Central Market dari Stasiun Pasar Seni. Hampir setengah jam lamanya, saya bolak-balik di sekitar stasiun Pasar Seni untuk mencocokkan peta Kuala Lumpur dan coretan Rayna. Pencarian arah menuju Central Market menjadi sangat terbantu dengan keberadaan ibu pejabat pos Malaysia yang menjulang (dalam bahasa Indonesia, ibu pejabat pos adalah kantor pusat pos). Read the rest of this entry »
Satu Jam di NUS Press Singapura
Kamis, 19 April 2007
Oleh Uzair Fauzan
Jam baru menunjukkan pukul 07.45 ketika saya selesai sarapan. Tetapi, saya segera bergegas meninggalkan wisma YMCA (Young Women Christian Association) di kawasan Fort Canning, setengah berlari ke Stasiun Dhobby Gaut untuk mengejar MRT terdekat, agar tidak terlambat sampai ke kantor NUS (National University of Singapore) Press. MRT, kependekan dari mass rapid transportation, adalah sejenis kereta cepat yang melayani rute titik-titik penting di negeri kota itu. Pagi itu, 12 April 2007, saya memang sudah membuat janji ketemu dengan Dr Kratoska, pimpinan NUS Press, pada pukul 9. Sohib dari sekretariat lafadl sudah membuat janji dengannya sejak seminggu sebelumnya, ketika saya masih di Indonesia. Read the rest of this entry »
Tata Kota dan Penggusuran
Kamis, 5 April 2007

Oleh Muhammad Syihabuddin (Anggota Forum Lafadl Initiatives, dosen di Universitas Negeri Lampung)
Tak yakin penataan kota tanpa penggusuran…
(Sjahroedin ZP, Radar Lampung, Jumat 16 Maret 2007)
Bulan-bulan ini perbincangan ihwal penataan kota Bandar Lampung kembali menghangat. Beberapa kali media massa di Lampung juga menurunkan statemen para petinggi Lampung tentang urgensi penataan kota. Merujuk pada paparan Eddy Sutrisno, Walikota Bandar Lampung, ada enam program yang diprioritaskan untuk mempercantik Bandar Lampung dalam waktu dekat: water front city (WFC), pengembangan pariwisata, penataan pasar, penataan transportasi, ruang terbuka hijau dan taman kota, serta pengendalian banjir.
Gubernur Lampung, Sjahroedin ZP, pun lantas mendukung proyek penataan kota tersebut. Bahkan, pemprov Lampung menjanjikan akan memasukkan proyek ini dalam ABT APBD tahun 2007 (Radar Lampung, Jumat 16 Maret 2007).
Namun, dibalik rencana penataan kota, ada satu kegelisahan yang terus mengendap di benak masyarakat miskin: penggusuran! Sebagaimana tersirat dari komentar Gubernur di awal tulisan ini, bahwa tak yakin penataan kota tanpa (memakan korban) penggusuran. Read the rest of this entry »
Diskusi Liputan Utama dan Launching Majalah Desantara Edisi 15: Subversi Erotis Lengger Banyumas
Rabu, 4 April 2007
Lafadl Initiatives bekersama dengan , Desantara Institute for Cultural Studies, dan Laboratorium Ilmu Politik UNSOED
Purwokerto, menyelenggarakan Diskusi Liputan Majalah Desantara: Subversi Erotis Lengger banyumas pada senin 9 April 2007 jam 10.00 WIB di Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNSOED Purwokerto. Diskusi ini mengahadirkan Bisri Effendy (peneliti senior Desantara), Luthfi Makhasin (Dosen UNSOED dan anggota Forum Lafadl Initiatives), Ahmad Tohari (Budayawan), serta Yusmanto (seniman Lengger).




