Jika Pasar (dibiarkan) Mengatur Dirinya Sendiri…
Senin, 22 Januari 2007
Oleh: Luthfi Makhasin (Dosen UNSOED, anggota Forum Lafadl)

Dalam novel Bekisar Merah, Tohari menggambarkan nasib malang yang dialami Rasus, seorang petani gula kelapa, menghadapi ulah para tengkulak. Mempertaruhkan maut menyadap nira dan bersimbah keringat mengolah nira menjadi gula, akhirnya toh dia hanya bisa pasrah menerima harga rendah yang ditawarkan seorang tengkulak di desanya, Pak Tirta. Tokoh Rasus dalam novel itu barangkali mewakili potret buram nasib 30-ribuan petani gula kelapa yang tersebar di sentra kerajinan gula kelapa Banyumas seperti Purwojati, Jatilawang, Wangon, Ajibarang, dan Cilongok.
Di kampungku, ujung utara ibukota kecamatan Cilongok, gula kelapa menjadi tumpuan hidup ratusan keluarga, terutama mereka yang tidak memiliki sawah. Sebagian besar dari mereka hanyalah buruh penderes, sebutan penyadap nira dan petani gula kelapa di Banyumas. Mereka menyadap nira dari pohon kelapa yang dimiliki tetangganya yang lebih kaya dengan imbalan beberapa kilo gula setiap hari pasaran. Sistem setoran gula seperti sewa ini disebut dengan mendreng.
Biasanya penderes menyetor setiap 35 hari sekali pada hari pasaran pon atau legi. Jumlah gula yang disetor tergantung kesepakatan, antara penderes dan pemilik pohon kelapa. Untuk setiap pohon yang dia sadap niranya, seorang penderes menyetor antara setengah sampai dua setengah kilo gula. Tapi itu tidak mutlak, karena tergantung kesuburan dan banyaknya nira yang bisa diambil.

Tidak ada yang tahu pasti mulai kapan aktivitas ekonomi ini berkembang. Konon, ketrampilan membuat gula kelapa ini sudah dikenal turun-temurun sejak masa Majapahit. Di kampungku ada juga cerita orang tua yang mengaitkan gula kelapa dengan Islam, karena pembuatan gula kelapa yang dipelopori para penyebar Islam mencegah pembuatan tuak dari nira seperti yang konon katanya lazim dilakukan pada masa lalu. Entahlah, tapi menurutku cerita yang mengaitkan gula dengan Islam ini terlalu mengada-ada. Read the rest of this entry »
From the Spaniards to the Americans: History of Foreign Enterprises in Colonial Philippines
Senin, 22 Januari 2007
Oleh: Amin Mudzakkir (Anggota Forum Lafadl, peneliti LIPI)

Introduction
This Chapter aims to trace the historical roots of the foreign enterprise presence in the Philippines. Initially their presence cannot be separated from the history of colonization in the country. This occurred a long time ago in a process negotiated by varied powers and involved domination and resistance. To some extent, foreign enterprises historically have expanded into trans national corporations (TNCs); structurally connected with the transformation of the global market. ‘The TNCs’, however, are possibly different from ‘the enterprises’. Nevertheless, the origin of the TNC phenomena in the contemporary era can be traced through the history of European enterprises which in the past were placed in the structure of the colonial political economy. In subsequent periods of Philippines history, US enterprises replaced the Spanish enterprises. This replacement only changed the agent; while its structure continued to exist. This paper will only show the issues pertaining to the economic history of the Philippines, especially in the colonial period.
In the first part of this Chapter, following the example of Scott (1998), I will discuss ‘legibility’ and ‘simplification’ used by the colonial state to control nature and society, especially during the early colonization history. It was a kind of politics of state hegemony, in Gramscian terms, which accelerated the Spanish and then the American capitalist power to penetrate the structure of the Filipino political economy. Furthermore, it was done, for example, by collecting all the scattered barangay (community) in a resettlement and catalogued the Filipinos by the gift of personal identity papers. In other parts, the Church was used by the State to reorganize native society. The barangay were resettled into pueblos and parishes. The relations between the Church and the State in the Philippines, is noted as the most successful in the Christianized history in Asia. At other times, however, the Church has had a significant role as an impetus of popular unrest among the Filipinos.

This Chapter is addressed also to briefly explain ethnicity and class relations in the issues of the economy and what it means in the debate of political discourse. The European enterprises, however, were developed through collaboration with local partners. In the Philippines, besides the native landlords, the Chinese and Mestizos were the middle class that benefited from the colonial presence. They have economic capacity to respond to the transformation, enter higher education institutions and talk and style themselves like their Spanish counterparts. They were often called the Ilustrados class. They consisted essentially of the educated children of landlords, bureaucratic and merchant families who adopted the ideology of the liberal bourgeoisie (Sison and de Lima 1998: 70). Read the rest of this entry »
Selamat Tahun Baru Hijriyah
Senin, 22 Januari 2007

Semoga di tahun ini tak ada lagi orang yang kekurangan dan kelebihan harta…
Menikah
Rabu, 17 Januari 2007

Ratna Mustika Sari—anggota Forum Lafadl, staf pada Ombudsman DIY—disunting Erwin Endaryanto, rekan satu angkatannya semasa kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan FSIPOL UGM. Resepsi pernikahan mereka dilangsungkan 7 Januari 2007 lalu di Ciamis Jawa Barat.
Lafadl mengucapkan selamat mengarungi kehidupan rumah tangga, semoga keluarga yang dibangun mendatangkan berkah bagi kehidupan…
Peradaban di Tubir Jurang
Minggu, 7 Januari 2007
Oleh: Bosman Batubara (Geologist, anggota Forum Lafadl)

“Science has eliminated distance,” kata Melquiades, “In a short time, man will be able to see what is happening in any place in the world without leaving his own house,” lanjutnya. Benar kiranya apa yang dikatakan oleh sang Gypsi Melquiades tersebut: bahwa sains telah mengeliminasi jarak. Dan kita tahu bahwa jarak sendiri adalah muasal dari ruang.
Dewasa ini kita hidup dengan hadirnya entitas ruang yang baru. Dikatakan baru, karena ruang yang hadir tersebut telah melibas semua prasyarat-prasyarat ruang konvensional. Ia hadir dalam bentuk maya. Tanpa koordinat X, Y, dan elevasi. Sebuah ruang—dan juga waktu—yang termampatkan. Dengan presisi yang sangat akurat Teori Kenisbian Einstein telah mengejahwantah di antara kita. Bahwa ruang—dan juga waktu—adalah entitas yang nisbi, dan dapat membentuk koontium baru dalam satuan ruang-waktu. Dengan demikian ia menjadi godam bagi konsep sebelumnya yang dipaparkan oleh Newton bahwa ruang dan waktu adalah entitas yang anta.

Peristiwa beberapa hari yang lalu membuat saya mau tak mau mengingat kembali semua hal di atas. Ketika dalam suatu bangun pagi yang agak kesiangan, saya dikejutkan oleh kedatangan seorang teman yang tampak sangat terpukul, wajahnya kelihatan sangat lelah dan lebih tua dari biasanya: “e-mail tak dapat dibuka. Ada gempa di Taiwan, internet rusak,” demikian penjelasannya. Dalam perbincangan berikutnya yang lebih tenang, dan setelah membaca Koran, saya dapat mulai mengerti peta persoalannya. Bahwa gempa bumi berkekuatan 7.2 pada skala Richter di Taiwan telah menyebabkan putusnya beberapa serat optika bawah laut yang merupakan nadi komunikasi yang menghubungkan China, Jepang, Korea Selatan, negara-negara Asia Tenggara, dan Amerika Serikat, (KOMPAS, 29/12/06, hlm. 9). Read the rest of this entry »




