Mencari Lengger di Banyumas

Minggu, 1 Oktober 2006

Oleh: Mokh Sobirin (Pegiat lafadl)

 

Beberapa informasi awal berhasil kami (Aku dan Iput) dapatkan untuk memperdalam riset kami tentang Lengger (sebutan tayub di Banyumas). Beberapa orang yang kami temui menceritakan beberapa hal penting tentang Lengger. Pertama adalah Kang Tohari, yang menceritakan bagaimana Lengger benar-benar menjadi sebuah arena yang sakral sekaligus profane. Pada sekitar tahun 1960-an, tidak banyak orang desa yang mengundang Lengger untuk pentas karena tingkat ekonomi masyarakat pedesaan yang tidak terlalu bagus untuk membayar kelompok Lengger. Kelompok Lengger mengadakan pentas di desa setelah petani desa memanen padi. Biasanya secara spontan penari Lengger menggelar tikar di tanah lapang kemudian menari diiringi penabuh calung dan kendang. Menurut Kang Tohari, pertunjukan biasanya dimulai sore hari dan berakhir saat malam telah larut. Di awali dari penabuh kendang sebagai pertanda datangnya musim panen kemudian di sambut dengan pemain calung-berfungsi untuk mengumpulkan masyarakat desa dan kemudian dilanjutkan dengan penari lengger. Barulah prosesi lenggeran berlangsung. Penduduk sekitar arena memasang obor sebagai penerang. Ditengah pertunjukan biasanya salah seorang anggota kelompok Lengger mengedarkan kotak untuk mengumpulkan uang dari penonton yang menikmati pertunjukan malam itu. Seperti yang ia ceritakan dalam novelnya, bahwa pada titik tertentu Ronggeng dapat memainkan perannya sebagai pengemban tugas suci membawakan tari untuk menghormati dewi kesuburan. Ciu dan seks baru mewarnai pementasan Lengger ketika ia dipentaskan dalam acara yang digelar oleh kalangan priyayi ataupun pejabat pemerintahan.

Tetapi Lengger telah dimatikan seiring dengan berkembangnya wacana anti-komunisme di tahun 1965. Ia mengamati bagaimana stigmatisasi terhadap Lengger sebagai bagian dari PKI telah mengubah relasi yang sebelumnya terjalin antara Lengger dan masyarakat Banyumas. Lengger coba dihilangkan sebagai ikon Banyumas. Hal ini tentu saja memaksa banyak kelompok Lengger menutup kisah mereka sebagai seniman Lengger seiring dengan sepinya pementasan, bahkan di desa sekalipun. Tak ada lagi ritual penghormatan setelah panen.

Lengger “hidup kembali” saat Golkar berkampanye di awal 70-an. Lengger dihidupkan sebagai bagian dari mesin penarik massa dalam kampanye Pemilu. Tetapi perubahan terjadi pada Lengger di tahun-tahun ini. Banyak tradisi yang hilang dari pementasan Lengger. Perubahan yang di ceritakan oleh Kang Tohari antara lain tentang isi wangsalan (syair) yang dilantunkan oleh Ronggeng (penari Lengger) yang dulunya bercerita tentang petuah-petuah filosofis Jawa telah berubah menjadi slogan-slogan kampanye a la Golkar. Tak ada lagi acara tayub ditengah pementasan, tak ada lagi ciu dan semua pernak-pernik “kemaksiatan” di sekitarnya. Begitu pula kostum kelompok Lengger yang telah didominasi oleh warna kuning. Mulai tahun 1970-an Lengger telah dikooptasi oleh struktur politik Orde Baru melalui Golkar. Dalam bahasa Kang Tohari, Lengger telah menjadi zombie. Bahkan istilah Lengger coba diganti dengan istilah baru yang khas Jawa Mataraman, yaitu Gambyong Banyumasan.

Orang kedua yang kami temui adalah Yastro, Lurah Gurduren, sebuah desa yang dulu terkenal dengan kelompok Lengger nya. Di Desa ini tinggal keluarga Pak Tamiyaji yang menjadi seniman Lengger secara turun temurun. Ia yang dilahirkan pada tahun 1965 menceritakan bahwa pergelaran Lengger baru di lihatnya kembali sekitar tahun 1972, pada saat kampanye Golkar. Ia juga mengatakan hal yang hamper sama dengan apa yang disampaikan oleh Kang Tohari tentag perubahan yang terjadi terhadap kelompok Lengger.

Perubahan juga terjadi pada para klien yang mengencani Ronggeng di luar pementasan. Sejak awal 70-an, klien Ronggeng kebanyakan adalah para aparat militer, baik dari kepolisian, ABRI, maupun polisi hutan. Terbukti dengan banyaknya mantan ronggeng yang kemudian kawin dengan anggota militer. Menurutnya hal ini cukup logis mengingat stigmatisasi tentang Lengger sebagai kesenian PKI cukup berpengaruh dalam interaksi social antara kelompok Lengger dengan pejabat pemerintahan sehingga mereka mencari pengayoman.

Sekarang tak ada lagi cerita Lengger di desa ini. Ia mengatakan bahwa tidak adanya regenerasi antar generasi Lengger dan perubahan pola piker masayarakat Desa Gurduren telah mengakibatkan Lengger kehilangan daya tariknya sebagai sebuah pilihan berkesenian. Perubahan nilai-nilai social yang tidak lagi permisif terhadap Lengger maupun perilaku Ronggeng diluar pentas juga telah mengakibatkan Lengger di desa ini kehilangan penerusnya. Menurutnya perubahan nilai dalam masyarakat ini diakibatkan berkembangnya institusi pendidikan di desa ini. Yastro juga menceritakan bahwa para seniman Lengger sendiri mencoba menghapus memori tentang keikutsertaan mereka dalam kelompok Lengger karena stigmatisasi Lengger sebagai kesenian PKI. Kenyakan seniman Lengger di desa ini telah beralih pada kelompok-kelompok Kuda lumping yang sedang in akhir-akhir ini.

Orang ketiga yang kami temui adalah Tamiyaji. Dalam obrolan yang cukup panjang kami mencari informasi tentang hal-hal teknis seputar pementasan Lengger. Kami menghindari pembicaraan yang khusus tentang hal-hal diluar pementasan karena mengingat pesan Pak Lurah agar jangan menyinggung kehidupan Lengger pada masa lalu. Tamiyaji menuturkan dengan sangat rinci tentang berbagai piranti yang digunakan dalam pementasan Lengger, antara lain; Calung (sejenis alat musik pukul yang berjajar dan mempunyai nada bunyi tersendiri dalam setiap lajurnya), bongkel (sejenis angklung dengan tiga balok bamboo sebagai instrument penghasil suara ini masuk pada alat musik bongkel bukan calung), angklung, Gong tiup , Gamelan bamboo , dan Kendang. Tak hanya itu, untuk mengakomodasi permintaan penonton saat pentas kuda lumping, ia juga memiliki drum dan organt untuk mengiringi pesindennya yang serigkali diminta untuk menyanyikan lagu dangdut ataupun campursari. Ia dituntut untuk bisa memainkan musik apa saja, meskipun ia mengaku lebih senang memainkan langgam Banyumasan yang menjadi pakem tembangnya.

****

Awal September yang lalu Lengger kembali dipentaskan di alun-alun Kabupaten Banyumas yang diadakan sebagai pembukaan MTQ se-Kabupaten Banyumas. Pentas kali ini juga mementaskan Lengger hasil gubahan seorang guru di sekolah seni di Purwokerto.

Lengger kali ini juga berbeda dengan tarian Srinthil dalam novel Kang Tohari. Lengger kali ini dipentaskan oleh penari yang kesemuanya mengenakan jilbab dan tidak ada triakan cabul yang mengiringi goyangan pinggul penari Lengger. Apakah Lengger akan hidup kembali dengan suasana baru? Kita tunggu saja tanggal mainnya.

About these ads

11 Responses to “Mencari Lengger di Banyumas”

  1. surur Says:

    Rin, liputanmu sudah cukup lumayan. Aku cuma ingin menambahkan beberapa hal yang mudah-mudahan bisa memperdalam liputanmu.
    Pertama, mengenai stigmatisasi dan pudarnya lengger pada 1965-an. Apakah peminggiran itu terjadi karena Lengger itu secara organisatoris (grup/lembaga) dan personal (seniman) berafiliasi ke Lekra, sehingga lengger diasosiasikan sebagai kesenian PKI?
    Kedua, Apa yang meletarbelakangi pengubahan nama lengger menjadi gambyong banyumasan. lalu dimana perbedaan yang cukup mendasar sebelum dan setelah perubahan sebutan itu? Mungkin perlu juga dijelaskan kalimat : “Tak ada lagi acara tayub.” Maksudnya, tayub di sini itu dimaknai sebagai apa?
    Ketiga, bisa tidak dicontohkan wangsalan yang berisi falsafah jawa dan juga slogan-slogan ala Golkar itu? Trus, apakah pada waktu pemnetasan lengger di MTQ itu terjadi juga perubahan (modifikasi) syair? Misalnya, syairnya diganti dengan shalawatan, dsb.
    Keempat, terus terang aku tidak tahu apakah perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pergulatan lengger itu juga melibatkan pihak pesantren? Maksudnya, apakah pesantren juga menjadi bagian penting di dalam perubahan-perubahan itu seperti munculnya stigmatisasi dari pesantren, dsb.
    Oke, rin. untuk sementara ini dulu yang bisa aku tanggapin. Good Job lah…

  2. Kang Bawor Says:

    Yahhhhhhhh…begitulah nasib hampir semua kesenian tradisional kita. MAti tertindas kegilaan bangsa sendiri.
    Jaman tahun 66 dikejar-kejar dituduh komunis, jaman sekarang diobok-obok dituduh pornografi.

    Setidaknya wong banyumas patut bertrimakasih kepada Unsoed, yang mempopulerkan kembali kesenian lengger ini pada tahun 80-90 an.

    Setelah habis dikejar-kejar karena dituduh komunis, hanya sebagin kecil saja masyarakat yg berani nanggap lengger, sampai akhirnya tarian lengger ini dibawakan kembali oleh mahasiswi-mahasiswi yg cantik dari Unsoed. Lewat berbagai even kesenian tingkat nasional dan internasional. Meskipun mengalami sedikit modifikasi tapi setidaknya masyarakat mengenal kembali kesenian ini.

    Tapi jaman sekarang lengger mencoba diberangus lagi dengan kedok berbau pornografi dan bertentangan dgn norma agama.

    Sampai-sampai untuk menari lengger pun harus menggunakan jilbab. Duh kasian nasibmu lengger. Nasibmu cuma gambaran nasib bangsa ini yang kian tercabut dari akar budayanya.

    Please jangan ganti budaya orang nusantara dengan budaya impor padang pasir yg gersang. Kita bangsa tropis yang tinggal di wilayah tropis yg sangat subur

  3. Cablaka Says:

    Menarilah seperti Srintil, menari demi kepuasan jiwa.
    Tanpa harus buka klambu tetapi cukup membuka mata hati dan jiwa
    Dan jangan biarkan Srintil menari sendiri…menarilah bersamanya mari kita menari bersama dengan diiringi calung yang merdu karena kita bangsa beradab. Bangsa yang tumbuh dengan bersandar pada keindahan seni, bukan bangsa yang biadab yg melarang dan tidak pernah mengenal keindahan seni

  4. christy Says:

    mas….lengger karo gambyong bedane opo?jelaske yo….eh ya, kok ra dibales2 ki ngopo je….*_^

  5. christy Says:

    oh ya..ngomong2 ttg lekra…..apik kuwi…tapi kok ya ra jero lho…gari sejrah harus segera dibenahi..jangan sampai krisis sejarah terus berkepanjangan. menurutku gak ada yang salah dengan Lekra..bahkan harus dibersihkan….selanjutnya…aku setuju sama mas Surur….tp kok gak da kolom jawabannya yak..matur nuwun…..

  6. putrikrislia Says:

    saya juga tertarik pada lengger..
    tapi yang saya ingin tahu,
    apakah ronggeng itu sekarang diajarkan kepada anak-anak ya di daerah banyumas sana?
    jika iya, tolong juga diliput aja mas.
    kan seru tuh, kecil2 joged ronggeng.


  7. Nek ngomong tentang lengger lebih seru kalo menguak di desa pinggiran perbatasan kabupaten cilacap dan banyumas. nah kalau di sana jelas banyak kisah yang kebanyakan orang tidak tahu, termasuk eyang ahmad tohari.


  8. Arep melu nimbrung yooo
    daeragku cilacap tapi bagian ujung, kecamatan bantarsari ning kono yo akeh sejarah tentang calung banyumasan tapi saiki mandan pudar budaya iku, aku ra reti alesane
    tapi sakniki sing agi mandan rame budaya kuda kepang
    matur thankyou

  9. rianto Says:

    Kanca kance kabeh,liputan pengalaman tentang lengger pancen luar biasa.nek awake dewek menangi jaman geniyen jan kaya ngapa siki ya…kususe sing pada peduli karo kesenian banyumas.
    nek inyong kapet gemiyen pancen seneng nari,walopun inyong wong lanang,ning sing karo jenenge nari aku seneng banget.inyong seneng nari lengger,lulus sekang smki banyumas terus kuliah tari nang stsi solo<siki wis lulus.tapi ya tetep nari terus.malah bagine inyong nari lengger lewih cocok nang awake aku,mungkin merga aku wong banyumas apa ya?
    tekan seprene aku esih kepengin ngerti akeh tenteng lengger,kepengin ngerti sing hurung tek ngerteni.
    mergane penting nggo ngenalna maring wong wong sing ana nang ndunya kiye,bahwa ana kesenian lengger.
    jane inyong kepengin berbagi cerita pengalaman tarine inyong tentang lengger karo rika rika pada,tapi iyong ora pinter nulis.kepriwe jajal…
    siki inyong lagi nang tokiyo jepang,arep pentas lengger juga.judule ritual lengger sintren…jajal goleti nang googel ya…kesuwun.

  10. Gambuh Says:

    Intine sing penting Lengger Never Dies..


  11. Mas… saya sedang riset sedikit mengenai lengger. pasalnya saya sangat butuh referensi buat difilmkan. Kebetulan ada adegan pembuka yang mengharuskan ada pertunjukan lengger. alangkah senangnya saya jika mas bisa berbagai artikel mengenai satu kesenian itu…
    mudah2an kita bisa saling melengkapi…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: