Syadziliyah dan Pencarian Spiritualitas Baru

Minggu, 5 November 2006

Oleh: Luthfi Makhasin (Anggota Forum lafadl, Pengajar di UNSOED purwokerto)

Dalam catatannya tentang perkembangan tarekat Naqsabandi-Kholidiyah di Indonesia, Bruinessen menyatakan bahwa tarekat ini biasanya mencari pengikut di kalangan ningrat dan kalangan elit politik, sebelum akhirnya menyebar di kalangan masyarakat umum. Gejala “ningratisasi” tarekat ini erat kaitannya dengan perkembangan politik Jawa akhir abad ke-19. Menyiasati pembatasan yang dilakukan Belanda terhadap gerakan tarekat setelah pemberontakan petani Banten 1888, Naqsabandi-Kholidiyah mencari patronase di kalangan elit politik pribumi untuk penyebarannya.

Tarekat Naqsabandi-Kholidiyah di Sokaraja pun bukan pengecualian. Pendiri dan penyebar pertama tarekat ini, Syekh Muhammad Ilyas, berasal dari latar belakang keluarga ningrat/bangsawan. Di samping seorang kyai, dia seorang bangsawan dengan gelar Bendoro Raden Mas dari keraton kasultanan Jogjakarta. Perkawinannya dengan Khadidjah makin mengukuhkan klaim keningratan ini, karena istrinya adalah putri Haji Abubakar, seorang penghulu landraat kabupaten. Pada masanya, penghulu landraat adalah seorang elit agama berpengaruh dari keluarga bupati. Penghulu bertanggung jawab dalam urusan hukum Islam di bawah perlindungan Belanda. Tidak mengherankan ketika dia mulai menyebarkan ajaran tarekatnya, hampir semua kyai penghulu di Banyumas dan Purwokerto (sampai 1937 Purwokerto dan Banyumas adalah dua kabupaten terpisah) menjadi pengikutnya. Ketokohan kyainya di kalangan elit membuat tarekat ini berkembang menjadi tarekat terbesar bukan saja di Sokaraja tapi juga Banyumas secara umum.

Tapi segalanya berubah setelah meninggalnya mursyid ketiga, KHR Rifai Affandi pada tahun 1968. Pelan tapi pasti, Syadziliyah menggantikan Naqsabandi-Kholidiyah sebagai tarekat dengan jaringan terluas. Sebagian besar mursyid tarekat di Banyumas sekarang ini adalah guru tarekat Syadziliyah yang melacak garis silsilahnya dari beberapa sumber berbeda; Kendal, Purworedjo, Solo, Pekalongan, dan juga Timur Tengah. Masing-masing mursyid Syadziliyah ini membangun jaringan pengikut dari hanya beberapa ratus sampai puluhan ribu yang tersebar di seluruh wilayah Banyumas.

Perubahan afiliasi tarekat di Sokaraja menarik untuk diamati, bukan saja karena posisi istimewanya sebagai pusat penyebaran Islam di Banyumas, tapi juga karena kuatnya pengaruh gerakan tarekat di kota kecil ini. Kota kecil ini menjadi pusat penyebaran 3 tarekat besar; Naqsabandi-Qodiriyah, Syadziliyah dan Naqsabandi-Kholidiyah dengan lima orang guru tarekat. Dinamika Islamisasi di Sokaraja bahkan bisa dikatakan selalu diawali oleh perubahan afiliasi tarekat di kalangan penduduknya. Ada beberapa faktor untuk menjelaskan perubahan afiliasi tarekat ini, yaitu sejarah, politik, ekonomi dan kultural.

Dari sisi sejarah, Islamisasi lokal Sokaraja berpusat di dua keluarga kyai terkemukanya, Syekh Muhammad Ilyas dan Syekh Imam Rozi. Dari beberapa kali wawancara yang penulis lakukan, klaim tentang ketokohan keduanya meningggalkan aroma “persaingan” yang sangat kuat di antara keturunannya.

 

Sumber lokal biasanya menyebut Syekh Imam Rozi sebagai perintis pertama dakwah Islam di Sokaraja. Menurut keturunannya, Syekh Imam Rozi berasal dari Kediri dan pernah nyantri di Pesantren Mlangi, Sleman, sebelum akhirnya bergabung dengan Diponegoro melawan Belanda (1825-1830). Setelah kekalahan Diponegoro, Syekh Imam Rozi bersama beberapa pengikutnya bermukim di Kebonkapol, Sokaraja Lor. Sekembalinya dari Mekkah sekitar 1836, Syekh Imam Rozi mendirikan Pesantren. Pesantren Kebonkapol (dikenal juga dengan nama Pesantren Assuniyah) saat ini adalah pesantren tertua di Banyumas.

 

Pada masa kepemimpinan Syekh Muhammad Ilyas dan KHR Affandi Ilyas, keturunan Syekh Imam Rozi menjadi pengikut dan tokoh-tokoh tarekat Naqsabandi-Kholidiyah. Mengikuti leluhurnya, keturunan Syekh Imam Rozi agaknya masih tetap menganggap keturunan Diponegoro sebagai gurunya juga yang harus dilayani. Tapi sepeninggal Kyai Nashrawi pada tahun 1931 – dia cucu Syekh Imam Rozi, murid Syekh Muhammad Ilyas dan digambarkan sebagai tokoh kyai paling berpengaruh pada 1920-an di Sokaraja –, tidak ada lagi keturunan Syekh Imam Rozi yang menjadi pengikut Naqsabandi-Kholidiyah.

Ketika Kyai Muhammad Asfiya (cucu Syekh Imam Rozi dan sepupu Kyai Nashrawi. Dia murid Syekh Shiroj, seorang guru Syadziliyah di Solo) menjadi mursyid dan mulai menyebarkan Syadziliyah, keluarga besar Syekh Imam Rozi seperti menemukan kembali kebanggaannya sebagai keturunan perintis Islam di Sokaraja. Lebih dari itu, Syadziliyah memberi mereka “modal budaya” untuk “melawan dominasi” Naqsabandi-Kholidiyah di kalangan keluarga bekas tuannya ini. Nyatanya sampai saat ini, Syadziliyah Sokaraja diturunkan hanya diantara keluarga besar Syekh Imam Rozi.

 

Posisi sebagai pewaris Syadziliyah kadang “dimanfaatkan” untuk meneguhkan dan memperkuat klaim tentang ketokohan moyangnya sebagai perintis dakwah Islam pertama di Sokaraja. Peneguhan ini berkisar pada klaim tentang kealiman dan ketokohan mursyid Syadziliyah keturunan Syekh Imam Rozi yang lebih “unggul” daripada mursyid Naqsabandi-Kholidiyah. Secara terbuka, seorang mursyid Syadziliyah bahkan menyatakan kalau “mursyid Naqsabandi ora ngalim dadi kudu didampingi kyai liyani kon mulang murid-muride, ora kur siki tapi kawit gemiyen” (mursyid Naqsabandi tidak alim jadi mesti didampingi kyai lain untuk mengajar murid-muridnya, tidak hanya sekarang tapi dari dulu).

 

Dari sisi politik, mursyid Syadziliyah biasanya juga adalah para aktivis sosial dan politisi handal yang “lihai” membaca dan memanfaatkan situasi. Ini berbeda dengan mursid Naqsabandi-Kholidiyah yang cenderung tidak mau menonjolkan diri. Segera setelah naiknya Orba, mursyid Syadziliyah Sokaraja menjadi elit pimpinan NU dan juga PPP (sampai awal 90-an, Sokaraja berstatus sebagai cabang NU yang terpisah dari cabang NU Banyumas dengan wilayah kerja Banyumas bagian selatan). Almarhum Kyai Ahmad Mudatsir (mursyid Syadziliyah keempat di Sokaraja) adalah politisi lokal asal PPP yang handal pada masanya. Setelah khittah NU 1984, sementara tetap berafiliasi dengan PPP, mursyid Syadziliyah dalam posisinya sebagai elit NU memanfaatkan bulan madunya dengan pemerintah untuk pengembangan dakwah/pesantren. Ini salah satu alasan kenapa jumlah pesantren di Banyumas meningkat cukup signifikan sejak 1980-an. Sekarang ini, mursyid Syadziliyah Sokaraja menjadi salah satu pimpinan PKB Jateng. Pada periode 1999-2004, dia menjadi salah satu wakil DPRD Kabupaten Banyumas.

 

Sementara itu dari sisi ekonomi, perubahan afiliasi tarekat merupakan akibat langsung dari perbedaan adaptasi yang dilakukan kalangan elit agama dan akar rumput dalam menghadapi situasi ekonomi yang berubah setelah hancurnya industri batik. Di kalangan elit Syadziliyah, mereka lebih suka memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan keagamaan (pesantren/IAIN). Setelah lulus dan mewarisi garis kemursyidan orang tua/saudaranya. Pola adaptasi semacam ini membuat elit Syadziliyah tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai elit agama yang berpengaruh di masyarakat. Mursyid Syadziliyah Sokaraja saat ini (KH Muhammad Imam Munchasier) misalnya, memiliki latar belakang pendidikan pesantren disamping gelar kesarjanaan formal dari IAIN terkemuka di Bandung.

Sementara di kalangan elit Naqsabandi-Kholidiyah, akumulasi kekayaan yang terkumpul pada masa kejayaan batik memungkinkan mereka menyekolahkan anaknya ke PT umum terbaik. Setelah menyelesaikan pendidikannya, banyak dari mereka yang kemudian menetap di daerah lain dan bekerja di sektor birokrasi, pendidikan dan lainnya. Pendidikan tinggi umum dan karier birokrasi ini ironisnya kemudian menutup kesempatan keturunannya mewarisi posisi sebagai elit agama sebagaimana yang dinikmati orang tuanya.

Sebelum mengalihkan garis mursyid ke anak bungsunya, kandidat terkuat untuk mengganti KHR Abdussalam (mursyid Naqsabandi-Kholidiyah) sebagai mursyid adalah anak sulungnya. Namun KHR Abdussalam harus mengurungkan niatnya ini karena karier bagus yang sudah dinikmati anak sulungnya ini di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Jogja (anak sulungnya ini adalah seorang dosen teknik dan mendapatkan gelar doktoralnya di Inggris di bidang engeenering).

 

Sedangkan di tingkat akar rumput, kemampuan masyarakat Sokaraja untuk memanfaatkan kesempatan baru yang disediakan oleh perkembangan kota dan pasar tidak mengikis akar “kesantrian” yang diwarisi secara turun-temurun. Pengajaran agama dan kyai bagi orang Sokaraja seperti kebutuhan pokok harian yang harus selalu dipenuhi.

 

Berbeda dengan Naqsabandi-Kholidiyah yang mengalami problem regenerasi kepemimpinan, Syadziliyah sepertinya tidak mengalami problem serupa. Setelah meninggalnya KH. Ahmad Mudatsir pada tahun 1994, KH. Muhammad Imam Munchasir mengambil alih tampuk kepemimpinan dari kakaknya. Beberapa tahun sebelumnya, dia juga melakukan keputusan berani untuk meninggalkan kariernya sebagai staf pengajar di IAIN Bandung. Dengan reputasi formal yang telah dibangun sebelumnya sebagai “ahli agama” di institusi pendidikan tinggi Islam, mursyid Syadziliyah menawarkan kepada massa akar rumput profil seorang kyai yang siap dan mampu menjawab hampir segala persoalan yang mereka alami sehari-hari.

 

Berkaitan dengan perubahan ekonomi, secara kultural, menguatnya Syadziliyah sejak akhir 1960-an juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Meningkatnya tingkat pendidikan dan kemakmuran yang dinikmati Sokaraja sejak 40 tahun terakhir membuat perubahan preferensi nilai penduduknya dalam memandang status sosial dan praktek beragama. Gelar kebangsawanan dan prestise keturunan, meski masih dihargai, semakin merosot nilainya sebagai penanda distingsi sosial. Di samping itu, berbeda dengan generasi sebelumnya yang menjadi penganut tarekat tanpa “tanya” dan cenderung “mistik”, antusiasme untuk mengikuti tarekat saat ini banyak didorong oleh motif-motif yang sifatnya lebih “rasional” dan kadang bahkan “utilitarian” (keinginan supaya dagangnya lancar, untung, karier bagus, dll.)

 

Struktur internal Naqsabandi-Kholidiyah sangat hierarkis (terdiri dari mursyid/guru, kepala lingkungan/kyai pendamping mursyid, badal/pembantu kepala lingkungan, rowang/pembantu badal, dan ikhwan/anggota). Hierarki ini mengandaikan bahwa yang diatas selalu “lebih pintar” dari hierarki bawahnya. Di sisi lain, Syadziliyah lebih egaliter karena hubungan guru-murid bersifat langsung dan tanpa mediasi orang lain. Lebih dari itu, Syadziliyah memiliki praktek dzikir dan liturgi yang lebih sederhana. Sementara Naqsabandi-Kholidiyah mewajibkan pengikutnya untuk mempraktekkan dzikir sepanjang waktu dalam jumlah sampai puluhan ribu, Syadziliyah hanya mewajibkan pengikutnya untuk berdzikir dua kali sehari (pagi dan petang) dalam jumlah beberapa ratus saja. Berbeda dengan Naqsabandi-Kholidiyah, Syadziliyah juga tidak mengenal suluk, khalwat, dan khataman periodic.

Lebih penting dari semuanya, mursyid Syadziliyah terlihat lebih siap melayani “dahaga material” penduduk Sokaraja melalui dakwah keagamaan yang intens, dialogis, dan kadang “gegap-gempita”. Mursyid Syadziliyah biasanya fasih menjawab pertanyaan kritis jamaah dalam soal perniagaan, munakahat, politik, pewarisan, hokum tontonan populer di TV, dan segala persoalan keseharian lainnya. Syadziliyah juga tidak segan-segan mengadakan pengajian dan manakiban secara besar-besaran dengan sponsor perusahaan rokok dan sound system ribuan watt. Sementara itu, mursyid Naqsabandi-Kholidiyah cenderung lebih konsen untuk memenuhi “dahaga spiritual” muridnya. Alih-alih memberi pelajaran fikih tingkat tinggi seperti Syadziliyah, mursyid Naqsabandi-Kholidiyah justru memberikan pelajaran agama yang sangat mendasar, seperti bagaimana memperbaiki wudhu, melakukan sholat yang tuma’ninah, menjaga ucapan, bersiap menghadapi sakaratul maut dll. Mursyid Naqsabandi-Kholidiyah juga bukan tipe dai keliling tapi lebih menampilkan profil seorang guru yang membimbing muridnya mencari hakekat hidup beragama untuk mencapai “akhir” yang khusnul khotimah.

Pada tingkat tertentu karenanya, perubahan preferensi kultural ini menunjukkan gejala “rasionalisasi” beragama dan bahkan “soft secularisation”. Ini adalah sebuah kecenderungan untuk memberi makna yang “masuk akal” untuk aktivitas yang sebenarnya murni spiritual. Sebaliknya, ini juga bisa dipahami sebagai usaha untuk memberi isi agamis/spiritual pada hal-hal yang sifatnya sebenarnya sangat profan.

30 Responses to “Syadziliyah dan Pencarian Spiritualitas Baru”

  1. Joedhono Iskandar Says:

    Bagaimana dengan tarekat yang ada sekarang seperti Tarekat Naqsabandiyah Aliyah muridnya adalah Sultonul Aulia Syech Sayidi Muhammad Maulana Nazim Al-Qubrusi al-Haqani yang saat ini sudah tersebar seluruh dunia khususnya di Indonesia apakah tarekat ini dalah salah satunya

  2. Ahsan Lau Says:

    Terima kasih, sebuah artikel yg sudah lama saya cari tentang keberadaan & perkembangan tarekat Syadziliyah di Indonesia.. Kalau ada yang lain, mohon dapat diinformasikan ke kami..semoga berkenan & terima kasih sebelumnya

  3. hadisukoco Says:

    Kalo melihat comment anda,seperti ada persaingan antara 2tariqat tsb,padahal,kalo dilihat dari sejarah kemursyidan 2 tariqah di banyumas,menurut saya tidak ada aroma persaingan antara 2 tariqah tsb,coba anda telaah salah seorang mursyid bernama syeikh abdul malik dibanyumas,beliau adalah mursyid dua tariqah tsb

  4. roy Says:

    seprtinya ada kekurangan analisa dan cepatnya kesimpulan bahwa ada persaingan antara 2 tarekat di wil sokaraja, dan perkembangan tarekat banyumas tdk terbatas pd 2 tarekat yang sdr sebut saja tp ada juga yang lain yang mungkin tak kalah besar yaitu TQN, dgn beberapa orang mursyid di wil banyumas


  5. saya kira ga ada persaingan dalam dunia tarekat apapun, mungkin cuma sekedar fanatisme saja,dan menurut saya fanatisme boleh2 saja asalkan jangan berlebihan.saya naqsyabandiyin yang hidup berdampingan secara damai dengan para pengikut tarekat yang lain di desa saya binangun cilacap.terimakasih

  6. wisnu Says:

    terimakasih atas artikel yang anda buat kang, maaf apa boleh tanya anda bertoriqoh juga ? karena kedua toriqoh ini sangat2 begandeng tangan seperti mursyid naqsyabandiyah SYEKH HAMID HUSEN Gg.samali ps.minggu dan MURSYID SYADZILIYAH SYEKH ABDUL JALIL MUSTAQIM PETA TULUNGAGUNG yang tujuannya YAITU ALLAH SWT JALAJALALUH, jadi sangat tidak ada kesan politis disini. Syadziliyah juga tidak mengenal suluk, khalwat (komentar ini sangat tidak benar. sesudah sebelumnya saya ucapkan minal aidin walfaidzin. salam kenal kang lutfi

  7. muh ansori Says:

    Assalamu’alaikum WrWb.
    barangkali kalau boleh ikut usul,analisa saudara mohon untuk lebih komprehensif lagi karena apa yang disampaikan bapak hadisukoco,10 sept 2007 agar ditelaah lebih jauh mursyid syeikh abdul malik bin yahya sepengetahuan kami begitu,fanatisme para salik tidak perlu berlebihan bagaimanapun tujuannya adalah satu Allah SWT ,numpang kenal
    wassalam
    pemula

  8. Abuthoriq Says:

    Thoriqoh merupakan jalan utk capai ketaqwaan. Walau dmk thoriqoh ndak boleh ninggalkan syariah. Jika berkenan dapt saling link

  9. Arif Fiandi Says:

    Insya Allah tdk ada persaingan dlm thoriqoh, hanya metode pendidikan ruhaninya saja yg b’beda2 (baik dzohir maupun batin) dan mempunyai ciri khasnya msg2, tp tujuannya sama Allah swt.
    Ttg pewarisan kedudukan Mursyid, bkn spt raja menurunkan tahta kpd putranya dg “seenak perutnya sendiri” karena mempunyai tendensi “keduniawian” tertentu dan tdk hrs putra/saudaranya yg mewarisi. Akan ttp itu s’mata2 mmg ada ptunjuk dr Allah swt. Sbg cth: MURSYID SYADZILIYAH Syekh Muhammad Mustaqim bin Husain PETA TULUNG AGUNG, m’dptkan kedudukan MURSYID dari Allah swt melalui Syekh Abdurrozaq TERMAS (beliau b’2 tdk memiliki hub nasab sbg ayah & anak serta saudara).
    Thoriqoh Syadziliyah juga tidak mengenal suluk/khalwat (Sangat,sangat,sangat tidak benar).
    => Ma’f hny skdr masukan, mohon tulisannya d’kaji kembali dg mnggunakan data2 primer yg shahih <=
    (Atas kekurangan & kesalahan mohon ma’f s’besar2nya)
    Trima kasih

    • qowiyuddin Says:

      numpang nulis,,,
      Thoriqat syadziliyah mengenal suluk dan suluk tersebut lafadz tergantung dari yang ngijazahi di Tulung agung sana,,
      tolong dikaji ulang bahwa syadziliyah tidak mengenal suluk,,

  10. Andi Says:

    Kurang sepakat.
    he.. he.. he..

  11. Aangbaihaqi Says:

    Memang thoriqoh adalah lelaku untuk penghayatan keagamaan.dimana semua thoriqoh pasti mengajarkan ketulusan. sebenarnya artikel yang disampaikan Mas lutfi. lebih banyak mengcover dari aspek sosilogis. setudy kasus didaerah Banyumas dan sekitar.
    jika dia mempresentasikan adanya ekses sosial yang dalam bahasa mas lutfi adalah persaingan. kalau lah bisa dikatakan persaingan, hal itu tidak lebih di akibatkan oleh perjuangan para mursyid dalam ranah kepemimpinan sosial kemasyarakatan.
    memang tidak semua para Mursyid thoriqoh mempunyai kecakapan dalam memadukan mata batinnya dan strategi sosial.
    jadi menurutku para Mursyid yang mempunyai kecakapan dalam memadukan dua kehliyan tersebut akan banyak atau besar pengaruhnya. hanya asumsiku. wallohu a’lam

  12. diyyan Says:

    sedikit tambahan….ada salah satu adik dari K.Ahmad Mudatsir yang lain yang juga seorang mursyid yaitu K.Muthorir Fikri yang tinggal di Purbalingga

  13. ndaru prabajati Says:

    mohon info alamat mursyid / jamaah tarekat syadziliyah di solo, tks

  14. azlan Says:

    saya dari malaysia…artikel yg dibahaskan adalah kebanyakan tidak benar….dalam thorikat,semuanya sambung kpd NABI….mana ada persaingan dalam thorikat..samada naqsabandi al-kholidi atau syadzaliyyah adalah sama2 berjalan menuju ALLAH…,CUMA ,pengikut2 yang berfikiran sempit sahaja yang berfikiran seperti itu….

  15. orang awam Says:

    maaf,,tolong bagi yang tahu,,info alamat mrsyid tarekat naqsyabanadi kalidiyah..atau alamat mursyid tarekat syattari…
    Dari orang awam…belilas,,inhu,,riau

  16. saefudin Says:

    Mas Lutfi, saya melihat anda seorang intelektual kampus… tapi sayang tulisan anda seperti cerpen yang kurang pas secara alur dan isinya… jadi 1/2 matang.
    Mari diskusi dengan kami di Ath-Thohiryyah Parakan Onje,…
    Sip: Mas Udien

  17. WONG RA NGAJI MELU NIMBRUNG Says:

    Gimana dengan Habib Lutfi Pekalongan, katanya beliau penganut Thoriqoh Syadziliyah juga. Apakah beliau juga tergolong mursyid atau bukan?

  18. yusup096 Says:

    Mohon info alamat dan kontak untuk mursyid tariqoh syadziliyah yang ada di jakarta dan bekasi. terimakasih

  19. rudie Says:

    terimakasih ats tulisannya, tp mnrt saya dalam tarikat tdk ada persaingan mencari banyak pengikut, dan tdk bangga dg bnyakny murid.


  20. terimakasih atas tulisannya,baarakallaahu lanaa walakum…

  21. Restu Sangadjie Says:

    ngaji-ngajio siro kabeh


  22. terimakasih,,,,,,,sebetulnya saya salah satu keturunan imam rozi+R.a Sumirah,,,,hanya saja saya kesulitan mendapatkan garis keturunan/silsilah yang benar, kakek saya R.M Sastro suwarno Bin R.M imam Maknawi (imam besar masjid agung Solo) bin Imam Rozi,,,saya ingin mendapatkan garis keturunan imam Rozi yang lengkap,,,,,,,jika ada informasi mohon di emailkan ke gae_studio@yahoo.com. trimakasih

  23. najib A. Says:

    semua thareqat itu sama,jadi jangan saling menjatuhkan…ISLAM itu mulya jgn hilangkan kemulyaan itu…

  24. jakapoleng Says:

    cari mursid sajiliyah

  25. Sulist Says:

    Insya Allah tdk ada persaingan, apalagi pertentangan antar pengamal tarekat, krn para mursyid masing2 tarekat yg mu’tabarah mengajarkan ahlak yg tinggi, mencontoh panutan alam Baginda Rasullulah Saw, menghormati orang lain & mencintai mereka krn Allah Swt. Tidak akan ada waktu utk menjelekan, menganggap paling benar, paling suci, apalagi merasa dirinya & tarekatnya paling unggul, krn org yg sudah mengenal Tuhan, apapun tarekatnya mereka akan fana, larut dlm keikhlasan ibadah hanya untuk keridhaan illahi rabbi.

    Getaran detak jantungnya, mata, telinga, kaki-tangan, dan hati FULL ALLAH, merekalah para wali Allah yg ‘tersimpan’ dlm khasanah kemahaindahan-Nya, hanya wali Allah yg tahu siapa wali Allah, adakalanya mereka mastur/ tersembunyi dr khalayak ramai, dan ‘malu’ kpd Allah jika ditampakan karamah2.

  26. Fathul arif Says:

    Ass. Wr wb. Sdr dari keturunan mbah Asfiya/ilyas kroya bukan?

    • yusup096 Says:

      wa alaikum salam wr wb.
      mohon info mursyid utk daerah jakarta dan bekasi…saya adalah newbie yg merindukan cahaya, butuh lampu utk berjalan… walaupun lampu yg tak seterang pijar. insya Allah tekad sudah bulat.

  27. Taufsyaif Says:

    Udah jgn bersaing ttg trekat lah. Lebih baek amalkan aja. Jgn jdkan tarekat sbg saingan. Tarekat bukan pasar toh. Jgn jdkan maenan lah. Ok! B-)


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: