Di Balik Teori Landas Kontinen

Selasa, 2 Januari 2007

Oleh: Bosman Batubara (Geologist, Anggota Forum Lafadl)


Tapal Diskursi
Dalam sebuah makalah yang provokatif tentang pengembangan Sumber Daya Alam (SDA) pada Jurnal Prisma di tahun 70-an, geologiwan ITB, Prof. J. A. Katili, memetakan kebutuhan Indonesia dalam mengelola SDA. Dalam eksplorasinya Prof. Katili berpendapat bahwa salah satu aspek penting yang harus dibenahi adalah perihal minimnya pengacara yang memahami sistem pengelolaan SDA. Akibatnya sering terjadi penandatanganan kontrak yang merugikan Indonesia.


Keuntungan pihak asing misalnya meliputi masa bebas pajak (tax holiday) untuk jangka waktu tertentu, tidak disyaratkannya repatriasi ke Indonesia atas hasil ekspor, cadangan bijih atau hidrokarbon yang ternyata lebih besar dari yang diduga, dan pemahaman terhadap pasal-pasal kontrak yang kurang baik (J.A. Katili, 1975). Dengan pelbagai kelemahan itu, tak pelak Indonesia, dengan sekian daftar kekayaan alamnya, hanya menjadi ’mainan’ negara-negara maju dan korporasi multinasional/transnasional.
Pada tempo belum lama ini terjadi sengketa perbatasan di wilayah kepulauan Sipadan dan Ligitan, sejarah mencatat bahwa kedua pulau jatuh ke dalam dekapan negara tetangga Indonesia, Malaysia. Atau perkara lain: sengketa Blok Ambalat yang menyangkut sesumber hidrokarbon di lepas pantai dan negosiasi Blok Cepu yang amat panjang dan berliku. Terlepas dari siapa yang benar dan/atau salah, yang jelas, dalam perkara-perkara itu dibutuhkan pengacara handal yang memahami lekuk-liku pengelolaan SDA.

Hal ini semakin meneguhkan pentingnya pemetaan masalah yang telah dilakukan oleh Prof. kita di atas. Tulisan ini, karenanya, hendak meneruskan tarian pena Prof. Katili: membahas Hukum Laut Internasional tentang Teori Landas Kontinen (TLK) yang telah lama dipakai sebagai salah satu konsep untuk menentukan batas suatu negara di laut.
Batas suatu negara di laut menjadi berarti mengingat, bahwa dalam kajian ekonomi seiring dengan makin majunya teknologi, di lepas pantai sangat mungkin dilakukan eksplorasi dan eksploitasi SDA. Pada tahun 2004, produksi migas Indonesia dari anjungan-anjungan lepas pantai (off shore) mencapai angka 27,8 juta ton minyak dan 14 miliar kubik gas (Mackay Consultant, 2005). Hal tersebut masih ditambah pusparagam potensi laut yang lain seperti: perikanan (tangkap, budidaya, dan pengolahan), bioteknologi, pariwisata, transportasi, potensi pulau-pulau kecil, jasa, dan sumberdaya non-konvensional (Rokhmin Dahuri, 2005).

Teori Landas Kontinen: Sejarah dan Substansi
Adalah Presiden Amerika Serikat (AS), Harry S. Truman, yang pertama kali memproklamirkan TLK. Persisnya pasca-Perang Dunia II, pada tanggal 28 September 1945. ”Whereas the Goverment of the United States of America, aware of the long range world wide need for new sources of petroleum and other minerals, holds the view the efforts to discover and make available new supplies of these resources should be encouraged,…” demikian Presiden Truman mengawali proklamasinya yang antusias bernomor 2667 tersebut (vide Chairul Anwar, 1989; 55).
Di kala itu ide tersebut adalah hal baru. Sebelumnya batas negara di laut cuma mengacu pada batas teritori saja. Dalam perkembangannya terjadi pelbagai macam friksi menanggapi proklamasi Presiden Truman. Pada Konferensi Hukum Laut PBB (United Nation Conference on the Law of the Sea—UNCLOS) I tahun 1958, Komite Empat menangani rancangan Convention on the Continental Shelf 1958. Dan terus diproses pada UNCLOS II tahun 1960.
Berdasarkan pengumuman PBB No. L/T/4060 tanggal 7 Februari 1989, terhitung per tanggal 2 Februari 1989, sebanyak 37 negara—termasuk di dalamnya Indonesia—meratifikasi Konvensi Hukum Laut 1982 yang dihasilkan melalui sebelas rangkaian sidang UNCLOS III dari tahun 1973 – 1982, yang antara lain berisi mengenai penentuan batas negara di laut berdasarkan TLK.
Pada hakikatnya ada dua cara untuk menentukan batas luar landas kontinen suatu negara pantai yang melebihi 200 mil laut. Pertama, dengan pengukuran 350 mil laut dari garis pantai, atau kedua, penentuan jarak 100 mil laut dari kedalaman laut yang mencapai 2.500 m (Chairul Anwar, 1989; 54-61).
Adapun hak-hak suatu negara pantai dalam TLK ini meliputi antara lain, kedaulatan atas dasar laut dan bawah tanah landas kontinen, termasuk di dalamnya hak eksklusif untuk mengatur segala sesuatu yang bertalian dengan eksploitasi sumber-sumber daya alam seperti pemboran minyak dan hak atas sumber-sumber hayati laut (Pasal 77 Konvensi Hukum Laut 1982). Menarik ditelisik: apa pretensi yang melandasi antusiasme dalam proklamasi TLK oleh Presiden Truman? Bagaimana penjelasannya dari perspektif ilmu kebumian?

Kontinen dalam Spektrum Geologi
Dalam geologi dikenal istilah continental margin (CM), dalam Bahasa Indonesia sering disebut dengan ’batas kontinen’, merupakan terusan kontinen yang berada di bawah muka air laut dengan kedalaman 0 – ~ 4000 m, (Gambar 1). Ada dua tipe batas kontinen di dunia. Pertama, active continental margin (ACM), merupakan batas kontinen yang berasosiasi dengan batas lempeng bumi—lempeng benua (continental plate) dan lempeng samudra (oceanic plate). Tipe seperti ini terdapat pada pantai-pantai di sekeliling Samudra Pasifik, sehingga tipe ACM sering juga disebut sebagai Pacific Type. Kedua, passive continental margine (PCM), merupakan batas kontinen yang memiliki jarak cukup jauh dari batas lempeng bumi. Contohnya pada pantai-pantai di sekeliling Samudra Atlantik, sehingga tipe PCM sering juga disebut sebagai Atlantic Type.

Gambar 1: Skema terma-terma yang sering dipergunakan dalam pembahasan mengenai batas kontinen (CSh, CSl dan CR), dan hubungannya dengan kedalaman, lebar dan kemiringan. (Sumber: E. Seibold and W.H. Berger, 1996; 43).

Landas kontinen sendiri diterjemahkan dari continental shelf (CSh), yaitu bagian kontinen di bawah muka air laut dengan kedalaman 0 – ~ 130 m, (Gambar 1). Pada waktu UNCLOS I yang menghasilkan Convention on the Continental Shelf 1958 berlangsung, teknologi pemboran di laut belum begitu maju (semakin gencar pada tahun 1968, seperti yang akan disinggung nanti), sehingga kedalaman 2.500 m di bawah muka air laut (tampaknya?) dianggap sebagai bagian dari CSh. Belakangan CM dibagi menjadi tiga zone, yaitu: continental shelf (CSh), continental slope (CSl) dan continental rise (CR), (Gambar 1). Dari Gambar 1 tampak bahwa kedalaman 2.500 m—palka penentuan batas luar landas kontinen—terdapat pada zone CR.

Tahun 1968 berlayar kapal GLOMAR Challenger dari pantai Galveston, Texas, AS, yang menandai dimulainya Proyek Pemboran Laut Dalam (Deep Sea Drilling Project, DSDP) yang dibiayai oleh AS. Proyek ini menghasilkan data bawah laut yang baik. Berdasarkan data bawah laut tersebut didapat luas area, rerata lebar, dan rerata kemiringan masing-masing zone dasar laut.

Dari Grafik1 dan 2 terlihat bahwa CSh di Atlantik 2,32 kali lebih luas dari di Hindia dan 2,24 kali lebih luas dari di Pasifik; 1, 26 kali lebih lebar dari di Hindia dan 2,21 kali lebih lebar dari di Pasifik; dan 1, 22 kali lebih curam dari di Hindia dan 0,57 kali lebih landai dari di Pasifik.
CSh di Atlantik: lebih luas dan lebih lebar dari di Hindia dan Pasifik; lebih landai dari di Pasifik. CSl di Atlantik: lebih lebar dan lebih landai dari di Hindia dan Pasifik; lebih luas dari di Hindia. CR di Atlantik lebih luas dari di Hindia dan Pasifik.
Mengacu pada tatacara penentuan batas luar landas kontinen suatu negara pantai pilihan kedua ’penentuan jarak 100 mil laut dari kedalaman laut yang mencapai 2.500 m’, maka negara-negara yang berasosiasi dengan batas kontinen Tipe Atlantik akan diuntungkan, karena kedalaman laut 2.500 m tercapai relatif jauh ke tengah, artinya wilayah landas kontinennya semakin luas. Penting pula diperhatikan bahwa material sedimen di daerah Atlantic Type adalah sedimen laut yang merupakan idola para geologiwati/wan, karena sedimen tipe ini sering mengandung sistem hidrokarbon.
Dunia tahu bahwa bagian barat AS yang berhadapan dengan Samudra Atlantik lebih luas dibandingkan dengan bagian timur AS yang berhadapan dengan Samudra Pasifik. Maka analisis terhadap morfologi dan kandungan sedimen bawah laut seperti di atas kira-kira menjadi penjelas motif antusiasme dalam proklamasi Tuan Truman: suatu antusiasme yang tak tumbuh dari ruang kosong.

About these ads

4 Responses to “Di Balik Teori Landas Kontinen”

  1. taufiq momons Says:

    tolong masukkan teori tentang budaya menjaga kelestarian laot ! key….

  2. taufiq momons Says:

    tolong masukkan teori tentang budaya menjaga kelestarian laut ! key….

  3. jj Says:

    saya belum mengerti dengan penjelasan landas kontinen yang berjarak 100-350 mil dari batas teritorial dan dapat melebihi 100 mil dengan kedalaman 2500 m


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: