Perempuan Dayak Benuaq

Sabtu, 9 Desember 2006

Oleh: Bosman Batubara (Geologist, anggota Forum Lafadl).

Tulisan ini akan bercerita tentang kehidupan perempuan Dayak Benuaq. Khususnya Bu Kotek dan Bu Neglon. Harapannya dari cerita tentang kedua orang ini, maka dapat sedikit tergambarkan peran-peran perempuan dalam suku Dayak Benuaq. Dalam keseharian, tampaknya tidak ada pembagian kerja yang begitu jelas antara perempuan dan lelaki Dayak Benuaq. Para perempuan, sebagaimana lelaki, juga menjala dan memancing ikan di sungai dan rawa-rawa, pergi ke ladang, menyandang air dalam jerigen-jerigen dengan anjat dari pancuran, sama-sama menenteng mandau, dan seterusnya.
Dayak Benuaq sendiri adalah salah satu kelompok dari sekian banyak sub suku yang ada dalam silsilah orang Dayak. Mereka tersebar di beberapa kampung di tepi Sungai Kedang Pahu, anak Sungai Mahakam. Secara kepamongprajaan termasuk ke dalam Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Propinsi Kalimantan Timur. Kampung-kampung tersebut meliputi Dasaq, Tembisak, Jerang Dayaq, dan Peninggir.


Tentang penaman Benuaq sendiri, versi salah seorang warga Desa Dasaq yang sempat berbincang-bincang dengan penulis, Pak Tontok, mengatakan bahwa nama Benuaq disematkan bagi siapa saja yang beragama Katolik dan Protestan. Jadi dalam pemahaman Pak Tontok, seseorang dari Suku Batak yang beragama Katolik misalnya, adalah seorang Benuaq. Di lain sisi seseorang muslim disebut dengan Pahu.
Di kalangan suku Dayak, bagi Dayak Bahau misalnya, Dayak Benuaq terkenal sebagai salah satu sub Suku Dayak dengan citra yang kurang baik. Orang-orang Dayak Bahau di Desa Tukul, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat—dimana penulis pernah tinggal selama 6 Minggu—, mengatakan bahwa orang Benuaq adalah Suku Dayak yang primitif dan tak kenal kompromi terhadap orang lain. Sering gara-gara permasalahan sepele nyawa melayang.


Beberapa orang Dayak Bahau mengatakan bahwa sering terjadi orang-orang Dayak Benuaq “mengetes” tamu-tamunya. Misalnya dalam suatu perjamuan awal, katakanlah menikmati kopi pertama dari tuan rumah, jangan heran kalau tiba-tiba biji pelir anda, bagi lelaki tentu saja, tiba-tiba hilang satu. Dan jangan tersentak pula, kalau tiba-tiba anda melihat bahwa biji pelir anda sudah berada dalam asbak. Selain itu, di kalangan Dayak, Suku Dayak Benuaq terkenal karena keahlian mereka membuat anjat (tas punggung anyaman dengan bahan rotan yang dilengkapi dengan aneka motif Dayak).
Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi penulis selama 6 minggu di Kampung Dasaq, semua citra tersebut lenyap tanpa bekas. Penulis sendiri sempat beberapa kali tenggelam dalam perbincangan yang hangat dan intim dengan beberapa perempuan. Salah duanya adalah: Bu Kotek, seorang pembuat anjat, dan Bu Ngelon, seorang dukun belian (pengobatan khas Dayak). Dimana, kepada mereka berdualah tulisan ini dipersembahkan.
Dalam sebuah kesempatan menyambanginya di rumahnya yang berdinding dan beratapkan kulit kayu di tengah-tengah ladang yang ditumbuhi aneka macam tanaman, seperti padi huma yang mulai mulai menguning ketika kami datangi, karet, rotan hutan yang dibiarkan tumbuh sendiri, durian hutan, pisang hutan, salak hutan, dan kayu-kayu bagus seperti benggeris (Kompasia sp) dan ulin (Eusideroxyclon), Bu Ngelon (Foto: 1) membagi cerita hidupnya.
Bu Ngelon memiliki 2 orang anak, 8 orang cucu dan 4 orang cicit. Menurutnya, Pak Hatiyan adalah suaminya yang kedua. Suaminya yang pertama, seorang dukun belian, sudah lama meninggal dunia. Bersama Pak Hatiyan mereka berdua pernah keliling sampai ke Kalimantan Tengah, sehubungan dengan profesi Bu Ngelon sebagai seorang dukun belian.
Menurut Ibu yang mengaku dilahirkan pada tahun 30-an ini (perisnya tahun berapa, ia sendiri tak tahu), suaminya yang sekarang menikah dengannya karena ingin menjadi seorang dukun belian. Dengan menikahi Bu Ngelon yang seorang dukun belian, maka Pak Hatiyan berharap suatu saat kelak juga akan menjadi seorang dukun belian yang sakti.
Di usianya yang sudah tergolong senja, ternyata perempuan ini sangat kuat. Ia berjalan dalam hutan tanpa memakai alas kaki sama sekali. Menebas duri-duri rotan dan duri salak dengan mandau panjang yang selalu tergantung di pinggangnya. Sepanjang perjalanan Ia tak henti-hentinya bercerita. “Bah, Bos saya itu kalau cerita tak ada habisnya,” kata sang Suami mengomentari istrinya yang terus-menerus mengoceh.
Bu Ngelon bercerita banyak. Tentang bagaimana ia melihat ular phyton yang baru menelan babi. “Kalau ia baru makan babi, maka kepalanya ditanam ke dalam tanah. Badannya lurus di permukaan tanah. Ekornya juga ditanam di dalam tanah. Kalau kita ganggu dia dalam kondisi begitu dia akan diam saja. Tetapi jangan coba-coba mendekati dia dalam kondisi sedang lapar. Bisa-bisa kita langsung ditelannya,” katanya. Juga tentang aneka macam jenis tumbuh-tumbuhan dan aneka macam jenis akar-akaran. Mulai dari pohon benggeris yang disebutnya sebagai ‘pohon madu,’ karena katanya lebah madu sangat betah membangun sarangnya di pohon benggeris, sampai ke khasiat pasak bumi untuk kesegaran jasmani dan menambah vitalitas lelaki.
Dalam keseharian mereka, pasangan ini lebih banyak tinggal di rumahnya di tengah ladang daripada di kampung. Mereka turun ke kampung hanya kalau ada keperluan saja, semisal membeli perlengkapan dapur seperti garam, gula, kopi dan teh. Atau kalau ada upacara adat di kampung seperti pernikahan dan orang meninggal.
Menurut Bu Ngelon ia sering dimintai orang untuk membuat guna-guna. Banyak yang berhasil, tetapi ada juga yang tidak. Karena biasanya mereka (sang pasien) melanggar pantangan yang telah dikatakannya. Tetapi ia tak pernah mau kalau disuruh menyantet orang agar mati. “Tak bagus,” katanya.
Berbeda dari Bu Ngelon dan suaminya yang tinggal di tengah huma, maka Bu Koteq (Foto: 2) sekeluarga tinggal di rumah panggung mereka di tengah-tengah kampung. Sehari-hari Bu Koteq bekerja sebagai pembuat anjat. Ketika mentari mulai terbit di ufuk timur, bersama anaknya, perempuan ini segara membereskan segala macam urusan pekerjaan rumahnya. Setelah semua pekerjaan rumah beres, maka beliau segera memulai pekerjaannya sebagai pembuat anjat. Menurut beliau, keterampilan membuat anjat ini diperolehnya dengan cara melihat bagaiman orang lain membuat anjat. Aneka macam ukuran anjat yang dibuatnya. Mulai dari tas kecil seukuran tas pinggang yang selalu disandang oleh Ariel, sang vokalis Peter Pan itu, ketika manggung, sampai ke tas punggung dengan ukuran sebesar tas punggung mahasiswi/a.
Pada mulanya, anjat hanya dibuat dari bahan rotan. Tetapi karena belakangan ini bahan rotan semakin susah didapat, maka kabel bekas (mereka menyebutnya blasting) yang dipakai untuk keperluan peledakan di lokasi pertambangan dipakai sebagai bahan baku anjat.
Anjat dari bahan rotan dimodifikasi sedemikian rupa. Untuk memperoleh rotan yang berwarna-warni maka rotan direbus dengan air kayu. Untuk mendapatkan warna merah, maka rotan yang direbus dengan pohon kesumba. Untuk memperoleh rotan yang berwarna hitam, maka rotan direbus dengan pucuk kayu jenggol. Bahan baku rotan dibelinya dari para penduduk yang mengambil rotan di hutan. Satu kilo rotan biasanya dihargai sekitar 10 ribu rupiah. Satu anjat ukuran besar yang laku dijual seharga 250 ribu rupiah, membutuhkan bahan baku rotan kurang lebih sebanyak 5 kilogram.
Sementara untuk bahan blasting, dapat dibeli di pasar. Juga dalam ukuran kilogram. Satu kilogram blasting dengan pilihan warna bebas biasanya dibeli seharaga 20 ribu rupiah. Sementara satu anjat besar biasanya membutuhkan 1 kilogram lebih blasting. Anjat kemudian dijual dengan harga variatif, tergantung ukurannya. Mulai dari yang kecil seharga 50 ribu rupiah, sampai yang besar harganya dapat mencapai 300 ribu rupiah.
Bu Koteq biasanya menyelesaikan satu anjat dalam rentang waktu 2 sampai 3 hari. Tergantung ukuran anjat yang dibuat. Semakin besar ukurannya, maka waktu yang dibutuhkan pun semakin lama. Anjat-anjatnya kemudian dijual ke kota Kecamatan Muara Lawa, atau kadang-kadang ada orang-orang tertentu dari kota yang memesan anjatnya.
Biasanya, seperti sore itu, ketika matahari mulai terbenam di arah hulu Sungai Kedang Pahu, maka perempuan ini segera mengambil anjatnya, memasukkan beberapa jerigen putih ke dalamnya, dan segera berangkat mengambil air di pancuran yang terletak di ujung Kampung untuk keperluan keluarga. Ketika malam telah turun memeluk Desa Dasaq, di atas rumah panggung mereka, di tengah-tengah keluarganya sambil menonton televisi yang siarannya mereka dapat dengan penggunaan antena parabola, Ibu satu ini kembali meneruskan pekerjaannya sebagai pembuat anjat, sambil menunggu kantuk datang menghampiri.***nullcomcom

11 Responses to “Perempuan Dayak Benuaq”

  1. Evia N Koos Says:

    Saya udah nyari berhari hari, si ANJAT ini. Saya pernah punya selama bertahun tahun. Sampe2 menjadi trade mark saya. Sekarang saya sudah menetap di USA, jadi teringat dengan ANJAT tsb. Masih banyak barang2 saya yg ada di Surabaya termasuk si ANJAT ini yang belum sempat dikirim kemari. Tetapi sewaktu saya minta tolong orang rumah supaya dikirim kemari, nggak ketemu. Sayang banget rasanya. Dimana ya kalau mau beli?

    Terima kasih. Wassalam – Evia Koos

    • awaliya Says:

      salam kenal….

      klo mo beli ANJAT lagi ya d KALTIM, seperti yg ada di artikel ini, tapi gak perlu pergi dasaq kok klo mo belli ANJAT, di SAMARINDA ato BALIKPAPAN juga banyak kok cuma harga jual di BALIKPAPAN jauh lebih mahal ketimbang beli di SAMARINDA ato di dasaq….

      thanks,

      awaliya

  2. hamsin Says:

    slam kenal mas numpang baca z menarik banget blognya..saya bisa dapatkan informasi disini slam http://www.hamsin.wordpress.com

  3. kavung Says:

    Tulisan yang menarik salam kenal ya…http://kavung.com

  4. Mujie Says:

    Mantab bos, numpang baca ya :)

  5. allent Says:

    Wah keren bgt, ada orang yang mau mempopulerkan Dayak, Saya sendiri sebagai putra daerah merasa kagum dngn anda, saya jg pengen sekali membuat situs seperti ini.
    Dayak di atas masih belum lengkap, Dayak mempunyai banyak suku, misalnya: Dayak Benuaq, Dayak Tonyoi(Tunjung), Dayak Kenyah dll.

  6. doni Says:

    salut buat anda…

  7. restiania Says:

    dyk benuaq itu banyak pula koq yang ramah2……santai aja ya
    awek nan masalahh……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: